SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Warga Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, digegerkan oleh fenomena ratusan ayam mati mendadak selama satu pekan terakhir. Hingga saat ini, pihak Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Pandeglang masih terus melakukan penanganan.
Dokter hewan Puskeswan Pembantu Cibaliung, Binarta mengatakan, ratusan ayam yang mati mendadak terjadi di tiga Desa di Kecamatan Cigeulis. Ketiga Desa itu yakni, Desa Tarumanegara, Ciseureuheun, dan Desa Karangbolong.
“Kemarin untuk Kampung Cipeuteuy, Desa Ciseureuheun, dalam seminggu terakhir ada seratusan ekor lebih ayam, dari total populasi seribu ekor, kalau ditiga desa bisa mencapai 300 ekor lebihan, karena kolega kita mendapatkan jumlah yang sama,” kata Binarta, Minggu (19/1/2025).
Ditanya terkait penyakit yang menyebabkan kematian ratusan ayam secara mendadak itu, dia mengaku, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan, karena masih menunggu hasil uji laboratorium terlebih dahulu.
“Kalau dari gejala di bangkai hewan yang mati itu, gejalanya pembengkakan diarea kepala, perubahan warna di kepala dan dada lebih kepada keunguan. Kematian itu, biasanya karena ada pendarahan dibagian dalam. Dari informasi warga juga di hari sebelumnya tanpa gejala, tahu-tahu sehari kemudian mati,” tambahnya.
“Untuk virus ada dua kemungkinan, bisa AI (Avian Influenza atau flu burung), bisa juga ND (Newcastle Disease atau tetelo), karena kedua jenis virus menyebabkan penyakit mendadak, kami masih menunggu hasil Lab,” sambungnya.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Masih Melanda, Warga Desa Idaman Pandeglang Butuh Penanganan Serius
Binarta juga mengaku, pihaknya telah melakukan beberapa upaya agar masyarakat bisa hati-hati, dan ikut membantu mencegah penyebaran virus tersebut. Diantaranya, dengan segera melakukan karantina terhadap hewan yang mengalami gejala sakit.
“Kemarin saat tiba dilokasi, tim Puskeswan melakukan penyuluhan kepada masyarakat setempat, kami sosialisasikan apabila ada hewan mereka yang muyung atau sakit, harap dikarantina atau diisolasi, khawatirnya dibiarkan bebas menular ke ayam lain,” terangnya.
“Kami juga menyampaikan, apabila menemukan bangkai harap dibakar jangan dibuang ketempat sembarangan seperti sungai atau kali, karena bisa menyebar melalui aliran air dan akan semakin sulit diatasi. Kami juga menginformasikan, untuk sementara ini meminimalisir bersentuhan dengan ayam yang sekiranya sakit, apabila terlanjur segera cuci tangan sampai bersih,” tutupnya.
Sastru, warga Kecamatan Cigeulis mengaku tidak mengetahui penyakit yang menyebabkan ayam miliknya mati meskipun telah diberikan obat tradisional. Kejadian itu, sangat mengkhawatirkan karena banyak ayam warga yang mati mendadak.
“Enggak tahu, karena enggak ada gejala. Kita kasih obat biasa, obat tradisional dan jamu untuk ayam yang masih hidup. Semoga saja persoalan ayam mati mendadak ini bisa segera ada solusinya,” imbuhnya. (adib)

















