SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang belum sepenuhnya surut. Hingga Minggu (25/1), tercatat sekitar 2.000 kepala keluarga (KK) di enam kecamatan masih terdampak banjir akibat hujan deras dan meluapnya Sungai Cidurian serta Sungai Cimanceuri sejak Jumat (23/1) lalu. Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Banten Andra Soni pun turun tangan untuk penanganan banjir jangka pendek dan jangka panjang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan hujan dengan intensitas tinggi yang disertai luapan sungai serta tersumbatnya drainase di sejumlah titik menyebabkan sebagian wilayah Kabupaten Tangerang terendam banjir. Meski demikian, sejak dua hari terakhir hujan mulai berhenti dan cuaca cerah, sejumlah wilayah sudah menunjukkan tanda-tanda surut.
“Beberapa wilayah sudah mulai surut, seperti Lemo Teluknaga, wilayah Gelam di Kecamatan Pasar Kemis, dan beberapa titik di Kecamatan Tigaraksa,” kata Achmad Taufik kepada Satelit News, Minggu (25/1).
Menurut Taufik, banjir sempat surut, namun kembali melanda sejak Jumat lalu. Kini, kondisi air di beberapa wilayah perlahan menurun.
“Alhamdulillah, sebagian wilayah mulai surut, seperti Pasar Kemis, Teluknaga, dan beberapa wilayah Tigaraksa,” ujarnya.
Meski cuaca cerah dalam dua hari terakhir, Taufik menyebut masih ada enam kecamatan yang terdampak banjir. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Jayanti, tepatnya di Desa Cikande dan Perumahan Taman Cikande; Kecamatan Tigaraksa di Desa Pasir Bolang dan Cisereh; Kecamatan Kronjo di Pagedangan Ilir, Pagedangan Udik, dan Cirumpak; Kecamatan Gunung Kaler di Desa Kandawati dan Desa Kedung; Kecamatan Kresek di Desa Patrasana dan Desa Pasir Ampo; serta Kecamatan Mekar Baru di Desa Mekar Baru.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
“Total warga terdampak saat ini kurang lebih 2.000 KK. Sebagian mengungsi di pos pengungsian, ada yang ke rumah saudara atau kerabat, dan ada juga yang memilih bertahan di rumah,” jelasnya.
Ketinggian air di enam kecamatan tersebut bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga mencapai satu meter. Wilayah terparah tercatat di Perumahan Taman Cikande, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti, serta Desa Cisereh dan Pasir Bolang di Kecamatan Tigaraksa.
“Selain karena curah hujan tinggi, wilayah-wilayah ini terdampak akibat luapan Sungai Cidurian dan Cimanceuri,” kata Taufik.
Ia menambahkan, bantuan logistik terus mengalir kepada para korban banjir. Dalam penanganan bencana ini, BPBD Kabupaten Tangerang berkolaborasi dengan berbagai instansi dan elemen masyarakat, di antaranya PMI, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, TNI, Polri, PLTU Lontar, hingga bantuan dari masyarakat secara individu.
“Alhamdulillah bantuan terus berdatangan, baik dari instansi pemerintah daerah, TNI, Polri, PMI, PLTU Lontar, PIK 2, maupun bantuan perorangan,” ujarnya.
Taufik berharap banjir di Kabupaten Tangerang dapat segera surut secara total agar masyarakat bisa kembali beraktivitas normal. Ia juga menyoroti keterbatasan tenaga relawan yang sudah bekerja sejak awal kejadian.
Baca Juga: Bupati Tangerang: Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru
“Semoga banjir segera surut. Relawan juga sudah beraksi sejak Senin (11/1) lalu, seharusnya mulai selesai, namun banjir kembali datang,” ucapnya.
Di tempat terpisah, warga Kampung Jambu, Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, Muhammad Ropiki, mengatakan akses menuju wilayah Olek dan Kampung Bidara terputus total akibat banjir. Meski demikian, bantuan logistik dan perahu karet sudah tersedia.
“Akses Kampung Jambu dan Bidara menuju Olek terputus karena banjir. Warga masih banyak yang mengungsi, tapi Alhamdulillah bantuan sudah turun,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menegaskan akan segera melakukan koordinasi lintas instansi dan lembaga untuk membahas penanganan banjir di wilayah Tangerang Raya, khususnya Kabupaten Tangerang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Insya Allah hari Senin (26/1) kita akan melakukan rapat koordinasi. Kita bahas hasil tinjauan lapangan terkait bencana ini,” ujar Andra Soni.
Ia menjelaskan, koordinasi tersebut dilakukan sebagai langkah cepat agar dampak banjir yang dirasakan masyarakat dapat segera teratasi.
“Salah satu masalah utama yang harus kita atasi adalah normalisasi sungai. Karena kewenangan sungai berada di Kabupaten dan Kota Tangerang, maka akan kita libatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS),” jelasnya.
Dalam rapat tersebut, lanjut Andra Soni, juga akan dibahas pembagian pembiayaan atau cost sharing antara pemerintah kabupaten/kota, provinsi, hingga pemerintah pusat.
“Penanganan harus dilakukan secara komprehensif, dari hulu sampai hilir. Tidak bisa parsial,” tuturnya.
Ia menekankan, penanganan jangka panjang tidak hanya memindahkan aliran air, tetapi memastikan air mengalir pada jalur yang semestinya, termasuk penertiban bangunan di bantaran sungai.
“Permasalahan banjir di Tangerang Raya ini juga berkaitan dengan pembangunan. Karena itu, kami akan melakukan evaluasi bersama, termasuk terkait perizinan,” pungkasnya. (alfian/aditya)




















