SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Dr Warsito resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) untuk periode 2025–2029. Warsito menggantikan almarhum Dr Desri Arwen yang wafat beberapa waktu lalu.
Pelantikan berlangsung di Aula Lantai 19 UMT, Jumat (25/9/2026) pagi. Prosesi tersebut turut dihadiri keluarga almarhum Desri Arwen, termasuk sang istri, Hj Suryati, yang tampak terharu mengenang perjuangan mendiang suaminya dalam membangun UMT.
Sejumlah tokoh pendidikan dan organisasi Muhammadiyah juga hadir dalam pelantikan tersebut. Di antaranya Kepala LLDIKTI Wilayah Jabar-Banten, jajaran pengurus Muhammadiyah Banten dan Kota Tangerang, serta Ketua APTISI Banten yang juga Rektor Universitas Raharja, Prof Dr Po Abas Sunarya. Perwakilan dari Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang turut hadir.
Usai dilantik, Warsito langsung dihadapkan pada sejumlah agenda strategis untuk membawa UMT berkembang menjadi perguruan tinggi berorientasi global. Salah satu target jangka panjangnya adalah menggeser posisi UMT dari Excellent Teaching University menuju Research University.
“Visi kita kan universitas kelas dunia. Arahnya ke depan universitas mendunia. Kalau melihat milestone kita saat ini, kita memang ke Excellent Teaching University. Tapi untuk periode 2037, kita mengarah kepada Research University,” ujar Warsito kepada awak media.
Menurut dia, transformasi tersebut membutuhkan tahapan yang terukur dan tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, berbagai program penguatan akademik, penelitian, sumber daya manusia, hingga infrastruktur akan menjadi bagian dari agenda kepemimpinannya.
Baca Juga: Dr Warsito Resmi Jabat Rektor UMT Periode 2025-2029
Dalam waktu dekat, salah satu terobosan yang disiapkan adalah penambahan program studi. UMT menargetkan pembukaan dua program studi jenjang doktor (S3), lima program studi jenjang magister (S2), serta sekitar tiga hingga lima program studi jenjang sarjana (S1).
“Terobosan pertama kita itu akan menambah jumlah prodi. Untuk prodi S3 kita akan buka dua prodi. Kemudian untuk S2 kita akan tambah lima, dan S1 sekitar tiga sampai lima prodi. Itu untuk terobosan dalam waktu dekat,” katanya.
Selain penambahan program studi, UMT juga tengah mempersiapkan pembukaan Fakultas Kedokteran. Warsito mengatakan peluncuran fakultas tersebut ditargetkan berlangsung dalam waktu dekat.
“Untuk Fakultas Kedokteran, insyaallah minggu depan sudah launching. Harapan kami, pada saat wisuda nanti sudah bisa kita berikan informasi tentang Fakultas Kedokteran,” ujarnya.
Warsito juga menempatkan peningkatan reputasi dan pengakuan internasional sebagai salah satu agenda penting UMT dalam lima tahun mendatang.
Saat ini, kata dia, UMT telah masuk dalam pemeringkatan UI GreenMetric, yang salah satunya menilai aspek keberlanjutan perguruan tinggi. UMT juga mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti pemeringkatan Times Higher Education (THE).
Baca Juga: Berita Duka Cita: Rektor UMT Dr Desri Arwen, M.Pd Wafat
“Sekarang UMT itu sudah masuk ke UI GreenMetric. Itu pemetaan kelas dunia. Dan sekarang kita sedang mempersiapkan ke THE. THE itu juga termasuk pemeringkatan kelas dunia,” jelasnya.
Menurut Warsito, masuk dalam pemeringkatan internasional merupakan bagian dari tahapan menuju target UMT sebagai universitas berkelas dunia. Penguatan tersebut akan dilakukan secara bertahap selama masa kepemimpinannya.
Enam Bulan Pertama Fokus Benahi Layanan
Untuk enam bulan pertama kepemimpinannya, Warsito memilih memprioritaskan peningkatan kualitas layanan dan sarana penunjang pembelajaran.
