SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Film The Life of Chuck, adaptasi karya Stephen King, menghadirkan kisah unik dengan alur mundur. Cerita dimulai dari akhir hidup Charles “Chuck” Krantz, lalu menelusuri kembali masa-masa penting dalam hidupnya, dari kebebasan dewasa hingga masa kecil penuh misteri.
Alkisah, di usia 39 tahun Chuck meninggal akibat tumor otak. Trailer memperlihatkan kematiannya sebagai momen simbolis: dunia di sekitarnya runtuh, jalanan kosong, papan reklame menampilkan wajah Chuck dengan tulisan “Terima Kasih, Chuck, untuk 39 tahun yang luar biasa.”
Internet global padam, kepanikan meluas, dan berbagai fenomena aneh muncul, termasuk monitor jantung pasien yang tetap berdetak meski ranjang kosong. Semua ini menimbulkan pertanyaan: siapa Chuck, dan mengapa kehidupannya dikaitkan dengan akhir dunia?
Marty Anderson (Chiwetel Ejiofor), guru yang dekat dengan Chuck, berusaha memahami kejadian ini. Bersama mantan istrinya, Felicia Gordon (Karen Gillan), mereka menafsirkan pesan misterius itu.
Trailer menyorot mereka berjalan di kota yang hampa, papan reklame yang tiba-tiba berubah, serta fenomena sinkhole, memperkuat nuansa apokaliptik film. Dalam perjalanan, Marty bertemu Sam Yarbrough (Carl Lumbly), pengurus pemakaman yang merenungi soal waktu dan kehidupan, menekankan tema refleksi eksistensial film.
Kisah kemudian mundur enam bulan sebelum kematian Chuck, di babak Buskers Forever. Pada masa ini, Chuck masih sehat dan menikmati kebebasan. Ia bertemu musisi jalanan Taylor Frank (Taylor Gordon) dan Janice Halliday (Annalise Basso), seorang wanita muda patah hati.
Di jalanan Boston, Chuck menari bersama Janice, menciptakan momen riang yang kontras dengan bayangan suram nasibnya. Trailer menyorot adegan ini dengan musik riang, menegaskan kemampuan Chuck menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain, sementara sakit kepala yang muncul menandai awal penyakit yang kelak merenggutnya.
Babak terakhir yang menjadi awal adalah I Contain Multitudes, menggambarkan masa kecil Chuck. Setelah kehilangan orang tua dan adiknya dalam kecelakaan, ia dibesarkan oleh kakek-neneknya, Albie (Mark Hamill) dan Sarah (Mia Sara), di rumah tua yang sering dianggap berhantu.
Dari neneknya, Chuck belajar mencintai musik dan tari, sementara kakeknya yang pemabuk kerap dihantui penglihatan tentang kematian orang-orang di sekitarnya. Masa kecilnya dipenuhi nostalgia dan kasih sayang, meski misteri ringan tetap menyelimuti.
Saat remaja, Chuck menemukan ruangan terlarang peninggalan kakeknya dan menyaksikan visi dirinya di ranjang kematian. Alih-alih takut, ia bersumpah menjalani hidup sepenuhnya, meyakini bahwa dirinya mengandung banyak hal.
Ini bukan sekadar kisah kematian, melainkan perayaan hidup. Tom Hiddleston memerankan Chuck dengan hangat dan kompleks, sementara Stephen King menyisipkan cerita yang memadukan misteri, humor, dan refleksi mendalam. (bbs)