SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemprov Banten, bakal menambah premi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) ditahun 2027 mendatang. Tindakan itu dilakukan, sebagai upaya menjaga agar petani tidak dirugikan ketika mengalami gagal panen alias puso.
Kepala Bidang (Kabid) Prasarana Distan Provinsi Banten Saeful Bauri Memun mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan premi asuransi, bagi petani padi yang mengalami puso alias gagal panen akibat musim kemarau.
Namun, kata dia, di tahun 2026 ini pihaknya hanya bisa memberikan premi untuk lahan pertanian seluas 2000 hektare, atau hanya sebagian kecil dari luasan lahan pertanian di Provinsi Banten secara keseluruhan.
“Klaimnya yaitu untuk satu hektar sebesar Rp6 juta, tahun ini kita hanya mampu seluas 2000 hektar. Kalau dikalikan dengan luasan lahan, berarti sekitar Rp12 miliaran ditahun ini,” katanya, Minggu (23/8/2026).
Saeful menerangkan, tidak semua petani bisa melakukan klaim AUTP, kecuali sudah terdaftar sebagai peserta asuransi tersebut. Setiap anggota, tidak dikenakan biaya sepeserpun karena semuanya ditanggung Pemprov Banten sebagai upaya mensejahterakan petani.
“Satu tahun murni petani tidak membayar satu rupiah pun, iuran atau premi sebesar Rp185 ribu di tanggung semuanya oleh Pemprov Banten atas arahan Pak Gubernur (Andra Soni-red),” ujarnya.
Baca Juga: DPRD Banten Pertanyakan Kekosongan Kepsek Hingga Plt Dirut RSUD
Saeful mengatakan, Pemprov Banten bakal menambah kuota untuk pemberian asuransi kepada para petani. Tujuannya, agar para petani tidak mengalami kerugian besar ketika terjadi gagal panen karena kemarau atau banjir dan becana lainnya.
“Siap tahun depan kita coba tambah tiga kali lipat luasannya. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan ini, para petani tidak terbebani ketika terjadi gagal panen,” tandasnya.
Diketahui, Berdasarkan data yang didapat dari Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, luasan areal pesawahan yang terkena dampak kemarau pada akhir Juli lalu hanya sekira 1.790 hektare.
Namun, dipertengahan Agustus ini, luasan lahan yang mengalami kekeringan menjadi 2.666,25 hektare.
Adapun sawah yang mengalami kekeringan itu yakni, di Kabupaten Pandeglang tepatnya tersebar di 20 kecamatan atau 46 desa dengan luasan 865 hektare.
Dari jumlah itu, sekora 14 hektare mengalami puso, 18 hektare pulih, 595 hektare panen, dan 355, hektare terancam.
Baca Juga: Pemprov Banten Janji Segera Isi Kekosongan Jabatan Kepsek
Kemudian di Kabupaten Lebak kekeringan menyerang 11 kecamatan atau tersebar di 24 desa dengan lahan seluas 330 hektare.
Dari jumlah itu, sekira 14 hektare lahan pulih, dua hektare terancam, 90 hektare mengalami kekeringan ringan, 133 hektare kekeringan ringan, dan 107 hektare kekeringan berat.
Selanjutnya, di Kabupaten Serang kekeringan areal pesawahan terjadi di 12 kecamatan dan tersebar di 48 desa dengan luasan 976 hektare. Dari luasan itu, 137,5 hektare mengalami puso, 234 hektare pulih, 99 hektare panen, dan 279 hektare terancam.
Kekeringan juga terjadi, di peswahan di Kabupaten Tangerang, ada 16 kecamatan atau 39 desa yang terkena dampak dengan luasan 457,75 hektare. Dari jumlah itu sekira 119,75 hektare mengalami puso, 20 hektare pulih, 41 hektare panen, sisanya terancam.
Sedangkan di Kota Serang, sawah yang mengalami kekeringan tersebar di tiga kecamatan atau tujuh kelurahan dengan luasan 37 hektare. Dari jumlah itu, 17 hektare mengalami puso, delapan hektare pulih, sisanya terancam.
Jaenudin perani asal Desa Bojongpandan, Kecamatan Tunjungteja mengaku tidak mengetahui adanya program tersebut. Kata dia, selama ini tidak ada informasi dari kelompok tani (poktan) atau penyuluh pertanian.
“Kurang tahu kalau ada program itu, kalau tahu pasti sudah daftar asuransi dari awal. Apalagi sekarang musim kemarau dan sawah kering, ini kan enggak ada pemberitahuan,” pungkasnya.
Fahrurojo petani lainnya, menyayangkan minimnya informasi yang sampai kepada para petani terkait hal itu. Seharusnya, kata dia, setiap informasi program atau hal lain yang menyangkut pertanian, disampaikan kepada para petani.
“Enggak tahu juga, entah karena enggak diberi tahu atau hanya sebagian saja yang diberitahukan. Tapi apapun itu, kita sih tetap ingin agar pertanian ini berjalan, apalagi dimusim kemarau sekarang, airnya susah, padahal dekat dengan sungai Ciujung,” imbuhnya. (adib)


















