SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Aroma sate yang dibakar berpadu dengan kuah soto khas Minang menjadi daya tarik tersendiri di Festival Kuliner Serpong (FKS) ke-14. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Sate dan Soto Padang Piaman Laweh, yang membawa resep warisan keluarga dari Pariaman, Sumatera Barat.
Reza Favlevi, Pemilik atau pengelola Sate dan Soto Padang Piaman Laweh mengatakan, sajian mereka memiliki ciri khas pada pilihan daging dan kuahnya.
“Ciri khas kita berbagai macam daging. Ada daging khas, lidah, usus, ayam, jantung. Jantung-jantung, bukan daging jantung ya, yang disebut daging, malah jantung yang disebut ya,” ujarnya kepada Satelit News saat ditemui di FKS ke-14 yang digelar Summarecon Mall Serpong (SMS), Jumat (21/8/2026).
Selain pilihan lauk yang beragam, ciri khas lainnya terletak pada warna kuah soto. Jika soto Pariaman pada umumnya berwarna merah, kuah Piaman Laweh justru tampil kuning kecokelatan.
“Dan untuk kuahnya kita memang warnanya kuning kecokelatan. Ciri khas Pariaman itu memang merah gitu, cuma di kita warnanya cokelat kekuningan gitu,” katanya.
Cita rasa tersebut bukan hasil modifikasi baru. Resep kuah yang digunakan Piaman Laweh merupakan resep warisan keluarga yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Bukan Cendol Biasa, Cindua Winata Punya Dua Jenis Cendol dan Ampiang Ketan dari Payakumbuh
“Saya asli orang Pariaman, dari orang tua bapak asli Pariaman. Sampailah almarhum dari pertama saya lahir pun memang udah kuahnya orang tua almarhum bikinnya kuahnya kayak gini,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah kuah tersebut sama dengan soto yang biasa ditemukan di Pariaman, ia menjelaskan bahwa ada perbedaan warna.
“Kalau Pariaman itu aslinya merah gitu, cuma kita aja yang warnanya seperti ini,” katanya.
Resep keluarga itu telah menjadi bagian dari perjalanan usaha mereka sejak puluhan tahun lalu. Piaman Laweh disebut telah berdiri sejak 1980, sebelum kemudian usaha tersebut berdiri sendiri pada 1985 oleh orang tuanya.
“1980 sebenarnya, cuma pas mulai udah berdiri sendiri nih, ’85 orang tua saya,” ujarnya. Kini, usaha tersebut telah memasuki generasi kedua.
“Kedua, dari almarhum bapak ke ibu, berikut dengan saya gandengannya. Diikut sertakan gitu, diajak,” katanya.
Untuk menikmati sajian tersebut, pengunjung dapat memilih berbagai jenis sate dengan harga yang berbeda. Sate daging dan lidah masing-masing dibanderol Rp50.000 per porsi. Sementara sate usus dan ayam Rp45.000, sedangkan sate jantung Rp32.000.
“Untuk sate daging kita Rp50.000an, untuk lidahnya Rp50.000, untuk yang usus, ayam Rp45.000, dan yang jantung itu Rp32.000,” ujarnya.
Meski membawa nama Piaman Laweh, sajian tersebut tidak didatangkan langsung dari Pariaman. Pengelola mengatakan mereka kini menetap di Jakarta dan menjalankan usaha dari rumah serta mengikuti berbagai event kuliner.
“Stay kita di Jakarta. Terlalu jauh kayaknya kalau kita dari Padang ke sini langsung gitu,” ujarnya.
Saat ini, Piaman Laweh belum memiliki banyak cabang. Aktivitas penjualan lebih banyak dilakukan dari rumah, mengikuti event, serta melalui kanal daring.
“Baru di rumah aja sama event-event aja. Gitu, kita lebih aktif di online,” katanya.
Bagi Piaman Laweh, perbedaan warna kuah justru menjadi identitas tersendiri. Keikutsertaan Sate dan Soto Padang Piaman Laweh dalam FKS ke-14 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sajian dengan resep keluarga tersebut kepada pengunjung Serpong. Di tengah beragam kuliner yang hadir dalam festival, mereka membawa satu hal yang tetap dipertahankan: cita rasa keluarga yang berakar dari Pariaman. (aditya)




















