*Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi. MM., M.Sc
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا …
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah kamu dalam majelis’, maka lapanglah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. (QS. Al-Mujadilah : 11)
Entitas Sosial Pesantren menjadi tempat para santri melakukan meditasi rohaniah. Pesantren sebagai subkuktural, sebuah entitas sosial dengan sistem nilai, kebiasaan, dan cara hidup tersendiri yang berbeda dari masyarakat umum. Pesantren pun punya ciri khas kehidupan tersendiri, pun tempat menimba ilmu agama sekaligus membentuk karakter dan akhlak.
Pesantren selain sebagai pusat ilmu agama, pesantren juga melahirkan tokoh tokoh penting yang berperan dalam dunia pendidikan, sosial, dan kebangsaan. Kehidupan para santri di pesantren terdiri dari berbagai latar belakang yang menimba ilmu dan telah diaplikasikan dalam keseharian para santri. Keragaman dan kebhinnekaan suku dan daerah asal santri tidak menjadi penghalang dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Walaupun berbeda latar belakang, namun tetap bisa berbaur dengan baik dengan santri lain dan masyarakat sekitar.
Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Agama Islam dengan sistem asrama atau pondok. Seorang kiai sebagai tokoh sentralnya, masjid atau musholla sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya dan pengajaran agama islam di bawah bimbingan kiai yang dianut santri sebagai kegiatan utamanya.
Pesantren pun disebut lembaga keagamaan yang mendesak bagi budaya Islam di Indonesia pesantren mengajarkan, memotivasi, membimbing santri agar dapat menjadi manusia sejati. Pondok pesantren juga mengajarkan kepada santrinya agar dapat meneladani sosok baginda nabi dengan mengisi waktu-waktunya untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat baik bagi jasmani seperti berolahraga yang disunnahkan nabi di antaranya memanah, berenang, berkuda maupun rohani seperti membaca Al-Qur’an, mengkaji Kitab kuning.
Pesantren salah satu pilar didalamnya terbentuknya karakter multikultural santri. Pesantren pada umumnya memiliki aktivitas yang telah di rancang oleh pengasuhnya. Ragam aktivitas tentunya yang dapat bermanfaat baik bagi jasmani maupun rohani.
Dengan adanya pesantren yang ada, masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaannya. Misalnya dalam penyediaan kebutuhan sehari-hari para santri seperti makan, perlengkapan mandi, dan cuci pakaian. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pihak pesantren pun dapat memberdayakan masyarakat sekitar. Sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar pesantren.
Oleh karenanya, pesantren dapat bertahan dan berkembang di tengah arus zaman, bahkan menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan modern tanpa meninggalkan akarnya, seperti pengembangan pesantren modern atau kombinasi keduanya. Dengan demikian, entitas pondok pesantren merupakan gambaran dunia pendidikan yang asli Indonesia yang merupakan cikal bakal pondasi awal dari perjuangan bangsa ini untuk merebut kemerdekaan.
Ta’dzim Santri Diantara kitab yang dikaji bahkan menjadi kitab wajib di setiap pondok pesantren adalah Kitab Ta’lim Muta’allim. Isinya tentang tuntunan adab belajar mengajar, termasuk di dalamnya tuntunan tentang bagaimana seharusnya adab seorang santri terhadap gurunya. Kyai/Ustad/Guru memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena selain sebagai transformator (penstranfer ilmu), juga merupakan motivator terbaik yang harus kita junjung tinggi.
Bahkan di dalam Islam, guru merupakan orang berilmu yang harus benar-benar dihormati selagi apa yang disampaikannya benar dan tidak bertentangan dengan syariat. Karena kedua fungsi guru itulah (sebagai transformator dan motivator) kita dapat memperoleh ilmu yang tak terbatas. Ketika kita diwajibkan tunduk, patuh dan hormat kepada kedua orangtua maka kewajiban terebut juga berlaku kepada guru.
Sebagaimana dikatakan bahwa, orangtua itu ada tiga : Pertama, orangtua yang melahirkan kita yaitu ibu dan bapak. Kedua, orangtua yang memberi kita ilmu yaitu guru, dan Ketiga orangtua yang memberi kenikmatan yaitu mertua. Ketiganya memiliki hak yang sama untuk dipatuhi dan dihormati.
Ta’dzim merupakan bentuk perilaku yang menggambarkan sikap menghormati, patuh serta memuliakan sosok yang dimuliakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan makna ta’dzim santri kepada guru ngaji di pondok pesantren. Dalam dunia pendidikan Islam, keberhasilan belajar bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan atau metode, tetapi juga oleh adab. Salah satu adab terpenting adalah ta’dzim menghormati dan memuliakan pihak yang berhak dimuliakan. (Baca : Kesantunan Santri Kepada Kyai).
Ta dzim adalah sifat yang menunjukkan kemuliaan hati. Orang yang memiliki sifat ini akan rendah hati, jauh dari kesombongan, dan mudah menerima kebenaran. Imam Malik rahimahullah dikenal memiliki adab luar biasa kepada gurunya, Imam Nafi’. Bahkan, ia tidak berani berjalan di depan rumah gurunya demi menjaga adab. Oleh karena itu, Di balik kesuksesan seorang murid / santri terdapat guru / kyai yang mendidik dan memberikan ilmu secara tulus. Oleh karena itu, sudah sepatutnya murid ta’dzim kepada guru / kyai.
Di pondok pesantren, santri diberikan pemahaman mengenai adab kepada guru / kiai. Bahkan adab dipelajari sebelum mempelajari disiplin ilmu agama yang lain. Ilmu tentang adab penting untuk dipelajari. Hal itu agar para santri senantiasa sopan dan ta’dzim kepada para guru. Dengan demikian, Ta’dzim artinya adalah amat hormat dan sopan.
Sementara itu, secara harfiah ta’dzim memiliki arti menghormati atau mengagungkan seseorang yang lebih tua atau guru. Sehingga ta’dzim kepada guru adalah patuh terhadap perintah guru dan menjalaninya dengan baik.
Dengan harapan bahwa, dalam dunia pondok pesantren, adab santri kepada kiai dan guru menjadi pembelajaran utama yang harus dipelajari sebelum berlanjut belajar disiplin ilmu agama yang lainnya. Dan Kitab Ta’limul Muta’allim menjadi kitab rujukan utama bagi santri untuk belajar ilmu adab dan mekanisme menuntut ilmu yang baik dan insya Allah mendatangkan kebermanfaatan. Di samping itu, santri juga belajar ilmu adab dengan referensi kitab yang lainnnya. Semoga Manfa’at. (***)
*(Penulis adalah : Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi, Cikedal, Kabupaten Pandeglang & Anggota FKUB Provinsi Banten).