SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Di balik peran strategisnya menyiapkan tenaga kerja siap pakai, lulusan SMK justru masih tercatat sebagai penyumbang pengangguran. Fenomena ini disorot langsung oleh Kepala Seksi SMK dan SKh Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Wilayah Kabupaten Tangerang, Maksis Sakhabi.
Sorotan itu mengemuka saat kunjungan kerja Anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten ke LPK & SMK Gyokai Indonesia Kompeten di Cisoka, Kamis (30/4/2026). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka koordinasi pelatihan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Di tengah kunjungan itu, Maksis mengungkapkan bahwa akar persoalan terletak pada belum selarasnya dunia pendidikan dengan kebutuhan industri.
“Nah, apa yang dijalankan di SMK GKY ini sudah menerapkan sistem penyelarasan antara kurikulum yang dijalankan dengan ketersesuaian kebutuhan yang ada di industri. Ini yang ingin kami dorong dari pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan, untuk membuat SMK-SMK memiliki keselarasan antara pembelajaran di satuan pendidikan dengan kebutuhan industri,” ujarnya kepada satelitnews.com, saat memberikan keterangan usai mendampingi kunjungan kerja anggota Komisi 5 DPRD Banten
Menurutnya, ketidaksesuaian tersebut menjadi alasan utama lulusan SMK belum terserap optimal di dunia kerja.
“Permasalahan pengangguran ini, kenapa SMK masih menjadi penyumbang pengangguran? Karena masih kita dapati ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan ataupun jurusan di sekolah dengan kebutuhan industri, ini belum match. Maka yang disebut dengan link and match ini adalah cita-cita SMK itu sendiri, untuk mewujudkan lulusan-lulusan SMK yang kompeten,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Tangerang Dorong Bahasa Sunda, Jawa, dan Betawi Jadi Warisan Generasi Muda
Ia menilai, model pendidikan yang diterapkan di SMK GKY di Kabupaten Tangerang bisa menjadi contoh konkret bagi pengembangan SMK ke depan.
“SMK GKY yang ada di Kabupaten Tangerang ini adalah prototipe untuk kita jadikan penyebarluasan dan penyamarataan upaya pemerintah dalam melahirkan SMK-SMK yang berkompeten,” katanya.
Menjawab pertanyaan terkait kemungkinan perubahan kurikulum, Maksis menegaskan bahwa prinsip utama pendidikan SMK adalah adaptif terhadap kebutuhan industri.
“Kalau SMK, kurikulumnya harus menyelaraskan dengan kebutuhan industri. Itu cirinya. Karena keluaran alumni SMK kita dorong agar bisa digunakan oleh industri-industri. Nah, itulah baru dikatakan link and match,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meski tetap mengacu pada kurikulum nasional, SMK dituntut untuk berinovasi melalui kolaborasi dengan dunia usaha.
“Siap pakai. Makanya kurikulum kita tetap akan mengacu, mengikuti, dan patuh terhadap kurikulum nasional, tetapi SMK harus punya basis inovasi dengan bekerja sama dengan industri-industri yang ada,” pungkasnya.
Baca Juga: Polsek Pagedangan Ungkap Kasus Kepemilikan Senjata Tajam Untuk Tawuran
Pernyataan ini menegaskan bahwa tantangan utama pendidikan vokasi bukan sekadar menghasilkan lulusan, melainkan memastikan mereka benar-benar dibutuhkan dan terserap di dunia kerja. (aditya)




















