SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Kekeringan memaksa warga Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, memanfaatkan air Sungai Cimanceuri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, penggunaan air sungai yang keruh dan berbau tersebut mulai dikeluhkan karena sejumlah warga mengalami gatal-gatal dan muncul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
Seorang warga Desa Karang Tengah, Amah, mengatakan masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Cimanceuri telah memanfaatkan air sungai tersebut selama kurang lebih lima bulan. Air digunakan untuk berbagai kebutuhan, di antaranya mencuci pakaian, mencuci peralatan rumah tangga, hingga mandi.
Kondisi tersebut terjadi lantaran kekeringan yang melanda wilayah itu akibat kemarau ekstrem. Meski kondisi air Sungai Cimanceuri terlihat keruh dan berbau karena adanya tumpukan sampah, warga tetap memanfaatkannya karena tidak memiliki sumber air alternatif yang memadai di sekitar permukiman.
“Kurang lebih sekitar lima bulan sejak kekeringan melanda wilayah ini. Mau bagaimana lagi, hanya ada air ini yang dapat kita manfaatkan,” kata Amah kepada Satelit News, Sabtu (19/9).
Namun, terlalu sering menggunakan air Sungai Cimanceuri secara langsung mulai menimbulkan keluhan kesehatan. Amah mengaku kulit tubuhnya mulai mengalami gatal-gatal hingga muncul bintik-bintik kemerahan. Selain itu, ia juga mengaku mengalami demam dan batuk selama kemarau berlangsung.
Menurut Amah, selama sekitar lima bulan kekeringan melanda, warga di wilayahnya belum mendapatkan bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Tangerang.
“Udah gatal-gatal, ini kayak tangan saya udah mulai bintik-bintik, digaruk malah makin nambah gatal dan berbekas. Kalau bantuan air bersih dari pemerintah selama ini belum ada, untuk minum kita beli air isi ulang,” tuturnya.
Baca Juga: World Cleanup Day, Ramai-ramai Bersihkan Sungai Cisadane Tangerang
Karena mengalami keluhan tersebut, Amah kini sudah tidak lagi menggunakan air sungai untuk mandi. Ia memilih membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Meski demikian, dirinya berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Menurutnya, bantuan tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Semenjak gatal-gatal saya pakainya air galon untuk mandi. Kami berharap bantuan air bersih bisa segera tiba,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan, penyaluran bantuan air bersih telah dilakukan secara rutin ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan.
“Bukan rencana lagi, setiap hari kami dari BPBD, PDAM, PMI dan lain-lain, setiap hari mengirim air bersih,” kata Taufik.
Dirinya menduga bantuan belum terkirim ke wilayah tersebut karena masyarakat belum melapor, sehingga kondisi itu tidak terpantau oleh pemerintah setempat.
Karena itu, Taufik meminta seluruh pejabat wilayah memantau kondisi warganya dan segera melaporkan jika terdapat kebutuhan air bersih.
“Para kades atau lurah agar terus memonitor wilayahnya melalui ketua RT dan RW, dan masyarakat, apabila ada kejadian kebakaran dan kebutuhan air bersih kepada Pusdalops BPBD Kabupaten Tangerang dengan menghubungi Call Center 112,” ujarnya.
Baca Juga: Di Depan 1.490 Mahasiswa UNTARA, Kasdim Tigaraksa Tekankan Empat Pilar Kebangsaan
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi mengatakan pihaknya akan segera menerjunkan tim medis untuk melakukan pengecekan kesehatan warga.
Ia juga mengatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang untuk mengecek kondisi air Sungai Cimanceuri.
“Kita cek dulu warganya, dan kita juga akan koordinasi dengan DLHK untuk pemeriksaan air sungai,” katanya. (alfian/aditya)
















