SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Esih (44), warga Kampung Cihanjuang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, membutuhkan uluran tangan. Sejak ditinggal mati suaminya empat tahun lalu, dia berjuang sendiri menghidupi ketiga anaknya.
Esih merupakan satu dari sekian banyak warga Kabupaten Pandeglang, yang hidup dibawah garis kemiskinan. Setiap harinya, dia hanya bisa menghasilkan uang Rp30 sampai Rp50 ribu yang didapat sebagai kuli kebun. Jauh dari kata cukup, bahkan kurang, tetapi itulah kenyataan yang diterimanya dengan ikhlas.
Sepeninggal suaminya, Esih berjuang agar ketiga anaknya yakni Siswanto (12), Akbar (10), dan Ikbal (7) bisa tetap hidup dan bisa tetap makan setiap harinya, meski dengan menu seadanya dan secukupnya. Beberapa hari lalu, janda tiga anak ini merasa getir karena tidak memiliki beras untuk dimasak dan uang untuk belanja tidak sepeserpun.
Tetapi tuhan tidak meninggalkan hambanya yang bersabar, dihari yang sama dirinya mendapatkan bantuan atau donasi dari Relawan Rumah Yatim yang selalu rutin berbagi diwilayah Selatan Pandeglang. Keluarga sederhana itu bisa makan dan tersenyum atas uluran tangan orang yang peduli.
Kesehariannya sebagai kuli kebun tidak pernah dikeluhkan, meski hanya mendapatkan upah seadanya, tetapi cukup untuk menyambung hidup. Berjarak lima kilometer dari rumahnya, wanita paruh baya ini tidak pernah lelah demi ketiga buah hatinya yang menantikan rezeki setiap hari.
Ketidak berdayaan Esih dalam ekonomi, menyebabkan anak pertamanya Siswanto harus putus sekolah, meskipun tidak ada program sekolah geratis untuk tingkat Sekolah Dasar (SD). Himpitan ekonomi itu juga, menghimpit harapan anaknya untuk mengenyam pendidikan.
Baca Juga: Erupsi GAK Terus Meningkat, Sekolah di Pandeglang Berlakukan BDR
Bukan hanya kesulitan untuk makan dan sekolah, sekeluarga ini pun tinggak dirumah yang jauh dari kata layak, dinding rumah yang terbuat dari bilik sudah lapuk dimakan usia, banyak bolong, dan tidak layak. Digubuk reyod itulah, keempatnya selalu meratapi nasib, sambil ikhlas menerima kenyataan.
Rumah berukuran enam kali empat meter itu, menjadi tempat peristirahatan keluarga sederhana yang selalu mensukuri rezeki yang diberikann Ilahi setiap harinya. Ditengah keterbatasan itu, keluarga ini tidak pernah mengeluh secara berlebihan, hanya air mata yang bisa menggambarkan keterpurukan mereka.
Sambil menahan air mata, Esih bercerita rumahnya sempat roboh dan luluh lantah terkena bencana angin puting beliung dan cuaca ekstrem. Sambil mengelus dada, dia hanya bisa pasrah saat ini dan tidak tahu harus tinggal dimana. Tetapi, rumah itu bisa kembali ditempati meski kondisinya jauh dari kata layak.
“Hancur rumahnya, tetapi ada tetangga yang ngasih bagian bangunan atau bilik, walaupun memang enggak layak. Sedih pak, tetapi mau bagaimana lagi,” kata Esih tak kuasa membendung air mata, Selasa (10/6/2025).
Ditengah hujan air mata, Esih mengingat beberapa hari lalu dia tidak memiliki beras untuk dimasak dan uang untuk belanja. Sementara ketiga buah hatinya sudah merasa lapar dan ingin makan. Dia kemudian mendatangi tetangganya untuk meminjam beras, meskipun tidak ada jawaban jelas atas permintaannya itu.
“Kemarin beras enggak ada, saya minta tolong ke tetangga pinjam beras lima liter, nanti akan diganti. Tetapi gimana enggak ada jawaban. Ini dapat bantuan Alhamdulillah pak, terima kasih,” tangis Esih semakin keras.
Baca Juga: Abu Vulkanik Erupsi GAK Hujani Pandeglang, Bupati Dewi: Gunakan Masker dan Kacamata
Sambil menyeka air mata, Esih kembali melanjutkan kenangannya semasa anaknya masih sekolah. Selama itu, anaknya tidak pernah merasakan memakai seragam sekolah dan sepatu baru. Semuanya hasil dari pemberian tetangga atau kerabat yang merasa iba melihat kondisinya.
“Selama anak-anak sekolah, mereka belum pernah merasakan memakai seragam sekolah dan sepatu baru. Semua seragam dan sepatu yang dipakai anak-anak adalah sumbangan dari orang lain yang merupakan seragam bekas dan juga sepatu bekas,” katanya, sambil menutup wajah.
Ditengah suramnya kehidupan yang dijalani, Esih mendapat sedikit harapan, karena masih ada pihak yang iklas merelakan sebagian hartanya untuk membantu warga kurang mampu. Meski hanya sederhana dan seadanya, namun bantuan yang diterima itu seperti barang mewah bagi keluarga ini.
“Saya sangat bersyukur dan terharu. Terima kasih banyak kepada Rumah Yatim yang masih peduli kepada kami, tadinya bingung mau bagaimana nanti makannya,” ungkapnya, dengan mata berkaca-kaca.
Anggota Relawan Rumah Yatim, Eri Priatna mengatakan, melalui bantuan ini, diharapkan Ibu Esih dapat terus menjalani hari-harinya dengan lebih ringan dalam memenuhi kebutuhan anak-anak yang diasuhnya. Meski tidak seberapa, namun bantuan yang diberikan ini merupakan rezeki dari yang maha kuasa untuk hambanya yang membutuhkan.
“Kalau untuk urusan dapat bantuan dan tidak dari pemerintah, Abang nggak menanyakan. Tetapi yang jelas abang fokus untuk membantu kepada Ibu esih dan anak-anaknya tanpa menyinggung perasaan pihak lain,” pungkasnya.
Eri mengatakan, pihak Relawan Rumah Yatim kembali menyalurkan bantuan biaya hidup kepada Ibu Esih, seorang ibu tangguh yang mengurus tiga anak yatim di Kampung Cihanjuang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Keseharian janda itu, kata dia, bekerja sebagai kuli serabutan di kebun milik orang lain dan menerima upah seadanya. Bantuan yang diberikan ini merupakan bagian dari program rutin Rumah Yatim yang terus menyentuh masyarakat prasejahtera, terutama mereka yang mengasuh anak-anak yatim.
“Ini sudah kesekian kalinya kami membantu Ibu Esih, baik dalam program Ramadan, pendidikan, maupun program-program lainnya. Relawan Rumah Yatim berkomitmen untuk terus hadir membantu masyarakat yang membutuhkan,” imbuhnya. (adib)
























