SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Curah hujan tinggi yang mengguyur sejak Desember 2025 hingga Januari 2026 menyebabkan sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang terdampak banjir. Beberapa kecamatan, khususnya kawasan permukiman di Kosambi, Pakuhaji, dan Jayanti, sempat terendam air dengan ketinggian cukup signifikan.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya penyakit leptospirosis, yang kerap menyerang warga di wilayah pascabanjir.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan meski sebagian besar wilayah terdampak kini mulai mengalami penurunan debit air dan banjir berangsur surut, risiko gangguan kesehatan tetap harus diantisipasi, terutama leptospirosis.
“Yang menjadi masalah dan paling kita khawatirkan saat banjir adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini bisa masuk ke tubuh melalui luka, terutama di bagian kaki,” kata Hendra Tarmizi kepada Satelit News, Rabu (21/1).
Ia menegaskan, kewaspadaan perlu ditingkatkan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Tangerang, khususnya warga di wilayah yang terdampak banjir seperti Dadap, Kecamatan Kosambi, Gaga Pakuhaji, serta Desa Cikande, Kecamatan Jayanti.
“Ketika banjir mulai mereda, kebersihan lingkungan harus segera dilakukan untuk mencegah munculnya leptospirosis,” ujarnya.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
Hendra menjelaskan, leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi, seperti tikus, anjing, dan babi. Bakteri tersebut dapat mencemari air genangan dan tanah, sehingga berisiko masuk ke tubuh manusia melalui kontak langsung, terutama jika terdapat luka terbuka.
“Penyakit ini berasal dari kotoran atau kencing hewan seperti tikus. Saat banjir, air yang tercemar bisa mengenai kaki atau bagian tubuh lain yang terluka, dan bakteri masuk melalui luka tersebut,” jelasnya.
Selain leptospirosis, masyarakat juga diminta mewaspadai penyakit lain yang kerap muncul pascabanjir, seperti penyakit kulit dan demam berdarah dengue (DBD). Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kabupaten Tangerang telah melakukan monitoring dan pemeriksaan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak.
“Alhamdulillah, hingga saat ini belum ditemukan kasus positif penyakit kulit, leptospirosis, maupun DBD pada warga yang terdampak banjir,” ungkapnya.
Sebelumnya, Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyampaikan bahwa sebanyak 24 kecamatan dan 119 desa/kelurahan di Kabupaten Tangerang sempat terdampak banjir akibat tingginya curah hujan serta meluapnya aliran sungai ke permukiman warga, khususnya di kawasan Taman Cikande, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti. Saat ini, sebagian besar wilayah tersebut telah surut, meski beberapa titik masih tergenang air. (alfian/aditya)




















