SATELITNEWS.COM, CIKUPA – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 5 Cikupa Kabupaten Tangerang, menjadi momentum penting dalam membentuk karakter siswa sejak dini. Kegiatan MPLS tahun ajaran 2025/2026 yang berlangsung selama lima hari, dari Senin hingga Jumat, 14–18 Juli 2025, tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah tetapi juga menyisipkan berbagai materi edukatif, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.
Nurhasnah, salah satu guru di SMPN 5 Cikupa, menjelaskan bahwa pelaksanaan MPLS tahun ini mengacu pada panduan resmi, yang memuat kegiatan wajib dan kegiatan pilihan. Materi wajib yang diberikan antara lain: Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pertemuan Pagi Ceria, Pengenalan Profil Kelulusan, Pencegahan Kekerasan, NAPZA, dan pencegahan judi online. Sementara itu, kegiatan pilihan meliputi edukasi tentang pencegahan isu pornografi dan perkawinan anak.
“Edukasi ini penting untuk diberikan sejak dini karena berdampak besar terhadap psikologi dan kesehatan remaja,” ujar Nurhasnah.
Salah satu kegiatan menarik dalam MPLS tahun ini adalah pengenalan program ko-kurikuler dan ekstra kurikuler. Ko-kurikuler merupakan aktivitas di luar jam pelajaran tatap muka yang bertujuan memperluas wawasan atau keterampilan siswa. Salah satu bentuk konkret yang dijalankan di SMPN 5 Cikupa adalah program daur ulang sampah rumah tangga.
Dalam program ini, siswa diajarkan memilah dan mengelola sampah dari rumah masing-masing. Tujuannya adalah menanamkan karakter peduli lingkungan sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga bumi dari kerusakan akibat sampah. Nurhasnah menekankan bahwa rumah tangga adalah salah satu penghasil sampah terbesar setelah pasar, dan jika tidak dikelola dengan baik, sampah bisa mencemari lingkungan.
“Contohnya bisa dilihat di pinggir Jalan Raya Serang, depan SPBU Bojong, dan sepanjang jembatan PT. Surya TOTO, di mana tumpukan sampah masih menjadi masalah,” jelasnya.
Baca Juga: Ketua PDIP Kota Tangerang Ajak Warga Peduli Lingkungan
SMPN 5 Cikupa juga menaruh perhatian serius terhadap literasi. Siswa dibiasakan membaca buku wajib yang telah disosialisasikan pihak sekolah. Selain membaca, mereka juga didorong untuk menulis cerpen sebagai hasil karya pribadi. Literasi sekolah ini diintegrasikan dengan literasi lingkungan, sejalan dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang meliputi: bangun pagi untuk beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur lebih awal.

Menurut Nurhasnah, kegiatan memilah sampah termasuk dalam bagian dari pembiasaan hidup bermasyarakat. “Peserta didik adalah bagian dari masyarakat, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal mereka,” ujarnya.
Lebih jauh, kegiatan memilah sampah juga dikenalkan sebagai bagian dari life skill yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan keuangan. Siswa diajak mengumpulkan sampah bersih dari rumah untuk disetor ke Bank Sampah sekolah yang bernama “Lima Jaga Bumi”. Sampah yang dikumpulkan akan ditimbang dan dikelola oleh petugas khusus. Hasil dari pengumpulan ini bisa menjadi sumber keberkahan, baik secara ekonomi maupun sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap lingkungan.
“Alhamdulillah, dari sampah pun bisa membawa berkah,” tutup Nurhasnah. (rs/aditya)


















