SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Dua warna dalam satu mangkuk menjadi ciri khas Cindua Winata Cendol Ampiang Durian Minang. Cendol berwarna hijau berpadu dengan cendol cokelat, masing-masing dibuat dari bahan berbeda, yakni beras dan sagu. Sajian itu kemudian dilengkapi ampiang ketan yang didatangkan dari Payakumbuh atau Bukittinggi.
Pay Winata, pemilik atau pengelola Cindua Winata Cendol Ampiang Durian Minang, mengatakan cindua merupakan sebutan untuk cendol dalam bahasa Minang.
“Cindua, iya. Cindua tuh bahasa Minangnya cendol tuh Cindua,” kata Pay kepada Satelit News, saat ditemui di Festival Kuliner Serpong (FKS) ke-14 yang digelar Summarecon Mall Serpong (SMS), Jumat (21/8/2026).
Menurut Pay, cindua yang dijualnya berbeda dari cendol pada umumnya karena menggunakan dua jenis cendol sekaligus. Cendol sagu berwarna cokelat, sedangkan cendol beras berwarna hijau.
“Kalau Cindua tuh dia ada dua, Kak. Cendol sagu sama cendol beras. Jadi kombinasi sagu sama beras,” ujarnya.
“Kalau sini kan cendol yang hijau doang tuh, kalau kita ada dua. Yang cokelat sama yang hijau. Jadi yang cokelat cendol sagu, yang hijau cendol beras,” katanya.
Baca Juga: Bupati Tangerang Tinjau SPPG Parahu, Pastikan MBG Higienis
Selain beras dan sagu, sajian tersebut menggunakan ampiang ketan. Bahan ini dibuat dari padi ketan muda dan menjadi salah satu unsur yang membuat cindua tersebut memiliki karakter khas Minang.
“Ampiang ketan tuh dari padi muda, itu yang bahan yang dari kampung “diimpor”. “Diimpor” langsung dari sana (kampung),” kata Pay.
Ampiang tersebut didatangkan dari Payakumbuh atau Bukittinggi karena menurut Pay bahan itu sulit ditemukan di daerah perkotaan.
“Kalau untuk bahan yang ampiang itu diimpor langsung dari Payakumbuh atau Bukittinggi. Hanya ada di daerah sana. Iya, di sini enggak ada. Soalnya kan susah nyari lahan padi ketan di sini, Bang, daerah kota. Jadi padinya, soalnya padi ketan,” ujarnya.
Pay telah berjualan cendol di Tangerang Selatan sejak 2015. Usahanya bermula di kawasan Pamulang, tepatnya di depan Villa Dago.
“Saya jualan di Tangsel, Tangerang Selatan, Bang, dari 2015,” katanya.
Baca Juga: CKG Kabupaten Tangerang Capai 1,876 Juta Warga, Lampaui Target Nasional
“Pamulang, sudah lama Bang, saya dari 2015. Dari pas baru anak satu, sekarang anak saya lima. Enak dagang cendol, banyak anaknya,” ujarnya sambil tertawa.
“Iya, tempat tinggal saya di depan Villa Dago,” imbuhnya.
Bagi Pay, rahasia kenikmatan cindua tidak hanya terletak pada cendol dan ampiang. Gula dan santan juga menjadi bagian penting dari cita rasanya.
Ia memastikan santan yang digunakan merupakan santan asli, bukan susu. Santan dibuat kental agar rasa gurihnya lebih terasa.
“Kalau kita memakai santan asli, enggak pakai susu. Santan kental, pati kelapa makanya yang asli kental bener. Ini maksudnya ya benar-benar yang kental gitu buat santannya, biar terasa gurihnya kan,” katanya.
Sementara untuk proses khusus pembuatannya, Pay memilih menyimpan sebagian rahasia dapur.
“Kalau yang khusus mungkin pembuatannya, Ya “rahasia Tuan Krab” lah kalau katanya kan, “Rahasia dapur Tuan Krab”,” ujarnya dengan senyum.
Tidak semua bahan yang digunakan didatangkan dari Sumatera Barat. Sebagian tersedia di daerah sekitar, sedangkan ampiang menjadi salah satu bahan yang didatangkan dari Payakumbuh atau Bukittinggi.
