SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Ruben Onsu, didampingi kuasa hukumnya, Minola Sebayang, mendatangi kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026).
Kedatangan Ruben Onsu guna menyampaikan pengaduan terkait permasalahan kedua putrinya, Thalia dan Thania Putri Onsu. Ruben Onsu juga membawa sejumlah bukti terkait adanya dugaan pelanggaran hak anak yang dilakukan pihak mantan istrinya, Sarwendah.
Poin pertama yang menjadi keberatan besar bagi Ruben Onsu adalah, pembatasan akses untuk berkumpul bersama anak-anaknya. Berdasarkan Akta 39 yang telah disepakati sebelumnya, presenter berusia 42 tahun itu seharusnya mendapatkan waktu dua hingga tiga hari dalam seminggu untuk tinggal bersama anak-anak, namun kenyataannya hak tersebut tidak terealisasi secara penuh.
“Ada aturan yang memang bersifat tertulis, mengatur dan disepakati 2 sampai 3 hari dalam satu minggu anak-anak ini berkumpul bersama dengan ayahnya. Jadi bukan bertemu, jadi berkumpul 2 hari, 3 hari dengan ayahnya. Ini yang tidak terealisasi dengan berbagai macam alasan dan kondisi,” kata Minola Sebayang.
Selain masalah akses, pihak Ruben Onsu juga mengadukan adanya dugaan eksploitasi anak. Mereka menyoroti keterlibatan Thalia dan Thania, dalam aktivitas siaran langsung atau live di media sosial pada malam hari. Aktivitas tersebut dianggap mengganggu jam istirahat anak serta mengekspos mereka pada lingkungan yang tidak aman secara psikis.
“Ini yang tidak boleh ketika, kita melihat anak-anak itu diajak ikut live di malam hari bukan di jam anak-anak yang harusnya anak-anak istirahat karena besok harus sekolah lagi,” beber Minola Sebayang.
Poin terakhir yang diadukan berkaitan dengan dugaan tekanan psikis di lingkungan rumah. Ruben Onsu merasa, adanya upaya doktrinasi yang membuat sikap anak-anaknya berubah dan terkesan menjauh dari sang ayah.
“Kalau di ruang publik saja mereka tidak sedang segan-segan untuk melakukan sindiran-sindiran, hinaan-hinaan kepada ayah daripada anak kandungnya sendiri, tidak menutup kemungkinan di ruang tertutup hal itu juga sering dilakukan. Mencoba untuk mendoktrin anak-anak supaya tidak mau berkumpul dengan ayahnya atau mungkin ada ketakutan-ketakutan,” pungkas Minola Sebayang. (dtc)
