SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Suasana mencekam menyelimuti RW 05 Kampung Ciputat, Kecamatan Ciputat Kota Tangerang Selatan pada Minggu (2/8) pukul 03.00 Wib ketika sekelompok orang bersenjata tajam merangsek ke permukiman warga. Kelompok yang mengenakan masker itu membacok, menyiramkan air keras hingga melempar bom molotov ke arah warga.
Aksi penyerangan yang diduga dilakukan sekelompok remaja itu sedikitnya menyebabkan lima warga menjadi korban. Korban mengalami luka bacok, luka akibat siraman cairan air keras hingga luka bakar terkena bom molotov.
Ketua RW 05, Kampung Ciputat, Supriadi menuturkan peristiwa yang berlangsung sejak sekitar pukul 03.00 WIB hingga menjelang subuh itu membuat warga panik. Selain melukai sejumlah warga, para pelaku juga disebut merusak gapura kampung dan sempat melempar bom molotov hingga nyaris membakar motor dan rumah.
Supriadi mengatakan ketegangan sebenarnya sudah mulai terasa sejak malam sebelumnya. Saat itu, sekelompok pemuda bermotor sempat memanaskan situasi di depan gang, namun berhasil dibubarkan tanpa bentrokan.
“Warga laporannya pak RW itu ada anak motor manasin depan gang, saya bilang ngga usah ditimpalin. Akhirnya mereka pergi,” ujarnya saat dimintai keterangan di kediamannya, kemarin.
Namun, berselang satu hari, kelompok itu kembali datang dan melakukan penyerangan menggunakan senjata. Menurut Supriadi, para pelaku yang mayoritas masih berusia remaja mengenakan helm dan masker sehingga sulit dikenali. Mereka berteriak-teriak sambil menyerang ke dalam permukiman warga.
Baca Juga: Layanan SIM Keliling Tangerang Selatan Sabtu 5 September 2026, Cek di Sini Jadwalnya
Ia mengaku sempat berusaha melerai bentrokan. Bahkan salah satu pelaku mengarahkan celurit ke lehernya saat dirinya meminta mereka membuka helm dan masker.
“Saya keluar itu sudah pada di dalam gang bawa celurit. Saya maju, saya omelin. Itu celurit sudah menempel di leher. Saya tantang. Saya suruh buka helm buka masker. Mereka mundur tidak berani, karena mereka kenal saya mungkin,” ucapnya.
Situasi semakin mencekam ketika para pelaku melempar bom molotov dan diduga menyiram salah seorang warga menggunakan cairan air keras. Akibat penyerangan tersebut, sedikitnya lima warga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan berbeda.
Salah seorang korban berinisial R mengalami luka bacok di bagian punggung. Korban lain, D mengalami luka paling serius dengan bacokan di kepala, punggung, dan tangan hingga harus menjalani 16 jahitan di RSUD. Sementara D mengalami luka pada kaki akibat siraman cairan yang diduga air keras. Lalu W mengalami luka bakar karena terkena bom molotov. Selain itu, seorang warga lainnya juga mengalami luka bacok di kaki saat berusaha menolong korban.
“Yang saya tahu ada 4 orang warga saya menjadi korban, dan satu lagi kebacok di kaki sedikit saat mau menolong,” bebernya.
Di tengah kepanikan warga, Supriadi berhasil mengamankan seorang terduga pelaku yang diduga ikut melakukan penyerangan. Pelaku kemudian dikunci di dalam rumahnya sambil menunggu polisi datang.
Baca Juga: Belasan Warga Sesak Nafas Akibat Kebakaran Sampah di Tangsel, Sekolah Diliburkan
“Polisi datang karena ada satu yang saya tahan. Saya minta polisi kemari, saya amankan salah satu yang menyerang. Saya tahan. Kalau saya lepas keluar dia bisa mati karena di luar rumah saya sudah ramai banget warga. Saya kunci pintu rumah,” jelasnya.
“Saya telpon juga orang tuanya, saya minta kemari sama polisi juga. Akhirnya banyak yang jagain polisi, lalu diperiksa dibawa,” sambung Supriadi.
Tak lama kemudian petugas kepolisian tiba di lokasi dan membawa pelaku untuk diperiksa. Hingga kini, satu warganya masih dalam perawatan di rumah sakit lantaran harus menjalani perawatan intensif.
“Dari jam tiga pagi sampai mau azan Subuh masih itu, sampai setengah enam pagi tadi,” ucapnya.
Pasca-kejadian, Supriadi mengimbau seluruh warga, khususnya para pemuda, agar tidak melakukan aksi balasan dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada pihak kepolisian.
“Saya imbau warga terutama pemuda jangan bertindak apa-apa dulu, karena sudah kami serahkan ke kepolisian. Jangan sampai kita dendam, nanti tidak akan beres, mereka hampir bakar rumah, lempar bom molotov,” ungkapnya.
Sementara itu, Salman, pemilik warung di Jalan Ki Hajar Dewantara yang berada dekat gang kampung tersebut turut menjadi korban penyerangan itu. Setidaknya empat botol berisi bensin Pertamax diambil oleh para pelaku yang diduga untuk melakukan penyerangan menggunakan bom molotov.
“Saya sampai tidak berani keluar warung, bensin saya empat botol diambil sama mereka. Saya biarin dari pada saya yang kena. Di dalam gang mereka masuk merusak gapura. Polisi datang sudah ada korban warga belakang, bapak-bapak,” sebutnya.
Ia mengaku hanya bisa bertahan di dalam warung selama penyerangan berlangsung karena takut menjadi sasaran pelaku. “Ngeri apalagi warung ini ngga ada rolling door-nya,” pungkasnya.
Dalam rekaman video yang diunggah sejumlah media sosial (medsos) Instagram dan rekaman video yang diterima, tergambarkan suasana mencekam saat para pelaku merangsek masuk ke dalam permukiman. Sembari membawa senjata tajam, mereka melakukan penyerangan.
Nampak para pelaku membanting benda yang diduga bom molotov ke arah bawah hingga menimbulkan ledakan dan kobaran api. Jeritan histeris pun terdengar yang berasal dari warga. (eko)
























