SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Upaya meningkatkan layanan transportasi umum sekaligus mengurai kemacetan terus didorong Pemerintah Kabupaten Tangerang. Salah satunya melalui percepatan pembangunan jalur MRT serta proyek transportasi massal koridor timur–barat (East–West) yang akan menghubungkan Balaraja hingga Cikarang.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi di kawasan aglomerasi.
Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, mengungkapkan bahwa rencana pengembangan MRT di wilayahnya telah memasuki tahap awal. Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang.
“MoU Pemerintah Provinsi Banten dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang sudah dilakukan, saya hadir di situ. Dari MoU itu sekarang masing-masing konsultan sedang mempersiapkan dan merancang pelaksanaan pembangunan,” ujar Maesyal Rasyid di Novotel BSD Serpong, Kecamatan Pagedangan, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, skema pembiayaan proyek tersebut nantinya akan melibatkan pemerintah pusat serta sejumlah pihak terkait lainnya. Selain itu, keberadaan lahan milik pengembang di beberapa titik dinilai akan mempermudah proses pengembangan jalur transportasi massal tersebut.
“Pembiayaannya dari pusat dan pihak terkait lainnya. Kebetulan beberapa lahannya juga merupakan milik pengembang, jadi itu memudahkan,” katanya.
Baca Juga: Dandim 0510/Tigaraksa Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI, Tekankan Prajurit Berjiwa PRIMA
Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah mengadvokasi pemerintah pusat agar mempercepat realisasi proyek jalur East–West Balaraja–Cikarang. Jalur ini dinilai krusial dalam menunjang mobilitas masyarakat di kawasan Jabodetabek.
“Kalau memang masih dilakukan bertahap, paling tidak jalur dari Balaraja sampai Semanan bisa menjadi prioritas pertama,” kata Erwin.
Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang juga mengusulkan pengembangan jalur MRT baru yang terhubung langsung dengan pusat-pusat pertumbuhan di wilayahnya. Rencananya, jalur tersebut akan tersambung dari Lebak Bulus menuju BSD, lalu berlanjut ke Lippo Karawaci hingga Citra Raya.
Menurut Erwin, kehadiran moda transportasi massal seperti MRT maupun BRT diharapkan mampu menjadi solusi atas kemacetan yang selama ini masih didominasi penggunaan kendaraan pribadi.
“Kalau ada angkutan publik seperti BRT ataupun MRT, mobilitas masyarakat bisa berjalan lebih cepat,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui hingga kini pemerintah daerah belum melakukan kajian teknis secara rinci terkait titik stasiun maupun trase jalur MRT yang diusulkan. Saat ini, fokus utama masih pada upaya mendorong agar proyek tersebut masuk dalam prioritas pembangunan nasional.
Baca Juga: Bupati Tangerang: Pergantian Kepsek Harus Bawa Semangat dan Gagasan Baru
“Untuk penempatan stasiun dan teknis lainnya tentu masih perlu studi kelayakan lebih lanjut,” katanya.
Selain pembangunan jalur utama, pemerintah daerah juga menyiapkan rencana pengembangan transportasi pengumpan (feeder) guna mendukung konektivitas. Kehadiran feeder dinilai penting agar masyarakat dapat dengan mudah menjangkau simpul-simpul transportasi publik.
“Kalau nanti MRT sudah terbangun, pemerintah daerah harus menyiapkan feeder seperti BRT untuk mempermudah masyarakat menuju simpul transportasi,” jelasnya.
Sebagai contoh, Erwin menyebut jalur KRL double track Tanah Abang–Rangkasbitung yang melintasi Kabupaten Tangerang saat ini telah dimanfaatkan masyarakat secara luas. Namun, akses menuju stasiun masih banyak bergantung pada kendaraan pribadi.
“Pengembang juga tentu punya nilai ekonomi yang bisa didapatkan. Skema seperti itu menurut saya sangat mungkin untuk dikaji,” pungkasnya. (alfian/aditya)




















