SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Sepanjang 2025, ratusan ribu anak di Kabupaten Tangerang harus berjuang melawan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat, sebanyak 198.000 kasus ISPA menyerang anak-anak, sementara 104.000 kasus lainnya terjadi pada orang dewasa. Totalnya mencapai 302.000 kasus dalam setahun.
Angka itu menjadi alarm kewaspadaan bagi Dinkes memasuki 2026. Pengawasan pun mulai diperketat, sementara para orang tua diimbau lebih waspada terhadap gejala yang kerap dianggap sepele seperti batuk dan pilek.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, memastikan seluruh kasus pada 2025 telah ditangani.
“Namun, semua telah diobati dan alhamdulillah telah dipastikan sembuh,” ujar Hendra kepada Satelit News, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, ISPA merupakan istilah umum untuk gangguan pada saluran pernapasan atas, seperti batuk dan pilek. Meski terlihat ringan, keterlambatan penanganan—terutama pada balita—dapat berujung fatal.
Karena itu, pada 2026 Dinkes memperketat pemantauan tren kasus dengan memperluas deteksi dini penderita ISPA. Tujuannya jelas: mencegah kasus berkembang menjadi pneumonia atau radang paru-paru akut, yang berisiko tinggi menyebabkan kematian, khususnya pada anak-anak.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
“Selain menekan kasus ISPA, langkah ini diambil guna mengantisipasi risiko komplikasi berat berupa pneumonia yang berpotensi menyebabkan kematian, terutama pada kelompok usia anak-anak,” jelasnya.
Memasuki awal 2026, grafik kasus ISPA belum menunjukkan penurunan signifikan. Pada Januari saja, Dinkes telah menerima laporan sekitar 10.000 kasus baru. Meski demikian, secara epidemiologi angka tersebut masih tergolong dalam batas normal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Tangerang yang mencapai sekitar 3,5 juta jiwa.
“Sebenarnya angka itu masih normal karena belum mencapai 10 persen dari total jumlah penduduk. Namun poin utamanya bukan pada angkanya saja, melainkan kewaspadaan. Jika tidak ditangani dengan benar, anak balita akan sangat rentan terkena pneumonia,” tegas Hendra.
Di tempat yang sama, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Sri Indriyani, mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam pencegahan. Ia mengimbau agar orang tua lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak dan segera membawa ke fasilitas kesehatan apabila batuk dan pilek tidak kunjung reda.
Selain itu, orang tua juga diminta memastikan kecukupan gizi dan hidrasi anak guna menjaga daya tahan tubuh, serta menghindarkan anak dari paparan polusi udara dan asap rokok di lingkungan rumah.
Langkah-langkah sederhana itu diharapkan mampu menekan laju ISPA dan mencegah komplikasi yang lebih berat di tahun ini. (alfian/aditya)
Baca Juga: Bupati Tangerang: Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru




















