SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Upaya pencegahan penyebaran virus Nipah terus diperkuat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Mengantisipasi potensi penularan virus zoonosis yang kerap ditularkan melalui hewan kelelawar, Dinkes mulai meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan (faskes) di seluruh puskesmas dan rumah sakit umum daerah (RSUD).
Selain penguatan faskes, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak mengonsumsi buah yang diduga bekas gigitan kelelawar serta menghindari interaksi langsung dengan hewan yang berpotensi menularkan virus Nipah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menjelaskan bahwa virus Nipah (NiV) merupakan virus zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini termasuk dalam genus Henipavirus dan keluarga Paramyxoviridae, dengan reservoir alami utama berupa kelelawar buah dari genus Pteropus atau yang dikenal sebagai flying fox.
“Kelelawar ini merupakan reservoir alami virus Nipah, di mana mereka membawa virus yang dapat menularkan kepada hewan maupun manusia,” kata Hendra kepada Satelit News, Minggu (1/2/2026).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), lanjut Hendra, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, mulai dari infeksi saluran pernapasan hingga ensefalitis atau peradangan otak yang berpotensi mematikan. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk virus Nipah, sehingga langkah pencegahan menjadi kunci utama.
“Hal utama yang harus dilakukan masyarakat saat ini adalah menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Pastikan mengonsumsi buah yang bersih dan hindari kontak langsung dengan hewan liar yang berpotensi menularkan virus Nipah,” ujarnya.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
Hendra juga memaparkan sejumlah gejala yang dapat muncul pada manusia yang terinfeksi virus Nipah, antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, dan sakit tenggorokan. Pada kondisi lanjutan, gejala dapat berkembang menjadi batuk, sesak napas, pneumonia atipikal, hingga ensefalitis yang menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran, bahkan koma dalam waktu 24–48 jam.
“Jika mengalami gejala awal seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan muntah, segera periksakan diri ke dokter, baik di puskesmas maupun rumah sakit,” tegasnya.
Meski demikian, Hendra memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tangerang. Namun, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menyiapkan fasilitas kesehatan, terutama rumah sakit rujukan, untuk menghadapi kemungkinan temuan kasus.
“Kesiapsiagaan sudah kami persiapkan. Fasilitas kesehatan didukung ruang isolasi serta tenaga perawat yang sebelumnya telah bertugas saat penanganan pandemi COVID-19,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik, namun tetap waspada terhadap potensi penyakit zoonosis tersebut.
Di tempat yang sama, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Sri Indriyani, menambahkan bahwa seluruh puskesmas juga telah diarahkan untuk melakukan deteksi dini serta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat.
Baca Juga: Bupati Tangerang: Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru
“Kami terus melakukan sosialisasi melalui puskesmas agar masyarakat lebih waspada terhadap virus Nipah, dengan memberikan edukasi mengenai penerapan pola hidup bersih dan sehat,” katanya. (alfian/aditya)




















