SATELITNEWas.COM, TANGERANG—Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Andri S Permana mendorong seluruh elemen masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan dan anomali cuaca yang berpotensi memicu berbagai bencana lingkungan.
Menurut Andri, kesiapsiagaan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Masyarakat, relawan kebencanaan, hingga TNI dan Polri perlu terlibat dalam membangun sistem mitigasi dan tanggap darurat yang terintegrasi.
“Poin paling pentingnya hari ini adalah membangun kesadaran kolektif menjadi kunci. Perubahan cuaca dan anomali cuaca ini bisa terjadi kapan saja, sehingga harus menjadi catatan bagi masyarakat agar masyarakat juga bisa menjadi komponen yang siap siaga menghadapi apa pun risiko perubahan cuaca, iklim dan lainnya,” ujar Andri, Rabu (7/10/2026).
Ia menilai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana dan berbagai kelompok relawan telah memiliki peran penting dalam menyiapkan mitigasi menghadapi potensi bencana.
“Kalau bicara pendekatannya dari struktur pemerintahan, saya percaya kawan-kawan BPBD dibantu oleh relawan-relawan tanggap darurat lainnya yang tergabung dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana sudah punya mitigasi bencana,” katanya.
Andri menyebut Palang Merah Indonesia (PMI), Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pramuka, serta kelompok relawan lainnya dapat memperkuat kesiapsiagaan di tingkat masyarakat.
“Teman-teman PMI, Tagana, Pramuka, saya yakin akan bisa bahu membahu bersama Pemerintah Kota Tangerang,” ujarnya.
Baca Juga: Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang Dorong Pengawasan MBG Diperkuat
Ia menambahkan, pemerintah daerah melalui BPBD pada prinsipnya telah memiliki langkah mitigasi dan rencana kontingensi untuk menghadapi potensi bencana. Karena itu, menurut Andri, tantangan berikutnya adalah memastikan rencana tersebut dapat diterapkan secara efektif di lapangan.
“Saya yakin betul bahwa pemerintah daerah melalui BPBD sudah mempunyai mitigasi kebencanaan dan kontingensi bencananya juga sudah sama-sama dibuat. Tinggal kita menjalankan apa yang menjadi kebutuhan,” tuturnya.
Andri juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, termasuk dengan TNI, Polri, dan instansi vertikal lainnya. Kolaborasi tersebut dinilai diperlukan agar setiap unsur memiliki pola dan sistem tanggap darurat yang sama ketika bencana terjadi.
“Yang paling penting berikutnya tidak hanya berbicara masyarakat dan pemerintah. Instansi vertikal lainnya, TNI, Polri juga pasti bisa membantu bahu membahu untuk sama-sama kita bisa mempunyai sistem dan pola tanggap darurat yang sama-sama akan dijalankan apabila terjadi situasi terkait kebencanaan di kota kita,” pungkasnya. (made)




















