SATELITNEWS.COM, TIGARAKSA – Berbagai informasi yang berkembang terkait pengelolaan lahan jagung Program Ketahanan Pangan di Desa Bantar Panjang, Kecamatan Tigaraksa, akhirnya mendapat penjelasan menyeluruh dari pihak-pihak terkait. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang bersama pengelola lahan menegaskan, kondisi di lapangan masih dalam tahap proses dan tidak seperti persepsi negatif yang beredar di ruang publik.
Penjelasan tersebut disampaikan untuk memberikan gambaran faktual mengenai progres pengelolaan lahan sekaligus meluruskan anggapan bahwa lahan jagung tersebut terbengkalai atau mengalami gagal panen.
Kepala Bidang Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian DPKP Kabupaten Tangerang, Bambang Purnama, menjelaskan bahwa tanaman jagung di lokasi tersebut masih dalam tahap pertumbuhan dan belum memasuki fase panen secara keseluruhan.
“Lahan jagung di sana tidak gagal panen dan masih on progres. Faktor cuaca ekstrem serta karakteristik tanah memang dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, dan itu merupakan hal yang alami dalam proses pertanian,” ujar Bambang, Rabu (31/12/2025).
Ia menambahkan, seluruh tahapan pengolahan lahan telah dilakukan secara maksimal dan sistematis dengan memperhatikan karakteristik unsur tanah. Setiap proses penanaman, kata dia, dilakukan secara selektif untuk menyesuaikan kondisi lahan dan cuaca.
Pandangan serupa disampaikan Staf Bidang Sarana Pertanian DPKP Kabupaten Tangerang, Sjahrir. Menurutnya, dalam praktik pertanian, hasil panen tanpa kendala hampir tidak pernah terjadi.
Baca Juga: Sempat Diamuk Warga, Dua Terduga Pelaku Curanmor di Cikupa Diamankan Polisi
“Untuk mencapai panen 100 persen tanpa hambatan itu sangat jarang. Kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman,” ucapnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Riswan Nurjaman, menilai pemberitaan yang menyebut lahan tersebut terbengkalai tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
“Dalam dunia pertanian, terutama pada lahan dengan cuaca ekstrem, dinamika pertumbuhan tanaman adalah hal wajar. Namun kondisi di sini jauh dari gambaran gagal panen. Lahan diurus dengan baik oleh pihak ketiga yang berpengalaman di bidang pertanian,” kata Riswan.
Dari sisi pengelola, Direktur Utama PT MSD Corpora, Made Suardika Dwipayana, menjelaskan bahwa keberadaan rumput liar di sekitar tanaman bukan bentuk pembiaran, melainkan bagian dari strategi pengelolaan lahan.
“Rumput sengaja kami pertahankan untuk menjaga struktur tanah agar tidak mudah tergerus air hujan. Setelah panen, vegetasi tersebut akan diolah kembali menggunakan dekomposer sebagai pupuk alami,” jelas Made.
Ia menambahkan, rumput di sekitar tanaman juga akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak oleh peternak binaan di sekitar lokasi. Seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pembukaan lahan, penanaman bibit pada Oktober, hingga pemeliharaan rutin, dilakukan secara terencana, termasuk sistem pemupukan yang disesuaikan dengan karakteristik tanah dan kondisi cuaca.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
“Dengan pola tanam bertahap, panen diharapkan dapat berlangsung secara berkala,” ujarnya.
Made juga menegaskan, seluruh proses kegiatan, mulai dari penanaman, pemupukan, hingga pemeliharaan, dibiayai oleh pihak ketiga sebagai mitra kerja sama dengan Polri, serta melibatkan masyarakat Desa Bantar Panjang.
Di bagian terpisah, Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah menyampaikan bahwa sebagian lahan jagung di lokasi tersebut telah memasuki fase panen dan direncanakan akan dipanen pada Januari 2026. Penanaman dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari skema jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dengan penjelasan dari berbagai pihak tersebut, informasi yang beredar mengenai kondisi lahan ketahanan pangan di Desa Bantar Panjang dinilai tidak mencerminkan realitas dan proses yang sedang berjalan di lapangan.
Meski demikian, seluruh pihak mengapresiasi kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan program. Setiap masukan publik akan dijadikan bahan evaluasi agar Program Ketahanan Pangan dapat berjalan lebih baik, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebelumnya, diduga tidak terawat, tanaman jagung seluas kurang lebih 50 hektare di Bantar Panjang, Kecamatan Tigaraksa yang dikelola oleh Polresta Tangerang, Polda Banten, dan PT MSD Corpora Internasional terancam gagal panen, Selasa (30/12). Mayoritas, jagung yang ditanaman mengalami kebusukan dan kering, padahal program ketahanan pangan nasional itu sempat diresmikan oleh Wakil Presiden Raka Buming Raka dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada (8/10) lalu.
Aktivis Tangerang, Gandi Sadewa mengatakan, bahwa program nasional swasembada pangan yang digaungkan oleh Pemerintah Pusat tidak sebaik dan seindah yang diceritakan, ketika seremonial itu dilakukan. Menurutnya, fakta yang terjadi lahan jagung di Desa Bantar Panjang, Kecamatan Tigaraksa, yang sebelumnya diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia dan Kapolri, justru kini terancam gagal panen. Dikarenakan, sebagian besar tanaman jangung, mengalami kebusukan dan kekeringan. (aditya)




















