SATELITNEWS.COM, SERANG – Program pemagangan bekerja ke Jepang yang digagas Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI di Provinsi Banten, minim peminat. Dari kuota tidak terbatas yang disediakan, hanya ada sekira 73 orang yang serius mendaftar dan mengikuti seleksi.
Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang Ady Nugroho mengakui sedikitnya minat masyarakat Banten dalam mengikuti program pemagangan kerja ke negara Jepang.
Padahal, kata dia, program ke negeri sakura tersebut disediakan secara gratis bagi warga Banten guna menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah tersebut.
“Cuma memang masyarakat Banten ini diberikan seperti program pemagangan Jepang gratis dari kuota tidak terbatas, yang daftar cuma 73. Untuk gratis ke Jepang,” katanya, Minggu (6/9)/2026).
Dia mengakui bingung dengan hasil tersebut, karena pihaknya sejak jauh-jauh hari telah menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui berbagai media sosial, termasuk berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota.
“Di IG (instagram) kami sudah diwara-warakan (umumkan, red) lah bahasanya. Bahkan kami sudah komunikasi dengan beberapa kepala daerah. Yang daftar 300, 500. Daftar ulang tinggal sekian-sekian. Ada tes kemarin itu cuma 73,” ujarnya.
Baca Juga: Pantau PGA GAK di Pasauran, Gubernur Andra Tegaskan Hal Ini
Dia mengklaim, pihaknya juga telah berkoordinasi langsung dengan Direktorat Bina Lattas (LAFKOT) untuk memastikan alokasi kuota program magang ke Japan tetap diprioritaskan bagi masyarakat di kabupaten/kota di Provinsi Banten.
“Saya merasa karena saya minta kepada Direktur LAFKOT untuk program magang Japan ini untuk memberikan kuota lebih lah untuk Provinsi Banten,” ujarnya lagi.
Dia mengaku, mayoritas anggaran Kemnaker yang dialokasikan melalui BBPVP Serang sengaja diprioritaskan untuk Provinsi Banten. Alasannya karena angka TPT daerah ini masih tergolong tinggi di tingkat nasional.
“Jadi sekitar hitungan saya 60 persen anggaran Kemnaker yang ada di Serang itu untuk Provinsi Banten. Sisanya baru Lampung, Sumsel,” tandasnya.
Selain program pemagangan ke Jepang, kata dia, BBPVP Serang juga membuka berbagai program pelatihan vokasi di sektor industri, perikanan, pertanian, hingga peluang kerja ke negara lain seperti Jerman.
“BBPVP Serang juga memiliki jejaring dengan dunia industri melalui Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri (FKLPID). Menurutnya, kebutuhan industri menjadi salah satu dasar dalam menentukan jenis pelatihan yang diberikan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Baca Juga: Waspada Sebaran Abu Vulkanik GAK, Masyarakat Diminta Gunakan Masker
Dia menerangkan, pihaknya menggunakan sistem pendekatan Demand Driven yakni strategi bisnis dan rantai pasokan di mana digerakkan oleh permintaan nyata dari pelanggan secara real-time dan ukan sekadar mengandalkan perkiraan atau ramalan masa lalu.
Oleh karena itu, setiap pelatihan diharapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, bukan sekadar memberikan keterampilan tanpa memperhitungkan peluang penyerapan tenaga kerja.
“Berdasarkan data yang dimiliki BBPVP Serang, tingkat kebekerjaan peserta pelatihan saat ini berada di kisaran 40 hingga 50 persen. Setiap lowongan itu kita tarik dulu, baru kita latih. Nah, sesuai arahan Pak Menteri, demand-driven,” tukasnya.
Sementara, Tiar Zulianah warga Kabupaten Serang mengaku tidak mengetahui adanya program tersebut. Padahal, kata dia, banyak rekan sebayanya membutuhkan pekerjaan dan siap bekerja.
“Enggak tahu, kalau tahu pasti ikut mendaftar. Sekarang ini kam nyari kerja sulit, kalau ada peluang dan kesempatan pasti kota ambil,” tuturnya.
Muhammad Bagus warga lainnya mengatakan hal senada. Kata dia, sosialisasi tersebut seharusnya dilakukan secara massif dan maksimal hingga menjangkau semua daerah. Dengan begitu, akan ada banyak warga Banten yang ikut mendaftar.
“Kalau memang ada sosialisasinya ya jangan cuma di Medsos saja, harus benar-benar sampai ke masyarakat,” imbuhnya. (adib)
























