SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Ketan putih yang sederhana bertemu tapai bercita rasa manis dan asam. Perpaduan inilah yang menjadi daya tarik Lamang Tapai Uni Dewi, kuliner khas Minang yang dirintis Joni sejak 2009 dan kini turut meramaikan Festival Kuliner Serpong (FKS) ke-14.
Bagi Joni, lamang tapai bukan sekadar sajian untuk mengganjal perut. Makanan berbahan ketan putih dan tapai tersebut merupakan warisan keluarga yang sudah dikenalnya sejak kecil.
“Ini dari orang tua, kita dari kecil-kecil sudah disajikan makanan ginian,” kata Joni, pemilik atau pengelola Lamang Tapai Uni Dewi, kepada Satelit News saat ditemui di FKS ke-14 yang digelar Summarecon Mall Serpong (SMS), Jumat (21/8/2026).
Joni mengatakan, usaha Lamang Tapai Uni Dewi mulai dirintis pada 2009. Pada awalnya, usaha tersebut dijalankan secara perorangan dengan menyasar pasar masyarakat Minang.
“Lamang Tapai ya kita merintis 2009,” ujarnya.
“Ya, itu pun kita mainnya perorangan ya, kita cari nih market-nya orang Minang,” katanya.
Baca Juga: Bupati Tangerang Tinjau SPPG Parahu, Pastikan MBG Higienis
Kini, sajian tersebut tidak hanya dinikmati masyarakat Minang. Keikutsertaan Lamang Tapai Uni Dewi dalam FKS membuka kesempatan untuk memperkenalkan kuliner tradisional tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Joni mengatakan, dirinya mendapat informasi mengenai FKS dari sebuah acara di Jakarta. Dari sana, ia bergabung melalui relasi hingga akhirnya ikut ambil bagian dalam festival kuliner tersebut.
“Kemarin dulu kita dapat info dari acara di Jakarta, kita gabung di relasi lah. Kita ikut di sini. Alhamdulillah sih acara di sini bagus,” ujarnya.
Respons pengunjung pun disebut cukup baik. Menurut Joni, masyarakat yang mencicipi lamang tapai memberikan tanggapan positif dan bahkan secara spontan menyukai sajian tersebut.
“Bagus sih tanggapannya, gitu pun spontan langsung suka,” katanya.
Dari sejumlah sajian yang ditawarkan, lamang tapai menjadi salah satu yang paling banyak diminati.
Baca Juga: CKG Kabupaten Tangerang Capai 1,876 Juta Warga, Lampaui Target Nasional
“Best seller di sini sesuai gambar tuh, lamang tapai,” ujar Joni. Untuk harga Lamang dengan beragam variannya, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp120 ribu.
Secara tampilan, sajian ini memang terbilang sederhana. Ketan putih disandingkan dengan tapai. Namun, justru tapai itulah yang memberikan karakter rasa yang kuat.
“Tampilan sih biasa aja sih. Ketan putih itu sama tapai, cuma ya di sini tapai-nya itu yang bikin enak,” katanya.
Ketika ditanya mengenai rasa tapai yang menjadi pembeda, Joni menjawab, “Iya, jadi kan ada asam sama manisnya itu,” jawabnya.
Joni sendiri merupakan orang Minang. Ia menyebut lamang tapai yang dijualnya sebagai makanan Minang yang diwariskan secara turun-temurun. “Turun-temurun ini,” katanya.
Dalam tradisi masyarakat Minang, lamang tapai juga kerap hadir pada momen-momen tertentu, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran atau Bulan Muludan. Namun, di sejumlah daerah, makanan ini juga menjadi bagian dari tradisi dan sajian yang dapat dinikmati dalam keseharian.
“Momen iya, ada semacam masuk Ramadan, mau lebaran. Tapi kalau di daerah-daerah itu sebenarnya ini khas makanan wajib juga, tradisi,” kata Joni.
Di balik sajian sederhana tersebut, ada proses yang juga membutuhkan persiapan. Setelah kembali dari kegiatan festival, Joni mengatakan produksi lamang akan langsung dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.
“Pulang nanti langsung garap,” katanya.
Proses tersebut termasuk menyiapkan lamang untuk dibakar di dalam bambu, sebagaimana metode pengolahan tradisional yang menjadi bagian dari kuliner khas Minang tersebut.
Keikutsertaan Lamang Tapai Uni Dewi menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali kekayaan kuliner tradisional Sumatera dalam FKS ke-14. Melalui sajian sederhana berupa ketan putih dan tapai, Joni membawa cerita tentang Payakumbuh, tradisi keluarga, serta rasa Minang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Diketahui, Summarecon Mall Serpong (SMS) kembali menghadirkan Festival Kuliner Serpong (FKS) yang memasuki penyelenggaraan ke-14. Konsisten merayakan kekayaan kuliner Nusantara sejak pertama kali digelar pada 2011, tahun ini FKS mengangkat tema “Satu Jalur Seribu Rasa – Lintas Sumatera”.
FKS 2026 menyajikan sajian autentik dari Aceh, Medan, Padang, Palembang, hingga Lampung dalam satu destinasi. Festival berlangsung pada 13 Agustus hingga 13 September 2026 di Area Parkir Timur SMS, serta dilengkapi beragam hiburan dan program menarik bagi pengunjung. (aditya)




