“Bahannya ada yang sebagian dari sana, ada yang di sini,” kata Pay.
“Dari Payakumbuh. Kayak ampiang, gula, enggak, kalau gulanya enggak harus Payakumbuh. Kalau ampiang aja, ampiang bisa pesan dari Payakumbuh atau Bukittinggi, Bang,” ujarnya.
Pay menjelaskan, ampiang merupakan padi ketan muda.
“Padi muda, padi ketan. Padi ketan muda,” katanya.
Untuk varian durian, Pay juga mempertahankan penggunaan durian Sumatera. Ia tidak memilih durian Monthong untuk bahan olahan karena menurutnya karakter rasanya kurang cocok.
“Kita enggak mau memakai durian monthong, kalau enggak Medan, Padang, Palembang mentok,” katanya.
Menurut Pay, durian Sumatera memiliki rasa manis sekaligus sedikit pahit yang justru cocok dipadukan dengan cendol.
“Monthong kalau buat olahan kurang enak. Monthong langsung dimakan enaknya. Tapi kalau durian Sumatra ini kan dia rasanya kayak manis-manis pahit,” ujarnya.
“Itu pas kalau buat olahan. Monthong kurang sih, Bang,” katanya.
Cindua Winata menawarkan empat varian, yakni Cendol Original, Cendol Ampiang Ketan, Cendol Durian, dan Cendol Spesial Langkok.
“Cendol Original, Cendol Ampiang Ketan, Cendol Durian, Cendol Spesial Langkok,” kata Pay.
Harga di event berkisar Rp12.000 hingga Rp20.000, tergantung varian yang dipilih.
“Kalau kisaran sih beda-beda sih di sini, Bang, harganya. Kan di event kita ya, ya mulai dari harga Rp12.000 sampai Rp20.000 lah,” ujarnya.
Sementara menu yang menjadi best seller adalah Cendol Spesial Langkok. Varian ini menawarkan isian paling lengkap, mulai dari ketan, ampiang, hingga durian.
“Spesial Langkok sih. Itu lengkap pakai semuanya, pakai ketan, pakai ampiang, pakai durian,” katanya.
Keikutsertaan Cindua Winata di FKS tahun ini merupakan pengalaman pertama. Meski begitu, Pay mengatakan respons pengunjung sejak hari pertama cukup menggembirakan. “FKS baru tahun ini,” ujarnya.
Menurut Pay, sejak hari pertama penyelenggaraan, pengunjung sudah menunjukkan minat terhadap sajian yang ditawarkan.
“Target sih kayaknya minggu pertama udah cakep, alhamdulillah. Peminat pengunjung FKS juga alhamdulillah,” katanya.
Tidak sedikit pengunjung yang kembali setelah mencicipi untuk pertama kalinya.
“Yang baru nyobain, alhamdulillah balik lagi, balik lagi, balik lagi. Sampai ulang-ulang sih balik lagi,” ujar Pay.
Tingginya minat itu juga terlihat dari penjualan harian. Pada hari biasa, Cindua Winata dapat menghabiskan 200 hingga 300 cup. Saat akhir pekan, jumlahnya bisa mencapai 500 cup.
“Kalau hari biasa bisa 200 sampai 300 cup, Bang. Kalau weekend bisa 500 cup,” kata Pay.
Diinformasikan, Summarecon Mall Serpong (SMS) kembali menghadirkan gelaran festival kuliner tahunan yang memasuki penyelenggaraan ke-14, Festival Kuliner Serpong (FKS).
Konsisten merayakan kekayaan kuliner Nusantara sejak pertama kali digelar pada 2011, tahun ini FKS mengangkat tema “Satu Jalur Seribu Rasa – Lintas Sumatera” yang menyajikan sajian autentik dari Aceh, Medan, Padang, Palembang, hingga Lampung dalam satu destinasi.
FKS 2026 berlangsung pada 13 Agustus hingga 13 September 2026 di Area Parkir Timur SMS. Gelaran ini turut dilengkapi dengan beragam hiburan dan program menarik bagi pengunjung. (aditya)




















