SATELITNEWS.ID, TANGERANG—Curah hujan yang tinggi membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang bersiaga menghadapi potensi banjir. Apalagi, sudah hampir sepekan hujan terus mengguyur Kota Tangerang. Namun demikian kondisi yang terjadi saat ini dinilai masih aman.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Febi Darmawan mengatakan, saat ini situasi telah memasuki status siaga bencana. “BMKG (Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika) memprediksi (adanya) cuaca ekstrem. Nah, kami saat ini sudah dalam keadaan siaga terus,” ujarnya, Rabu, (27/01).
Oleh karenanya, BPBD Kota Tangerang menambah peralatan yang dibutuhkan untuk mengantisipasi bencana banjir. Sepeti tenda pengungsian dan perahu. Terlebih, pihaknya juga telah melakukan pelatihan siaga bencana dan hal ini berlangsung di setiap kecamatan. “Penambahan alat sudah ada dari tahun kemarin. Ada beberapa perahu dan juga tenda. Termasuk pelatihan,” tuturnya.
Walau debit air masih dalam keadaan normal, BPBD Kota Tangerang juga hendak menambah tempat relokasi korban banjir selain menyiapkan peralatan dan personel yang dibutuhkan. “Untuk antisipasi kemungkinan banjir di 2021 ini, (kami) sudah menyiapkan tempat untuk relokasi korban banjir,” ungkap Febi.
Tercatat, ada 18 wilayah yang masuk kategori rawan banjir. Wilayah tersebut yakni Kelurahan Periuk Jaya, Batu Ceper, Panunggangan Barat, Uwung Jaya, Nambo Jaya, Pabuaran Tumpeng, Cipadu Jaya, Gaga, Cipadu, Kreo dan Kreo Selatan.
Selain itu ada pula kelurahan Larangan Utara, Sudimara Selatan, Paninggilan Utara, Paninggalan, Pedurenan, Panunggangan Utara dan Pinang. Di antara 18 kelurahan tersebut, Kelurahan Larangan Utara sempat menjadi wilayah yang RW-nya terendam banjir paling banyak, yaitu 10 RW.
Baca Juga: Bakar Sampah, Lahan Kosong di Karawaci Terbakar hingga 200 Meter Persegi
Sedangkan, Kelurahan Panunggangan Barat, Uwung Jaya dan Pinang sempat menjadi wilayah yang RW-nya terendam banjir paling sedikit, yaitu satu RW tiap kelurahan. Lalu, titik terendah ketinggian genangan tersebut setinggi 20 sentimeter. Kemudian, titik tertinggi banjir itu mencapai 300 cm.
Febi juga menambahkan, beberapa wilayah tersebut memang menjadi wilayah rawan banjir. “Penyebab banjir itu, biasanya, karena bantaran kali lebih tinggi dari pemukiman. Sama mepet juga antara bantaran kali dengan pemukiman,” katanya.
Kepala Bidang Tata Air untuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Mursiman menambahkan, antisipasi banjir telah dilakukan jauh-jauh hari. Seperti menyediakan pompa air di wilayah rawan banjir. Serta penampungan air.
“Kecepatan pompa air yang kita terapkan di wilayah rawan banjir itu 300 liter per menit. Alhamdulilah cukup efektif. Di Periuk misalnya banjir berlangsung menghilang di samping kita juga tengah merampungkan tanggul,” ujarnya.
Menurut Mursiman banjir besar yang terjadi di Kota Tangerang pada awal tahun 2020 diperkirakan tidak akan terulang. Lantaran, kata dia menurut prediksi BMKG banjir besar seperti itu akan terjadi 100 tahun kemudian. “Itu perkiraan ya banjir 100 tahunan. Jadi mungkin akan terjadi lagi di tahun 2120. Tapi tetap kita akan memaksimalkan kemampuan kita untuk mencegah banjir,” jelasnya. (irfan/made)
























