SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengungkapkan bahwa tantangan pangan ke depan semakin kompleks. Namun sekaligus menjadi peluang bagi daerah untuk berbenah dalam lima tahun mendatang.
Hal itu disampaikan Ujang, saat memaparkan berbagai isu strategis, terkait pertanian dan ketahanan pangan dalam Seminar Interaktif Ekoteologi dan Ketahanan Pangan yang digelar MUI Kabupaten Tangerang di Aula Sekretariat MUI, di Pusat Pemkab Tangerang, Tigaraksa, Senin (17/11/2025).
“Materi yang mau saya sampaikan cukup banyak dan ini akan memberikan pencerahan buat kita semuanya selama 5 tahun yang akan datang. Saya baru 1 minggu menjabat Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan, mendapat mandat dari Bapak Bupati untuk bisa mewujudkan ketahanan pangan di Kabupaten Tangerang,” katanya.
Ujang menjelaskan bahwa kebijakan daerah berkaitan dengan ketahan pangan tidak terlapas dari kondisi pangan global. Sumber GRFC 2024 menyatakan, terdapat 53 negara dengan kelaparan serius (295 juta orang); 757 juta penduduk dunia kekurangan gizi (sumber FOA, 2024) dan berdasarkan data BPS, Kemenkes (2024) terdapat 6,5% kerawanan pangan sedang atau berat (18,3 juta orang) dan 19,8% stunting.
“Saat ini, ada negara Somalia yang berkaitan dengan krisis pangan. Kemudian sekarang ada Teheran yang sudah mulai mengalami permasalahan krisis air,” jelasnya.
Ujang kemudian mengaitkannya dengan kebijakan Presiden Prabowo–Gibran yang membawa delapan misi asta cita, termasuk agenda besar ketahanan pangan menjadi bagian dari misi asta cita nomor 2, yaitu memantapkan sistem pertahanan kemanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Baca Juga: Korpri Night Run 2026 Siap Digelar, Jalan Gading Serpong Akan Direkayasa
“Dulu waktu zaman Pak Harto, kita pernah swasembada pangan dan dilanjutkan oleh Presiden Prabowo saat ini. Kita tidak lagi mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam, namun ternyata kebijakan Indonesia swasemda beras juga berdampak terhadap perekonomian Thailand dan Vietnam. Hal ini menunjukan adanya saling ketergantungan yang harus kita pertimbangkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa perubahan iklim ekstrem yang terjadi saat ini, juga mempengaruhi pola tata tanam pangan. Demikian juga dengan perkembangan geopolitik, seperti konflik Rusia–Ukraina, juga berdampak pada ekonomi negara, yang pada akhirnya akan berdampak pada harga pangan dan komoditas termasuk di Indonesia.
Selain itu, rendahnya minat anak muda menjadi petani turut memperburuk situasi saat ini. “Tidak banyak anak muda kita yang mau jadi petani. Semua ingin kerja di pabrik. Petani didominasi oleh orang berumur tua. Ketersediaan jumlah penyuluh juga terbatas dan saat ini penyuluh ditetapkan menjadi pegawai pusat. Berdasarkan informasi yang saya terima, penyuluh sekarang tiap hari harus bikin laporan, upload, sehingga waktu untuk mendampingi petani malah berkurang,” tandasnya.
Ujang juga menyoroti alih fungsi lahan yang tak terkendali, sehingga perlu adanya insentif bagi para petani untuk mau mempertahankan lahannya sebagai areal pertanian. Saat ini, Pemkab Tangerang telah memberikan skema insentif pembayaran pajak bagi petani pemilik lahan.
Namun tidak hanya insentif bagi petani, perlu juga adanya insentif pemberian tambahan anggaran bagi wilayah kecamatan, yang sebagian besar areanya adalah kawasan pertanian. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan keberadaaan lahan pertanian.
Lanjut Ujang, persoalan klasik di sektor pertanian yang tak kunjung usai selama ini adalah bibit dan pupuk yang susah didapat, dan pada saat panen harga turun. “Semoga beberapa tahun kedepan permasalahan ini bisa segera teratasi, khususnya di Kabupaten Tangerang,” ucapnya.
Baca Juga: 183 PKL Jalan Kiasnawi Tangerang Bakal Direlokasi ke Pasar Anyar
Ujang juga memaparkan capaian nasional sektor pangan. Menurutnya, data capaian Kementan 2025 menunjukkan adanya penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%, anggaran yang tetap dan menambah volume pupuk bersubsidi hingga sebanyak 1.0000.000 ton, produksi beras naik, serta produksi pertanian naik. “Sampai November 2025 kita sudah surplus beras sebanyak 4,82 juta ton,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan peningkatan produksi komoditas, seperti kedelai dan bawang merah, serta dinamika harga ayam yang sempat membuat pedagang melakukan aksi protes.
Dalam kaitannya dengan modernisasi alat pertanian, Ujang mengakui jika cukup tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. “Kunjungan saya ke Jepang menunjukan, bahwa petani disana sangat dihargai dan mereka telah menerapkan mekanisasi peralatan pertanian. Ini saatnya kita untuk berbenah dan berubah menjadi lebih maju dan modern,” paparnya.
Selanjutnya kata Ujang, kegiatan utama Kementerian Pertanian pada tahun 2026, terbagi dalam 8 kegiatan utama yaitu pertama, lahan dan irigasi termasuk cetak sawah. Kedua, prasarana dan sarana termasuk didalamnya ada penyediaan alat mesin pertanian seperti traktor, drone sprayer, combined harvester, dan lainnya. Ketiga, tanaman pangan. Keempat, perkebunan. Kelima, holtikultura. Keenam, peternakan dan kesehatan hewan. Ketujuh, modernisasi dan perakitan; dan kedelapan penyuluhan dan SDM.
Ujang kemudian menjelaskan arah kebijakan pembangunan Kabupaten Tangerang 2025–2029, sesuai visi Bupati Tangerang Maesal Rasyid dan Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah. Menurutnya, dua misi yang berkaitan langsung dengan pangan adalah, pertama adalah misi ke 2 yaitu mewujudkan perekonomian yang kuat, produktif dan berdaya saing. Kedua, adalah misi ke 6 yaitu mewujudkan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Dalam misi ke 2 termasuk didalamnya terdapat program desa mandiri pertanian, desa mandiri peternakan, dan desa mandiri perkebunan, dan mandiri perikanan serta peningkatan ketahanan energi, air, dan pangan. sedangkan misi ke 6 lebih menekankan pada pengelolaan pangan daerah, untuk menciptakan ketersediaan cadangan pangan daerah, dan akses terhadap pangan berkualitas.
Menariknya, Ujang juga menyoroti potensi besar pondok pesantren, yang pada umumnya memiliki lahan kosong yang cukup luas. “Saya ingin memprogramkan kedepan bahwa santri itu harus juga menjadi santripreneur yang bergerak dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pentingnya sinergi antara pemerintah, MUI, ulama, dan para pengasuh pesantren agar ketahanan pangan di Kabupaten Tangerang dapat diperkuat. “Tenaga-tenaga di lingkungan pesantren dapat dilibatkan dalam mewujudkan dan menjaga ketahanan pangan,” paparnya.
Ujang menutup paparannya dengan harapan, agar seluruh pihak dapat bekerja sama menjaga keberlanjutan pangan daerah. (aditya)





















