SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Semangat tanamkan kontinuitas berita. Itulah yang bisa kami simpulkan. Saat menulis naskah ini. Untuk menandai meninggalnya tokoh pers Banten, H Hari Prastowo Al Faiz. Pada usia yang 51 tahun. Minggu (1/11), sekira pukul 11.00 Wib, di rumahnya kawasan Legok Permai, Legok, Kabupaten Tangerang.
Hari Prastowo merupakan komisaris utama Satelit News, sekaligus salah satu pendiri koran harian terbesar di Tangerang dan Banten ini. Beliau juga tercatat sebagai komisaris di anak usaha Satelit News, Tangsel Pos.
Kami sungguh beruntung bisa mengenal beliau. Sosok yang sangat dikagumi oleh karyawan dan koleganya. Bukan tanpa sebab. Pengalamannya di dunia jurnalistik sudah tidak diragukan lagi. Meski menjabat sebagai komisaris, beliau masih meluangkan waktu turut serta urun rembuk memikirkan produk terbaik karya jurnalistik kepada anak buahnya.
Datang ke Jakarta sebagai wartawan Jawa Pos yang ditugaskan di Rakyat Merdeka dengan reputasi mentereng. Salah satunya adalah liputan kasus Marsinah – seorang buruh yang dibunuh gara-gara menyuarakan nasib buruh – berhasil beliau ungkap sedalam-dalamnya. Meski hingga saat ini siapa dalang kasus pembunuhan yang menghebohkan di tahun 90-an itu belum terungkap, namun tulisan-tulisan Hari Prastowo mampu mengangkat oplah Jawa Pos hingga ratusan ribu eksemplar. Atas liputannya itu, Jawa Pos pun dibawanya menjadi koran yang disegani. Bahkan, atas tulisannya soal kasus Marsinah itu, Hari Prastowo menjadi “anak emas” tokoh pers nasional Dahlan Iskan. Mantan Menteri BUMN, yang ketika itu merupakan big bosnya Jawa Pos.
Setelah melanglangbuana bersama Rakyat Merdeka, Hari Prastowo diberi tugas untuk merintis koran daerah di Tangerang. Namanya Radar, yang kemudian berganti menjadi Satelit News. Di koran Radar ini, Hari Prastowo bahu membahu bersama beberapa karyawan Rakyat Merdeka lainnya yang di BKO-kan untuk mengembangkan koran Radar. Nyaris sepuluh tahun beliau menakhodai Satelit News hingga akhirnya diberi tugas baru sebagai komisaris utama dan komisaris Tangsel Pos.
Kini, sang mentor, guru, orang tua, sahabat, kami itu telah tiada. Jasa serta semangatnya terhadap perkembangan koran Satelit News dan Tangsel Pos yang hingga kini tetap eksis akan terus kami kenang dan teladani. “Membuat koran itu tidak cukup hanya dengan mengandalkan idealisme, tapi sisi bisnisnya juga jangan pernah ditinggalkan,” begitu pesan Hari Prastowo di setiap rapat redaksi.
Baca Juga: Ribuan Pegawai Pemkot Tangerang Doakan Rusdi Alam dan Mustaya Hasyim
Selain soal bisnis media, Hari Prastowo juga selalu menyemangati kami tentang arti pentingnya kontinuitas berita – dalam bahasa redaksi running berita – Itu beliau selalu ungkapkan ketika ada peristiwa-peristiwa besar. Wartawan dituntut untuk tidak puas dengan menulis satu angel, tapi angel-angel lain yang jauh lebih menarik juga harus dikupas sampai tuntas. Jangan sampai, sebuah peristiwa besar berhenti tanpa runtutan apa yang terjadi setelahnya.
“Ketika saya menulis soal kasus Marsinah, pembaca selalu menunggu apa kelanjutan dan sejauh mana perkembangan dari kasus tersebut. Itu yang membuat pembaca terus mencari berita di Jawa Pos,” demikian Hari Prastowo ketika menceritakan pengalamannya menjalani liputan di Jawa Pos.
Selamat Jalan, Pak Pras. (dm)
























