SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Rencana Pemerintah Kota Tangerang melalui PT Tangerang Nusantara Global (TNG) menerapkan sistem parkir digital berbayar di kawasan Stadion Benteng Reborn mendapat penolakan dari Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang, Andri S. Permana.
Andri menilai kebijakan tersebut berpotensi membebani masyarakat dan mengurangi fungsi Stadion Benteng Reborn sebagai ruang publik yang selama ini dapat diakses seluruh kalangan untuk olahraga, aktivitas komunitas, maupun rekreasi murah.
“Saya tidak setuju terkait rencana digitalisasi perparkiran di Stadion Benteng Reborn. Stadion ini bukan hanya sarana olahraga, tetapi juga ruang rekreasi yang terjangkau bagi masyarakat,” kata Andri, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, pemerintah harus mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang masih sulit. Ia mengingatkan agar kebijakan baru tidak menambah beban warga melalui skema retribusi yang lebih besar.
Selain itu, Andri juga menyoroti potensi kemacetan di sekitar stadion. Ia khawatir proses transaksi parkir digital dapat memperlambat arus kendaraan, terutama saat terjadi kepadatan lalu lintas akibat penutupan perlintasan kereta api di kawasan tersebut.
Andri mengaku belum menemukan keluhan signifikan terkait pengelolaan parkir di Stadion Benteng Reborn yang dapat menjadi alasan mendesak untuk mengubah sistem yang ada. Menurutnya, retribusi tetap dapat dijalankan tanpa menghilangkan fungsi sosial fasilitas publik. “Retribusi harus berjalan, tetapi jangan sampai membuat biaya parkir menjadi beban baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua DPRD Kota Tangerang Optimistis Pertahankan Gelar Juara Umum POPDA dan PEPARPEDA 2026
Ia juga menyoroti aspek inklusivitas penggunaan teknologi karena tidak semua pengunjung memiliki kemampuan atau fasilitas untuk melakukan transaksi digital.
Kritik serupa disampaikan Ketua Karang Taruna Kelurahan Sukaasih, Yudy Supriadi. Ia mengaku kurang sepakat apabila parkir digital diterapkan dalam waktu dekat karena dikhawatirkan berdampak pada masyarakat yang memanfaatkan stadion sebagai ruang olahraga dan rekreasi. “Bukan menolak kemajuan, tetapi harus melihat kondisi masyarakat yang masih berjuang secara ekonomi,” kata Yudy.
Menurutnya, Stadion Benteng Reborn selama ini menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas, pelajar, dan keluarga tanpa biaya besar. Ia khawatir penerapan sistem parkir digital akan menyulitkan sebagian pengunjung.
Meski demikian, Yudy menegaskan tetap mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan publik dan tata kelola daerah. Ia berharap Pemkot Tangerang melibatkan masyarakat, komunitas olahraga, pedagang, dan pengguna stadion sebelum mengambil keputusan final. “Saya berharap Benteng Reborn tetap menjadi tempat yang ramah bagi masyarakat kecil. Program pemerintah harus berjalan, tetapi jangan sampai membuat masyarakat semakin berat menikmati fasilitas publik,” ujarnya. (ari)
