SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Gubernur Banten Andra Soni mengklaim bahwa dengan adanya tim pengendalian banjir yang telah terbentuk penanganan masalah banjir di wilayah Tangerang Raya akan lebih terintegrasi dan efektif. Hal itu ia sampaikan dalam peluncuran uji coba Program MBG di SKH 01 Pondok Aren Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (28/4).
Andra mengatakan, tim tersebut sudah mulai bekerja dan bertugas untuk mengurangi dampak banjir di Provinsi Banten, khususnya di kawasan Tangerang Raya yang meliputi Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.
“Timnya sudah terbentuk, sambil kita sedang memetakan dan kemudian nanti akan bersama-sama dengan kabupaten kota yang ada di Tangerang Raya. Insya Allah saya akan ngantornya di Balai Latihan Kerja Provinsi Banten yang ada di Melati Mas,” ujarnya.
Menurut Andra, tim pengendali banjir sudah menjalani tugasnya masing-masing. Kata dia, ini menjadi wadah agar pelaksanaan program terkait penanganan banjir dijamin lebih terintegrasi.
“Jadi kalau selama ini kan parsial, Tangerang Selatan mengerjakan Tangerang Selatan. Kota Tangerang mengerjakan kota Tangerang. Kabupaten bekerja di bagian kabupaten. Nah kalau sekarang terintegrasi. Termasuk kita bekerja sama, berkoordinasi dengan pemerintah daerah khusus Jakarta,” ungkapnya.
Dirinya menjelaskan, walaupun sudah berkantor di Tangerang Selatan, fokus utamanya tetap membangun tiga wilayah pembangunan. Meskipun wilayah lain seperti Lebak dan Pandeglang juga memiliki tantangan tersendiri, Andra menegaskan bahwa isu utama di Tangerang Raya adalah penanganan banjir yang membutuhkan kerja sama antar wilayah.
Baca Juga: Program Magang ke Jepang Minim Peminat, Di Banten Baru 73 Pendaftar
“Kalau di wilayah selatan, isunya adalah ketimpangan atau disparitas antara selatan dan utara terkait dengan infrastruktur. Nah, kalau di Tangerang raya, fokus kita adalah bagaimana ke depan kita bisa mengatasi banjir ini secara bersama-sama. Nah, walaupun ini sulit sekali,” sambungnya.
Walaupun begitu, orang nomor satu di tanah jawara ini menyatakan penanganan banjir tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, lanjut dia, pembangunan yang masif disisi lain turut berdampak lantaran menurunnya lahan resapan air.
“Kemudian juga pendangkalan sungai, kemudian juga tadinya sungai kita yang lebarnya bisa 40 meter, sekarang sisa sedikit. Nah, ini harus secara komprehensif, harus kita lakukan sebuah upaya dalam rangka bagaimana mengatasi masalah banjir, mengurangi dampak banjir,” jelasnya.
Andra mencontoh seperti kasus banjir di Perumahan Pondok Maharta, Kecamatan Pondok Aren itu perlu adanya penanganan dari hulu hingga hilir. Maka, kata Andra, dengan adanya tim pengendali banjir akan mensinergikan gagasan antar daerah dalam menyelesaikan persoalan banjir.
“Contoh, Maharta. Maharta itu ada di wilayah Tangerang Selatan. Kemudian di bawahnya ada Fortune, Duren Villa, ada Ciledug Indah. Itu juga banjir. Nah, di tengahnya siapa yang nangani, di hulunya siapa yang nangani, di hilir siapa yang nangani,” ungkapnya.
“Maka tim pengendalian banjir tadi tugas utamanya nanti adalah membuat sebuah upaya dan kemudian nanti akan melahirkan atau saran masukkan kepada gubernur untuk mengeluarkan kebijakan tertentu dalam rangka mengatasi banjir di provinsi Banten khususnya Tangerang raya,” ujar Andra. (eko)
Baca Juga: Pantau PGA GAK di Pasauran, Gubernur Andra Tegaskan Hal Ini
























