SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Luapan air Sungai Cidurian kembali merendam permukiman dan lahan pertanian warga Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek. Diduga akibat tanggul jebol, banjir menggenangi sedikitnya 115 rumah dan 35 hektare sawah sejak Sabtu (3/1) hingga Selasa (6/1), dengan ketinggian air mencapai 60 hingga 100 sentimeter.
Puluhan hektare sawah milik petani yang terendam banjir berhari-hari tersebut kini terancam gagal panen. Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Warga menyebut, tanggul Sungai Cidurian telah jebol sejak 11 tahun lalu dan belum pernah diperbaiki secara permanen.
Kepala Dusun Desa Pasir Ampo, Sukemi, mengatakan setiap kali hujan deras atau debit Sungai Cidurian meningkat, air selalu meluap ke permukiman warga dan area persawahan.
“Sejak Sabtu sampai sekarang ada sekitar 115 rumah dan 35 hektare sawah yang terendam. Tinggi airnya antara 60 sampai 100 sentimeter,” kata Sukemi kepada Satelit News, Selasa (6/1).
Ia menambahkan, sawah yang sudah terendam selama beberapa hari dipastikan akan gagal panen. Menurutnya, meski banjir terjadi hampir setiap tahun, tanggul yang jebol sejak 11 tahun lalu belum juga diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi Banten.
“Gagal panen itu sudah pasti, karena sawah terendam sudah berhari-hari. Sudah 11 tahun tanggul jebol tapi belum ada perbaikan. Kami berharap Pemerintah Provinsi Banten segera melakukan perbaikan agar banjir tidak terus berulang,” ucapnya.
Baca Juga: Sempat Diamuk Warga, Dua Terduga Pelaku Curanmor di Cikupa Diamankan Polisi
Hal senada disampaikan Edi (65), warga Desa Pasir Ampo. Ia mengaku warga telah berulang kali melaporkan kondisi tanggul yang jebol kepada pihak kecamatan. Namun, sejak 2015 hingga 2026, belum ada penanganan serius.
“Jebolnya sekitar lima meter. Dari 2015 sampai sekarang belum ada tindakan. Saya sudah mengadu ke kecamatan, tapi jawabannya selalu nanti-nanti saja,” ujar Edi.
Meski banjir mengepung permukiman dan merendam ratusan rumah, warga masih memilih bertahan dan belum mengungsi ke tempat pengungsian yang disiapkan BPBD Kabupaten Tangerang.
“Belum ada yang mengungsi, karena warga sudah terbiasa dengan banjir seperti ini,” tuturnya.
Banjir bahkan sempat memutus akses Kampung Ampo, Desa Pasir Ampo, dengan Desa Koper, Kecamatan Kresek. Namun di tengah kepungan air, suasana berbeda justru terlihat. Sejumlah warga, termasuk anak-anak, tampak bermain air di pinggir jalan dan area sawah yang terendam.
Maemunah (43), salah satu warga setempat, menyebut banjir sudah menjadi pemandangan tahunan bagi masyarakat Pasir Ampo.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
“Kalau di sini tiap tahun memang begitu. Jadi seperti wisata dadakan, banyak yang main air dan nonton,” ujarnya sambil menemani anaknya bermain air.
Meski terlihat tersenyum, Maemunah mengaku tetap khawatir terhadap dampak kesehatan akibat banjir, terutama penyakit kulit.
“Khawatir pasti ada, seperti gatal-gatal. Tapi namanya anak, ngambek pengen berenang gratis,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan pihaknya terus mendistribusikan bantuan logistik dan melakukan upaya evakuasi bagi warga terdampak.
“Sampai saat ini kami masih mendistribusikan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak. Evakuasi juga terus dilakukan ke tempat yang lebih aman, meskipun ada warga yang memilih bertahan,” ujarnya. (alfian/aditya)




















