SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Suasana Pasar Tradisional Tigaraksa atau yang biasa disebut Pasar Gudang kini tak seramai dulu. Sejumlah kios di pasar yang berada di Kecamatan Tigaraksa itu bahkan mulai tutup karena sepinya pengunjung.
Kondisi tersebut diduga dipicu maraknya belanja online dan keberadaan pasar tumpah di sejumlah titik wilayah Kecamatan Tigaraksa. Akibatnya, omzet pedagang offline mengalami penurunan drastis. Beberapa pedagang pun memilih gulung tikar, Selasa (1/9/2026).
Pengelola Pasar Gudang Tigaraksa, Acep Jayadiwira, mengatakan hampir separuh dari total 350 pedagang di Pasar Tradisional Tigaraksa kini memilih gulung tikar akibat penurunan omzet yang sangat drastis.
Menurut Acep, kondisi tersebut terjadi karena semakin sepinya pembeli yang berkunjung ke Pasar Tradisional Tigaraksa.
“Dari sekitar 350 pedagang, kini hampir setengahnya sudah gulung tikar, terutama para pedagang di lantai dua. Pada hari Minggu yang seharusnya menjadi momentum panen bagi pedagang pasar, ini justru tetap sepi,” kata Acep Jayadiwira kepada Satelit News, Selasa (1/9).
Menurut Acep, sepinya Pasar Tradisional Tigaraksa yang berujung pada banyaknya pedagang gulung tikar diduga akibat maraknya pasar online dan pasar tumpah yang ada di sejumlah titik di wilayah Kecamatan Tigaraksa. Khususnya pasar tumpah yang sering beroperasi di dekat RSUD Tigaraksa setiap Sabtu dan Minggu.
Baca Juga: Peringati Hari Lahir Kejaksaan, Kejari Kabupaten Tangerang Ziarah ke Makam Raden Aria Wangsakara
“Selain faktor belanja online, kehadiran pasar kaget yang beroperasi setiap hari Sabtu dan Minggu di kawasan RSUD Tigaraksa hingga area Pemda turut merebut pangsa pasar mereka. Sekitar 70 persen pembeli justru beralih ke pasar tumpah,” ujarnya.
Kata Acep, kondisi paling parah terjadi di Pasar Tigaraksa lantai dua atau lantai paling atas yang didominasi pedagang komoditas pakaian.
Guna meminimalisir sepinya pengunjung Pasar Tradisional Tigaraksa, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kabupaten Tangerang guna mencari solusi terkait penertiban pasar tumpah. Langkah tersebut dilakukan agar roda ekonomi pedagang di Pasar Tradisional Tigaraksa tetap terjaga.
“Kalau di lantai dua itu benar-benar parah karena kita nggak bisa bersaing dengan online. Kalau untuk konsultasi, kita sudah pernah ke Satpol PP Kabupaten untuk segera ditertibkan atau dicari solusinya perihal pasar tumpah. Jangan sampai hari Minggu yang tadinya pedagang pasar bisa panen, akhirnya pembeli 70 persen ke sana semua,” tambahnya.
Sementara itu, guna memancing minat masyarakat untuk kembali berbelanja ke Pasar Gudang Tigaraksa, pihak pengelola sebenarnya telah melakukan berbagai inovasi secara mandiri.
Mulai dari menggelar gantangan atau lomba burung berkicau hingga mengadakan kegiatan senam pagi rutin setiap hari Minggu di area pasar.
Baca Juga: TKA SMK di Kabupaten Tangerang Disosialisasikan, Sekolah Diminta Bersiap
Di sisi lain, menurut dia, munculnya kompetitor baru seperti Pasar Sodong yang diduga milik swasta juga menambah beban dan persaingan ketat bagi para pedagang yang sudah ada.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Perumdam Pasar Niaga Kerta Raharja selaku induk pengelola dapat meninjau ulang regulasi dan izin pendirian pasar tradisional baru yang berdekatan.
“Harusnya pemerintah meninjau ulang. Buat apa ada pasar tradisional yang dikelola sama BUMD kalau mudah banget mendirikan pasar-pasar (baru) seperti itu. Regulasinya yang harus ditekankan oleh pemerintah daerah,” pungkasnya.
Salah satu pedagang baju di Pasar Tradisional Tigaraksa, Kelurahan Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Dayat, mengaku kondisi Pasar Gudang kini tidak seperti dahulu. Setiap hari, kata dia, pasar biasanya ramai pengunjung, terlebih saat akhir pekan.
Namun, kondisi itu kini berubah. Pasar semakin sepi dan terbilang kurang diminati pengunjung.
“Saya kurang tahu penyebab pastinya apa, tetapi bila dibandingkan lima tahun ke belakang, saat ini sangat jauh berbeda. Kondisi pasar tidak seramai dulu, mungkin karena banyak online shop, pasar tumpah, dan juga banyak yang menjual pakaian di dekat rumah masing-masing pedagang,” ujarnya. (alfian/aditya)
























