SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Udara pagi di Lemo Hotel Serpong terasa lebih hangat dari biasanya ketika ratusan peserta mulai memenuhi ruangan. Kepala desa, aparat penegak hukum, para penggiat pendidikan antikorupsi, hingga pejabat OPD, total 213 orang, berkumpul dengan satu semangat memperkuat integritas di Kabupaten Tangerang.
Di momentum Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) Tingkat Kabupaten Tangerang Tahun 2025 ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang meneguhkan langkah besar: memantapkan diri sebagai daerah percontohan integritas.
Dengan tema “Satukan Aksi Basmi Korupsi”, Pemkab Tangerang menunjukkan keseriusan dalam membangun pemerintahan yang bersih, transparan, dan berintegritas. Komitmen itu bukan slogan, melainkan arah pembangunan yang ingin terus ditegakkan.
Dari panggung utama, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid membuka kegiatan dengan pesan kuat. Ia menegaskan bahwa Hakordia bukan peringatan kalender belaka, melainkan momen dunia untuk mengerahkan kekuatan bersama melawan musuh global bernama korupsi.
Ia kembali mengingatkan sejarah Hakordia, yang lahir dari Konvensi PBB Melawan Korupsi (UNCAC) di Merida, Meksiko, tahun 2003—dan komitmen Indonesia setelah meratifikasi UNCAC pada 2006.
“Sejak itu, setiap tahun kita berdiri di sini bukan hanya untuk seremonial, tetapi memperbarui janji kita kepada ibu pertiwi bahwa Indonesia harus bebas dari korupsi,” seru Bupati Maesyal.
Baca Juga: CKG Kabupaten Tangerang Capai 1,876 Juta Warga, Lampaui Target Nasional
Menurutnya, Kabupaten Tangerang juga telah memasuki era baru antikorupsi, bergerak dari kegiatan simbolis menuju transformasi sistemik. Ia merinci berbagai capaian, mulai dari meningkatnya skor Monitoring, Controlling, Surveillance for Prevention (MSCP) KPK, kolaborasi erat dengan Kejaksaan dan Kepolisian, hingga digitalisasi layanan publik yang mempersempit celah pungli.
Penguatan pengawasan internal juga terus digencarkan melalui optimalisasi SPIP (Sistem Pengendalian Intern Pemerintah) dan perluasan pembangunan Zona Integritas di berbagai perangkat daerah.
“Inilah evolusi semangat antikorupsi kita: dari seremoni menjadi substansi, dari wacana menjadi budaya kerja,” tegasnya.
Sementara itu, Inspektur Kabupaten Tangerang Tini Wartini menyampaikan bahwa Harkodia digelar untuk membangun kesadaran kolektif mengenai bahaya korupsi sekaligus memperkuat komitmen seluruh elemen, pemerintah, aparat penegak hukum, sektor swasta, hingga masyarakat untuk menanamkan budaya etika dan akuntabilitas.
Ia menegaskan peringatan ini tidak hanya menyasar ASN, tetapi juga dunia pendidikan dan masyarakat umum agar lingkungan sosial yang menolak korupsi bisa benar-benar tercipta.
Selama November–Desember, rangkaian Harkodia 2025 di Kabupaten Tangerang juga diisi berbagai kegiatan edukatif: Lomba Karya Tulis & Poster Digital, kampanye publik di radio, hingga talkshow puncak dengan tema “Satukan Aksi Basmi Korupsi untuk Tangerang Semakin Gemilang.”
Pada puncak acara, Pemkab Tangerang memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen menjaga integritas. Desa Legok (Kecamatan Legok) ditetapkan sebagai Desa Percontohan Antikorupsi oleh Gubernur Banten.
BLUD Puskesmas Tigaraksa berhasil memperoleh Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dari KemenPAN-RB, sementara RSUD Balaraja mendapat apresiasi karena konsisten membangun Zona Integritas menuju WBK dan WBBM.
Baca Juga: Sempat Diamuk Warga, Dua Terduga Pelaku Curanmor di Cikupa Diamankan Polisi
Bupati Maesyal kembali menegaskan, bahwa Harkodia 2025 adalah momentum penting untuk konsolidasi komitmen bersama.
“Mari kita jadikan Kabupaten Tangerang sebagai contoh daerah yang berintegritas, berinovasi, dan berkomitmen terhadap pemberantasan korupsi. Dari Kabupaten Tangerang untuk Indonesia berintegritas,” katanya.
Peringatan yang berlangsung pada 11 Desember itu menutup rangkaian kegiatan antikorupsi besar-besaran di Kabupaten Tangerang, sebuah perjalanan yang tidak hanya tentang memperingati, tetapi tentang membangun budaya integritas yang semakin mengakar. (aditya)




















