SATELITNEWS.COM, SERANG – Belum usainya musim kemarau yang menyebabkan kekeringan, terus meluas dan menyulitkan para petani. Hingga saat ini, ada sekira 2.998,55 hektare areal persawahan terkena dampak kekeringan.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maemun mengatakan, kerusakan tanaman padi akibat kekeringan di Provinsi Banten Masa Tanam (MT) 2026 mulai terjadi pada akhir Mei sampai dengan 18 September 2026 seluas 2.998,55 hektare.
Dari luasan itu, yang mengalami kerusakan ringan seluas 1.120 hektare, kerusakan sedang 503,5 hektare, kerusakan berat seluas 555,3 hektare dan gagal panen atau puso seluas 819,75 hektare. Selain itu, ada juga lahan yang sudah pulih seluas 565 hektare, panen seluas 1.242 hektare dan terancam 242 hektare.
“Jika tidak ada hujan dan tidak ada penangan kekeringan kemungkinan keadaan puso akan bertambah. Kekeringan terjadi di 69 Kecamatan terdiri dari 196 desa atau kelurahan di empat kabupaten dan satu kota,” katanya,Senin (28/9/2026).
Daerah yang terkena dampak kekeringan itu yakni, Kabupaten Pandeglang, Lebak, Sersng, Tangerang, dan Kota Serang. Di Kabupaten Pandeglang, kekeringan terjadi di 20 kecamatan meliputi 46 desa dengan lahan seluas 867,5 hektare, terdiri dari puso 79 hektare, pulih 67 hektare, dan panen 653 hektare.
“Sedangkan di Kabupaten Lebak terjadi di 13 Kecamatan meliputi 27 desa dengan lahan seluas 347 hektsre. Dari luasa itu, yang sudah pulih 15 hektsre, panen 296 hektare dan terancam 10 hektare,” tambahnya.
Baca Juga: Pansel BUMD Provinsi Banten Dituding Kangkangi Aturan, Pengamat Desak Transparansi
Kemudian di Kabupaten Serang, kekeringan terjadi di 13 kecamatan meliputi 55 desa dengan lahan seluas 1.076 hektare. Dari luasa itu, yang mengalami puso seluas 370 hektare, pulih 390 hektare dan panen 220 hektare.
Sedangkan di Kabupaten Tangerang, kekeringan terjadi di 17 kecamatan meliputi 51 sesa dengan lahan seluas 667,05 hektare. Dari luasa itu, yang mengalami puso 340,75 hektare, pulih 85 hektare, panen 73 hektare dan terancam 230 hektare.
“Terakhir di Kota Serang terjadi di 5 Kecamatan meliputi sembilan kelurahan dengan lahan seluas 41 hektare. Dari luasan itu, yang mengalami puso 20 hektare, pulih 8 hektare, dan terancam 2 hektare,” ujarnya.
Saiful menerangkan, berdasarkan hasil monitoring dan pengamatan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) mengenai penyebab terjadinya kekeringan dan keadaan sumber air di wilayah-wilayah yang terkena kekeringan.
“Jadi karena tidak ada hujan dalam beberapa hari atau minggu, tidak ada sumber air, sebagian ada yang sawah tadah hujan, terdapat sumber air tetapi sudah mulai mengering, dan trdapat sumber air tetapi jauh dari lokasi,” tandasnya.
Saiful mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi kendala di lapangan, yaitu kesulitan dalam pompanisasi koordinasi tingkat lapangan dengan petugas dan instansi terkait akan ditingkatkan untuk mengurangi dampak kekeringan yang terjadi.
Baca Juga: Pemprov Banten Dorong Pelaku Usaha Ketahanan Pangan Lebih Kreatif
Koordinasi dengan perbenihan mengenai stok benih, untuk mengantisipasi lokasi yang terkena Puso, akan terus dilakukan dan sudah ada laporan bantuan benih untuk lokasi yang terkena puso di Kecamatan Jawilan dan Kopo Kabupaten Serang.
Adapun penanganan di musim kemarau yang sudah dilakukan yaitu, program kegiatan irigasi perlombaan dan irigasi perpipaan, memperbaiki irigasi tersier dengan kegiatan RJIT, pengadaan mesin pompa.
“Semua itu dilakuakn dengan melihat kondisi ketersediaan air sungai, memberikan Asuraransi AUTO, memberikan bantuan bibit yang rentan terhadap kekeringan,” tuturnya.
“Sedangkan program akan dilakukan yaitu membuat usulan irigasi dan waduk atau bendungan yang belum tertangani untuk segera diperbaiki, mengoptimalkan penanaman dengan menggunakan metode PM-AAS, dan memetakan kebutuhan alsintan,” tutupnya.
Supono, anggota Poktan Kecamatan Tunjungteja mengatakan, sejak lima bulan terakhir sawahnya tidak bisa digarap karena mengalami kekeringan. Padahal, areal persawahan terdebut dekat dengan sumber air, yaitu Ciujung.
“Udah lima bulan kering, ada Ciujung juga ngambil airnya bagaimana, enggak ada mesin air. Ada irigasi juga kering, enggak berfungsi, padahal udah selesai dibangun,” keluhnya. (adib)


















