SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Program sekolah inklusi yang mulai diberlakukan di Kota Tangerang pada tahun 2021 diminati masyarakat. Itu terlihat pada hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sekolah Dasar Tanah Tinggi 3. Sebanyak dua anak berkebutuhan khusus mendaftarkan diri di sekolah tersebut.
Ketua PPDB SDN Tanah Tinggi 3 Kecamatan Tangerang, Hajis menyatakan dua siswa anak berkebutuhan khusus telah datang ke skeolah serta melakukan komunikasi dengan guru untuk mengetahui karakter anak. Hajis menjelaskan, dua anak itu memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan. .
“Biasanya ada surat rumah sakit yang bersangkutan, surat pengantar. Hari ini kita sudah langsung tatap muka berinteraksi dengan anaknya dan benar anaknya ABK. Untuk berkas menyusul,”ungkap Hajis, Senin (14/6/2021).
Hajis mengatakan, orang tua murid bersama calon siswa anak berkebutuhan khusus serta guru telah melakukan tanya jawab sebagai bekal nanti mengajar. Berdasarkan kondisi tersebut, anak dapat diterima dan bergabung bersama siswa normal lainnya.
“Kriteria anak berkebutuhan khusus memiliki kesulitan dalam pelajaran. Lambat dalam pembelajaran, IQ nya mungkin, satunya juga sama. Tapi tadi kita sempet tanya-tanya, anaknya aktif seperti itu untuk mengenal huruf sudah mengerti mungkin. Mereka hiperaktif saja,” ujarnya.
Kuota anak ABK di SDN Tanah Tinggi 3 terbatas maksimal dua anak. Saat ini siswa ABK yang mendaftar berusia 9 dan 8 tahun. Mereka akan dibimbing guru pendamping.
“Masalah pembelajaran siswa ABK digabungkan dengan anak normal lainnya. Sekarang ada guru pendamping, dari sekolah ada. Kita ditunjuk dinas untuk menangani anak ABK,”ungkap Hajis.
Laporan terakhir menyebutkan hanya ada dua siswa ABK yang mendaftar sedangkan jalur afirmasi belum ada. Kuota siswa saat ini mencapai 90 anak dengan 3 kelas berisi 30 anak.
“Jika sudah penuh tanggal 24 Juni, kita nggak bisa tampung lagi. Wilayah sini belum ada yang bawa persyaratannya dari Dinas Sosial. Tapi kita nunggu sampai kouta penuh, antara 5 sampai 7 anak afirmasi” ujarnya.
Wali kelas 1 SD Tanah Tinggi 3, Eni Suherni sebagai guru yang akan menangani langsung siswa berkebutuhan khusus mengaku telah berbicara langsung dengan orang tua dan murid ABK. Sebelum melakukan penerimaan siswa ABK, wali kelas guru berinisiatif mengadakan semacam pengenalan guna mengetahui kemampuan siswa dalam menangkap pembelajaran dalam kelas nanti.
“Bukan tes, hanya pengenalan. Saya pengen tahu anak ABK itu seperti apa, saya kan belum paham bener karena saya guru kelas, bukan guru ABK” ujarnya. (mg1/gatot)