SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menorehkan sejarah baru dengan membuka Fakultas Kedokteran (FK). Pembukaan FK ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) Pendirian Fakultas Kedokteran dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV No.1140/B/0/2026 oleh Dr Lukman selaku Kepala kepada Rektor UMT Dr Warsito di Ruang Rapat Rektorat, Selasa (6/10/2026).
Kepada awak media, Lukman mengatakan UMT menjadi perguruan tinggi swasta (PTS) pertama di Provinsi Banten yang memperoleh SK pendirian Fakultas Kedokteran setelah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sebagai perguruan tinggi negeri.
Menurut Lukman, pendirian Fakultas Kedokteran bukan proses yang mudah maupun murah. UMT membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk mempersiapkan berbagai persyaratan yang ditetapkan pemerintah. “Pendirian kedokteran ini tidak mudah dan tidak murah. Syaratnya untuk bisa membuka kedokteran itu luar biasa sulit,” ujar Lukman usai acara.
Dia menjelaskan, perguruan tinggi yang ingin membuka Fakultas Kedokteran harus memenuhi sejumlah persyaratan ketat. Di antaranya, perguruan tinggi harus memiliki status akreditasi unggul, memiliki minimal satu program studi bidang kesehatan, serta menyiapkan sedikitnya 26 dosen.
Selain itu, perguruan tinggi juga wajib menyiapkan sedikitnya 11 laboratorium, rumah sakit pendidikan, serta fakultas pembina. Seluruh persyaratan tersebut harus dipenuhi sebelum izin pendirian diberikan. “Alhamdulillah, Universitas Muhammadiyah Tangerang selama satu tahun ini persiapannya luar biasa. Sudah kami serahkan SK,” katanya.
Meski SK telah diterbitkan, Lukman mengingatkan UMT bahwa tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas pendidikan kedokteran. Untuk tahap awal, UMT hanya diperbolehkan menerima maksimal 50 mahasiswa.
Baca Juga: UMT Wisuda 3.038 Lulusan, Rektor Tekankan Kompetensi dan Soft Skill di Era AI
Pembatasan tersebut diberlakukan untuk memastikan rasio dosen dan mahasiswa tetap ideal sehingga kualitas pembelajaran dan praktik kedokteran dapat terjaga. “Untuk menjaga kualitas. Bayangkan, dosen 26, mahasiswa hanya 50. Karena kedokteran ini terkait dengan nyawa,” jelasnya.
Lukman menambahkan, kapasitas penerimaan mahasiswa dapat ditingkatkan setelah program studi tersebut memperoleh Akreditasi Unggul. Jika sudah mencapai status tersebut, kapasitas penerimaan dapat mencapai maksimal 250 mahasiswa. “Setelah unggul, itu bisa menerima sampai 250,” ujarnya.
Dia berharap keberadaan Fakultas Kedokteran UMT dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi putra-putri daerah Banten untuk menempuh pendidikan kedokteran. LLDikti juga mendorong UMT menyediakan beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Menurut Lukman, pemerintah siap memberikan dukungan beasiswa melalui skema KIP Kuliah sesuai dengan kuota yang disediakan UMT. “Harapan kami, ini satu-satunya prodi kedokteran yang ada di Provinsi Banten, mohon dijaga, dirawat, dan syukur-syukur lebih banyak porsinya untuk putra daerah di Banten dan juga ada beasiswa untuk mahasiswa yang tidak mampu,” katanya.
Lukman mengungkapkan, proses pembukaan program studi kedokteran di Indonesia memang sangat selektif. Dari lebih dari 500 perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan program studi kedokteran, hingga saat ini baru sekitar 150 yang telah mendapatkan SK operasional di seluruh Indonesia.
