SATELITNEWS.COM, LEBAK—Sore itu, Rabu (22/10/2025), udara di Kampung Pasir Ipis, Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, terasa berbeda. Di antara riuh langkah warga yang berkerumun, terdengar isak tangis yang sulit dibedakan antara haru dan bahagia. Tangis itu milik Saniti (56), seorang ibu sederhana yang hidup puluhan tahun di gubuk reyot bersama suaminya, Juned (65).
Air mata mereka tumpah ketika Gubernur Banten Andra Soni datang menyambangi rumah barunya — sebuah rumah layak huni yang dibangun Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim).
Selama dua dekade, pasangan lansia itu hidup di rumah berdinding bambu yang sudah lapuk, beratap bocor, dan berlantaikan tanah. Ketika hujan turun, air mengalir deras ke dalam rumah, membasahi kasur tua tempat mereka berbaring. “Kalau hujan, kami tidak bisa tidur. Air masuk dari mana-mana,” kenang Saniti lirih, matanya basah oleh air mata bahagia.
Kini, di hadapannya berdiri bangunan baru dengan konsep Rumah Instan Sederhana Sehat (RISA) — rumah prasetak yang kuat, cepat dibangun, dan ramah lingkungan. Dalam waktu hanya delapan hari, rumah impian yang dulu mustahil dimiliki itu mulai menampakkan bentuknya.
Kisah hidup Saniti dan Juned sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Foto gubuk mereka yang nyaris roboh menggugah simpati banyak orang, hingga akhirnya menarik perhatian Pemprov Banten.Gubernur Andra Soni pun turun langsung meninjau lokasi dan memastikan bantuan rumah layak segera terealisasi.
“Saya melihat langsung kondisi rumah Ibu Saniti yang rusak berat dan akhirnya roboh. Alhamdulillah sekarang sudah ditangani,” ujar Andra. “Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama, karena masih banyak warga di Banten yang tinggal di rumah tidak layak huni.”
Baca Juga: Andra Soni dan Benyamin Davnie Sambangi Keluarga Jurnalis Donal di Tangsel
Menurut Andra, konsep RISA memungkinkan rumah dibangun lebih cepat, aman dari gempa, dan efisien. “Dalam 15 hari sudah bisa selesai dan ditempati. Kita ingin masyarakat miskin seperti Ibu Saniti bisa segera merasakan hidup yang lebih layak,” tambahnya.
PR Besar Pemerintah
Gubernur Andra mengungkapkan, jumlah rumah tidak layak huni di Banten masih cukup banyak. Di Kabupaten Lebak saja, tercatat lebih dari 24 ribu rumah dalam kondisi rusak ekstrem. Sementara di Kabupaten Serang ada sekitar 7 ribu rumah. “Ini butuh kolaborasi lintas pihak. Pemerintah provinsi, kabupaten, dan masyarakat harus bersama-sama,” ujarnya.
Selain program pembangunan rumah baru, Pemprov Banten juga tengah melakukan perbaikan infrastruktur dasar, termasuk jalan desa. “Kita juga meninjau kondisi jalan. Semua dilakukan agar masyarakat seperti Ibu Saniti bisa hidup lebih nyaman,” kata Andra.
Harapan dari Anak untuk Orang Tua
Di sudut halaman, Nuriyah (25), anak kandung Saniti dan Juned, tak henti-hentinya mengucap syukur. Ia menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya akhirnya memiliki rumah yang layak setelah sekian lama menanti.
Baca Juga: KEK ETKI Banten Diklaim Serap Ribuan Tenaga Kerja, Nilai Investasi Capai Rp1,9 Triliun
“Saya sangat senang. Sekarang Ibu dan Bapak bisa tidur nyenyak tanpa takut kehujanan,” ujarnya dengan senyum yang sulit disembunyikan. Rumah itu mungkin hanya berdinding sederhana, tapi bagi keluarga Saniti, rumah itu lebih dari sekadar bangunan. Ia menjadi simbol harapan baru bahwa dari kesederhanaan dan kesabaran, kebahagiaan sejati akhirnya datang juga. Dan sore itu, di bawah langit Cibadak yang mulai merona senja, tangis bahagia Saniti menjadi saksi bahwa kepedulian masih nyata. (mulyana)



















