SATELITNEWS.COM, SERANG – Kasus Muhamad Juned (4), balita penderita stunting dan gizi buruk asal Kampung Kenari, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, menjadi perhatian Relawan Fesbuk Banten News (FBN).
Pasalnya, Juned sempat terbaring lebih dari tiga bulan dalam kondisi memprihatinkan, sementara tempat tinggalnya berada tidak jauh dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kini, Juned tengah menjalani perawatan di RSUD Banten dan didampingi relawan FBN. Sebelumnya, Pemerintah Kota Serang juga telah mendatangi keluarga Juned, untuk mengetahui kondisi dan melakukan penanganan terhadap persoalan yang dihadapi keluarga tersebut.
Direktur Fesbuk Banten News (FBN), Lulu Jamaludin, menilai kasus Juned perlu menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program pemenuhan gizi, khususnya bagaimana keberadaan SPPG dapat benar-benar menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
“Kalau ada balita penderita stunting dan gizi buruk yang tinggal hanya beberapa langkah dari dapur SPPG, tetapi kondisinya sampai terbaring berbulan-bulan dan baru diketahui setelah ada laporan relawan, tentu ini harus menjadi bahan evaluasi,” ujar Lulu, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, persoalan stunting tidak cukup hanya dilihat dari distribusi makanan bergizi. Diperlukan mekanisme deteksi dan pendampingan, agar anak-anak yang mengalami persoalan gizi di sekitar wilayah pelayanan dapat diketahui sejak awal.
Baca Juga: Dua Pelaku Penusukan Calon Penumpang Bus di Kota Serang Ditangkap
“Fungsi SPPG jangan berhenti pada memasak dan mendistribusikan makanan. Harus ada keterhubungan dengan data balita, posyandu, puskesmas dan lingkungan sekitar. Jangan sampai program berjalan, tetapi anak yang membutuhkan justru luput dari perhatian,” ujarnya.
Lulu menegaskan, kritik tersebut bukan untuk menyalahkan keberadaan SPPG maupun program Makan Bergizi Gratis. Sebaliknya, FBN mendorong agar program tersebut semakin efektif dan menyentuh masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Ini bukan soal mencari siapa yang salah. Ini soal bagaimana program besar pemerintah benar-benar hadir sampai kepada anak yang membutuhkan. Kasus Juned harus menjadi momentum untuk melihat kembali sistem pendataan, deteksi dini dan pendampingan di lapangan,” ujarnya lagi.
Juned sebelumnya dibawa ke IGD RSUD Banten menggunakan ambulans relawan FBN, setelah keluarga menghubungi relawan karena keterbatasan ekonomi. BPJS PBI Juned disebut aktif, namun keluarga kesulitan membiayai transportasi, kebutuhan makan dan biaya operasional selama menjalani pengobatan dan kontrol.
FBN berharap penanganan Juned tidak berhenti pada perawatan di rumah sakit. Setelah kondisi medisnya membaik, diperlukan pendampingan berkelanjutan agar pemulihan gizi dan tumbuh kembangnya dapat dipantau secara berkala.
“Juned jangan hanya diselamatkan hari ini. Setelah keluar dari rumah sakit, harus ada sistem yang memastikan dia tidak kembali ke kondisi sebelumnya,” tutur Lulu.
Baca Juga: Polda Banten Selidiki Dugaan Penambangan Tanah Uruk di Kota Serang
Program pemenuhan gizi, menurut FBN, pada akhirnya harus diukur dari seberapa jauh anak-anak yang paling rentan benar-benar teridentifikasi, mendapatkan intervensi dan memperoleh pendampingan hingga kondisi gizinya membaik. (adib)





