Khusus di Provinsi Banten, saat ini terdapat dua perguruan tinggi yang telah memperoleh izin tersebut, yakni Untirta dan UMT. “Di Indonesia sendiri yang mengusulkan itu lebih dari 500. Sampai hari ini yang sudah ada SK operasional kurang lebih hanya 150 se-Indonesia. Nah, di Banten hanya ada dua. Satu Untirta, satu Universitas Muhammadiyah Tangerang,” ungkapnya.
Baca Juga: Dr Warsito Resmi Dilantik Jadi Rektor UMT 2025-2029, Sejumlah Agenda Besar Menanti
Dia menilai capaian UMT menunjukkan kesungguhan perguruan tinggi tersebut dalam memenuhi persyaratan pembukaan Fakultas Kedokteran. Perguruan tinggi lain di Banten juga memiliki peluang untuk membuka program studi serupa, tetapi harus terlebih dahulu memenuhi persyaratan, terutama terkait status akreditasi dan tata kelola perguruan tinggi.
Sarpras 100 Persen Siap
Sementara Rektor UMT, Dr Warsito, memastikan sarana dan prasarana (sarpras) untuk menunjang pendidikan kedokteran telah disiapkan secara maksimal. Menurut Warsito, UMT bahkan menyiapkan 12 laboratorium, atau satu laboratorium lebih banyak dari standar minimal yang ditetapkan pemerintah. “Kalau untuk sarpras, saat ini sudah 100 persen kita siap. Pemerintah mensyaratkan 11 lab, kita malah melebihi dari 11, ada 12 lab yang kita siapkan,” kata Warsito.
Salah satu fasilitas yang disiapkan adalah laboratorium anatomi. Fasilitas tersebut dilengkapi dua cadaver yakni laki-laki dan perempuan serta teknologi anatomi digital tiga dimensi untuk mendukung proses pembelajaran mahasiswa kedokteran. UMT saat ini memiliki dua cadaver, masing-masing laki-laki dan perempuan.
Warsito mengatakan, fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya mencetak dokter yang memiliki kompetensi profesional, tetapi juga memiliki karakter dan integritas yang baik. Menurut dia, pendidikan kedokteran di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) juga menekankan aspek Al-Islam dan karakter mahasiswa. “Jadi, mereka punya kemampuan profesional di kedokteran, tapi dia juga memiliki karakter Islami yang baik, kemudian integritas yang baik, kemampuan sosialnya yang baik,” ujarnya.
Secara keseluruhan, UMT merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah ke-24 yang memiliki Fakultas Kedokteran. Dari total 165 perguruan tinggi PTMA di Indonesia, sebanyak 24 di antaranya telah memiliki Fakultas Kedokteran. Untuk mendukung praktik mahasiswa, UMT juga telah menyiapkan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit satelit melalui kerja sama dengan sejumlah fasilitas kesehatan.
Rumah Sakit Dr. Sitanala menjadi salah satu rumah sakit pendidikan yang bekerja sama dengan UMT. Selain itu, UMT memiliki kerja sama dengan empat rumah sakit satelit, termasuk PKU Muhammadiyah Cipondoh, rumah sakit di Kabupaten Tangerang, serta RSUD Kota Tangerang. Rumah sakit-rumah sakit tersebut nantinya menjadi lokasi praktik mahasiswa dalam menjalani pendidikan klinis.
Warsito menambahkan, kegiatan akademik Fakultas Kedokteran UMT ditargetkan mulai berjalan pada akhir Oktober 2026. Pada tahap awal, UMT menargetkan penerimaan maksimal 50 mahasiswa sesuai ketentuan pemerintah. Tim penerimaan mahasiswa baru UMT pun tengah berupaya memenuhi kuota tersebut sebelum masa penerimaan mahasiswa ditutup sesuai ketentuan yang berlaku.
Acara ini selain dihadiri oleh civitas akademika UMT, juga turut disaksikan oleh keluarga Alm Desri Arwen selaku Rektor sebelumnya, dalam hal ini ialah Hj Suryati selaku istri beserta putra-putrinya. (made)




















