SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Upaya menjembatani aspirasi masyarakat agar tersampaikan langsung kepada pimpinan daerah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Tangerang. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang menggagas sebuah program komunikasi inovatif bernama Forum Tematik, yang dirancang menjadi ruang dialog langsung antara masyarakat dan Bupati Tangerang, Senin (2/2).
Forum Tematik ini disiapkan sebagai wadah alternatif bagi aspirasi masyarakat yang belum terakomodasi dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), baik di tingkat desa maupun kecamatan. Melalui forum tersebut, masyarakat dapat menyampaikan langsung kebutuhan dan persoalan yang dihadapi kepada Bupati Tangerang untuk ditindaklanjuti dalam kebijakan pembangunan. Program ini direncanakan mulai berjalan pasca Hari Raya Idulfitri 2026.
Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, menjelaskan Forum Tematik akan menjadi ruang dialog khusus yang mempertemukan Bupati dan Wakil Bupati Tangerang dengan komunitas, organisasi, atau lembaga masyarakat secara tematik setiap bulan. Dialog difokuskan pada isu-isu pembangunan daerah, mulai dari ketahanan pangan bersama kelompok tani dan nelayan, kelompok disabilitas, pelaku seni dan budaya, olahraga, komunitas pesantren, hingga pelaku UMKM untuk mendorong ekonomi kerakyatan.
“Forum tematik nantinya dikhususkan untuk para pelaku profesi yang benar-benar bergelut di bidangnya masing-masing, seperti petani, nelayan, atau pelaku UMKM,” kata Erwin Mawandy kepada Satelit News, Senin (2/2/2026).
Ia mencontohkan, apabila pada satu bulan agenda dialog difokuskan pada sektor pertanian, maka peserta yang hadir hanya berasal dari kelompok tani. Pola ini diterapkan agar pemerintah daerah dapat lebih fokus mendengar aspirasi yang disampaikan secara mendalam dan spesifik oleh pelaku langsung di lapangan. Menurut Erwin, Forum Tematik ditargetkan mulai berjalan pada 2026, tepatnya setelah Lebaran.
“Tujuannya agar mereka leluasa menyampaikan tantangan dunia pertanian secara fokus dan mendetail, tanpa perantara atau perwakilan yang bukan dari profesinya. Rencananya akan dilakukan setelah Lebaran,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati Tangerang Dorong Bahasa Sunda, Jawa, dan Betawi Jadi Warisan Generasi Muda
Erwin menegaskan, prinsip sterilitas peserta menjadi hal penting dalam Forum Tematik. Setiap dialog hanya diikuti oleh kelompok profesi yang sesuai dengan topik pembahasan. Hal ini dilakukan agar pendapat, kritik, saran, dan harapan masyarakat benar-benar tersampaikan secara utuh kepada Bupati, tanpa risiko terdistorsi.
“Tidak boleh ada peserta di luar profesi tersebut. Kalau membahas disabilitas, ya khusus disabilitas. Begitu juga nelayan, UMKM, hingga komunitas lainnya. Kita ingin isu mendasar didengar langsung oleh pimpinan dari para pelaku yang memahami betul persoalan di lapangan,” tegasnya.
Keunggulan lain dari Forum Tematik ini terletak pada kecepatan pengambilan keputusan. Erwin menyebut, forum ini dirancang untuk menghasilkan solusi bersama (win-win solution). Dalam setiap pertemuan, Bupati akan didampingi oleh Bappeda serta kepala dinas terkait.
“Output-nya adalah kebijakan instan. Misalnya petani mengeluhkan irigasi rusak atau kekurangan pompa air, Bupati bisa langsung memerintahkan Kepala Dinas Pertanian dan Bappeda untuk mencatat dan merealisasikannya dalam bentuk program dan anggaran. Bukan sekadar ditampung, tapi langsung dieksekusi,” jelasnya.
Hal serupa juga berlaku bagi sektor lainnya, seperti UMKM yang membutuhkan dukungan kemasan atau akses permodalan melalui PDB, hingga kelompok disabilitas yang memerlukan perhatian khusus dari Dinas Sosial. Erwin mengungkapkan, gagasan Forum Tematik lahir dari evaluasi terhadap Musrenbang yang dinilai belum sepenuhnya mampu menyerap aspirasi kelompok profesi tertentu secara mendalam.
Ia mengakui, dalam Musrenbang tingkat kecamatan, kelompok seperti pengemudi ojek online, ojek pangkalan, petani, peternak, pelaku UMKM, atau profesi spesifik lainnya kerap tidak terundang atau tidak memiliki porsi bicara yang memadai.
Baca Juga: Polsek Pagedangan Ungkap Kasus Kepemilikan Senjata Tajam Untuk Tawuran
Begitu pula dengan forum aspirasi lain seperti reses DPRD, yang tidak seluruh usulannya dapat terakomodasi akibat keterbatasan anggaran. Karena itu, Erwin menilai perlu adanya forum aspirasi yang secara khusus mengakomodasi kelompok profesi tertentu. Ke depan, Forum Tematik ditargetkan berlangsung rutin setiap bulan hingga akhir tahun dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
“Oleh karena itu, Bappeda ingin membuka ruang melalui dinas-dinas dan Forum Tematik ini agar seluruh aspek pembangunan mendapatkan proporsi yang tepat, terstruktur, tersistematis, dan pas,” katanya.
Dengan hadirnya Forum Tematik, Pemerintah Kabupaten Tangerang berharap tidak ada lagi sumbatan komunikasi antara masyarakat dan pimpinan daerah, sehingga kebijakan pembangunan benar-benar berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan.
“Kami berharap forum ini benar-benar dapat menjembatani aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang,” ujar Erwin.
Di tempat terpisah, salah satu petani asal Kampung Jambe, Desa Jambe, Kecamatan Jambe, Nurdin, menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai Forum Tematik memberi ruang khusus bagi petani untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada pimpinan daerah.
“Alhamdulillah, ini sangat baik. Kami bisa menyampaikan aspirasi tanpa melalui perantara. Ini harus didukung penuh agar Bupati Tangerang bisa mendengar langsung keluh kesah kami,” katanya.
Meski demikian, Nurdin mengingatkan agar setiap jadwal Forum Tematik benar-benar dipublikasikan secara luas kepada para pelaku profesi, agar tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial.
“Ini harus benar-benar dipublikasikan. Jangan sampai yang tahu jadwal hanya orang-orang di lingkaran pemerintah, sementara kami yang benar-benar bergelut di lapangan tidak mengetahuinya,” pungkasnya. (alfian/aditya)




















