SATELITNEWS.COM, SERANG—Rencana Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah yang ingin melakukan kelompok usaha bersama antara Bank Banten (BB) dengan Bank Jabar Banten (bjb), sulit dilakukan. Hal ini dikarenakan telah adanya regulasi atau Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 tahun 2020 tentang Konsolidasi Bank Umum (KBU). Dimana BB dan Bank Jawa Timur (Jatim), saat ini tengah melakukan penjajakan KUB sejak tahun 2024 lalu.
Komisaris Bank Banten, Rina Dewiyanti kemarin menilai penjajakan KUB yang tengah dilakukan Pemprov Banten untuk BEKS dan Jatim saat ini masih berjalan. Adapun rencana dengan bjb bisa ditempatkan sebagai langkah peningkatan layanan dan sinergi bisnis.
“Pada prinsipnya KUB ini merupakan proses yang telah dilakukan oleh Bank Banten sesuai POJK No 12 tahun 2020 yang hingga saat ini masih berjalan dengan Bank Jatim. Namun Bank Banten juga tetap membuka peluang kerjasama dengan bank lain. Dan kami tetap tunduk kepada OJK sebagai regulatornya. Demikian gambaran umumnya,” kata Rina.
Ia menegaskan, meski ada rencana yang telah dikemukakan oleh A Dimyati Natakusumah, belum lama ini yang menyatakan hendak membangun KUB antara BB dengan bjb, sambil meninggalkan Bank Jatim, namun kenyataannya progres tetap berjalan seperti sedia kala. Karenanya, penjajakan antara Bank Banten dengan bjb yang dijembatani pemprov merupakan kerjasama hal lainnya.
“Artinya progres KUB sampai dengan saat ini tetap berjalan dengan Bank Jatim dan penjajakan dengan bjb merupakan kerja sama dalam hal peningkatan layanan dan sinergi bisnis,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Gubernur Banten, A Dimyati Natakusumah, menyebut Bank Jatim mengulur waktu untuk finalisasi KUB dengan BB. Pihaknya menuding Bank Jatim hanya mencari untung semata, dan enggan mengambil resiko. Karenanya dia bersikeras mengajak bjb dan Bank Banten untuk segera membangun KUB.
Baca Juga: Resmikan Gedung Baru Bank Banten Pandeglang, Dimyati: Ekonomi Daerah Akan Tumbuh
“Bank Jatim ini ngulur-ngulur waktu. Dia mau nyari untungnya saja, nggak mau ada resiko. Dia ingin no risk. Malah permasalahan Bank Banten di masa lalu dia hitung, sehingga perhitungan Bank Jatim dengan due diligentnya itu tidak sesuai harapan kita. Kalau dengan Bank Jatim, nanti dia ingin bagaimana bisnis untungnya profit oriented-nya. contohnya Cilegon saja sekarang masih bjb,” pungkasnya. (rus/rmg)
























