SATELITNEWS, TANGERANG – Di tengah masifnya pembangunan perumahan dan tumbuhnya kota-kota satelit, Pemerintah Kabupaten Tangerang memilih langkah berbeda. Untuk mempertahankan identitas daerah sekaligus memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH), ribuan pohon bambu mulai ditanam di 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang, Rabu (21/1/2026).
Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengatakan penanaman bambu ini merupakan terobosan strategis, untuk menjaga karakter daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil bambu. Sekaligus menjawab kebutuhan ruang terbuka hijau di setiap kecamatan.
“Saat ini Pemerintah Kabupaten Tangerang fokus mempertahankan identitas daerah, sekaligus menciptakan ruang terbuka hijau di setiap kecamatan dengan menanam ribuan pohon bambu. Bambu merupakan salah satu identitas Kabupaten Tangerang yang harus kita jaga,” ujar Maesyal Rasyid kepada Satelit News, Rabu (21/1).
Menurutnya, penanaman bambu menjadi langkah awal pengembangan RTH berbasis bambu yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tangerang. Selain memiliki nilai ekologis, bambu juga melekat kuat sebagai ciri khas daerah.
“Bambu dipilih karena nilai ekologisnya sekaligus karena menjadi ciri khas Kabupaten Tangerang. Bahkan, bambu sudah menjadi bagian dari identitas kita yang tertanam dalam logo Kabupaten Tangerang,” katanya.
Pria yang akrab disapa Rudi Maesyal itu menjelaskan, tahap awal penanaman dilakukan di Kecamatan Cisoka, pada lahan yang telah disiapkan. Ke depan, kawasan ini dirancang menjadi ruang terbuka publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk wisata, pengembangan UMKM, hingga pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
“Pembangunan ruang terbuka hijau akan menjadi fokus pemerintah daerah di seluruh kecamatan,” tegas Rudi.
Di tempat yang sama, Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandi, menyampaikan bahwa bambu memiliki nilai sejarah, budaya, dan identitas yang kuat bagi masyarakat Kabupaten Tangerang. Ia optimistis, pengembangan bambu dapat mendorong tumbuhnya sektor ekonomi kreatif dan industri kreatif yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
“Bambu merupakan sejarah, identitas, dan budaya Kabupaten Tangerang. Bahkan tertanam di dalam logo daerah. Hari ini kita bersepakat bahwa kejayaan bambu yang dahulu menjadi identitas kita harus dibangkitkan kembali,” ungkap Erwin.
Ia menjelaskan, pengembangan RTH Bambu Cisoka akan dilakukan secara bertahap. Saat ini pemerintah daerah masih berada pada tahap pematangan lahan, dilanjutkan dengan penanaman bambu setiap bulan menggunakan varietas yang berbeda.
“Saat ini sudah ada 17 varietas bambu. Setiap bulan akan kita tambah koleksinya. Pada APBD Perubahan nanti, sarana prasarana pendukung seperti area parkir, gerbang, sarana UMKM, jogging track, toilet, dan musala juga akan disiapkan. Target kami, akhir tahun 2026 kawasan ini sudah berfungsi dan dimanfaatkan masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Erwin menegaskan bahwa bambu tidak hanya berfungsi sebagai elemen ruang terbuka hijau, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Baca Juga: Bupati Tangerang: Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru
“Selain sebagai RTH, bambu memiliki banyak manfaat, terutama dari sisi ekonomi kreatif. Pada tahun 1920-an, topi bambu dari Kabupaten Tangerang sudah dikirim ke Eropa dan hingga kini para pengrajinnya masih ada,” ujarnya.
Pada tahun 2026, pemerintah daerah menargetkan pembangunan enam RTH di kecamatan lainnya. Sesuai RPJMD, di akhir masa jabatan bupati, seluruh kecamatan ditargetkan memiliki ruang terbuka hijau dengan bambu sebagai identitas masing-masing wilayah, seperti bambu cendani di Rajeg atau bambu kuning di Mauk.
“Kami optimistis, pada awal tahun 2027 RTH Bambu Cisoka sudah benar-benar dapat dinikmati masyarakat untuk kepentingan wisata, ekonomi kreatif, dan edukasi lingkungan,” tukasnya. (alfian/aditya)




