Hal tersebut sejalan dengan target UMT sebagai Excellent Teaching University. Pembenahan akan diarahkan pada berbagai fasilitas yang berhubungan langsung dengan aktivitas akademik mahasiswa, mulai dari perpustakaan, laboratorium hingga sarana pendukung pembelajaran lainnya.
“Kalau enam bulan, kita lebih kepada layanan. Karena arah kita sekarang Excellent Teaching University. Sarana prasarana penunjang teaching kita optimalkan supaya stakeholder, dalam hal ini mahasiswa utamanya, merasa puas dengan layanan kita,” kata Warsito.
Selain layanan pendidikan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dosen, juga menjadi perhatian. UMT saat ini memiliki dua guru besar. Warsito menyebut terdapat target peningkatan jumlah guru besar dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, UMT akan membentuk tim percepatan sekaligus memanfaatkan pendampingan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).
“Saat ini guru besar kita baru dua. Tantangannya dua tahun ke depan harus meningkat. Memang di situ butuh tim untuk percepatan,” ujarnya.
Warsito mengatakan saat ini terdapat sekitar 38 dosen UMT yang telah memiliki jabatan akademik lektor kepala. Potensi tersebut akan didorong agar semakin banyak dosen yang dapat mencapai jenjang guru besar.
“Kita LK saat ini sudah 38. Kalau misalkan 30 persen saja bisa masuk ke guru besar, itu sudah banyak,” katanya.
Siapkan Tata Kelola Pemanfaatan AI
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam kepemimpinan Warsito. Menurutnya, AI merupakan perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari sehingga perguruan tinggi perlu menyiapkan diri untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab.
Di UMT, pemanfaatan teknologi tersebut telah berjalan melalui sistem yang terintegrasi dan didukung Biro Teknologi Sistem Informasi (BTSI).
“AI itu sesuatu yang enggak bisa kita tolak. Justru kita memberikan rencana. Di kita ada Biro Teknologi Sistem Informasi. Sekarang sistem kita sudah terintegrasi, itu juga dibantu oleh AI,” tuturnya.
Ke depan, UMT akan melakukan sosialisasi penggunaan AI kepada dosen dan tenaga kependidikan (tendik). Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat pelayanan sekaligus meningkatkan kualitas layanan akademik dan administrasi.
“Pertama kita akan memberikan sosialisasi terkait AI kepada dosen, kemudian kepada tendik, supaya mereka juga dalam proses memberikan layanan bisa cepat,” katanya.
Di sisi lain, UMT juga akan menyiapkan regulasi mengenai penggunaan AI di lingkungan kampus, khususnya terkait aktivitas pembelajaran dan tugas mahasiswa.
Menurut Warsito, regulasi diperlukan agar pemanfaatan AI tetap berada dalam koridor akademik yang tepat, termasuk dalam pengerjaan tugas dan tugas akhir mahasiswa.
“Nanti di tingkat universitas akan membuat regulasi bagaimana penggunaan AI untuk mahasiswa. Kalau tugas itu bentuknya seperti apa, kemudian kaitan tugas akhirnya seperti apa,” ujarnya.
Penyusunan regulasi tersebut nantinya melibatkan Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pengajaran UMT. Sementara sosialisasi awal mengenai AI, khususnya kepada dosen dan tenaga kependidikan, mulai dipersiapkan bersama tim BTSI.
Warsito menegaskan, pemanfaatan AI akan menjadi bagian dari upaya UMT meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mempersiapkan sivitas akademika menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat.
Dengan berbagai agenda tersebut, periode kepemimpinan 2025–2029 akan menjadi fase penting bagi UMT untuk memperkuat kualitas pembelajaran, memperluas program akademik, meningkatkan produktivitas riset, mengembangkan sumber daya manusia, serta memperluas pengakuan perguruan tinggi di tingkat internasional. (made)

















