SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (BEM UMT) menggelar kegiatan bertajuk Sekolah Intelektual Revolusioner, Jumat (4/7/2025), di kampus utama UMT, Cikokol, Kota Tangerang.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Banten A. Dimyati Natakusumah, yang memberikan kuliah umum sekaligus pesan-pesan kritis kepada mahasiswa.
Mengangkat semangat perubahan progresif, kegiatan ini menghadirkan kombinasi pemikiran dari kalangan pemetintah dan aktivis. Tak kurang dari 500 peserta hadir dari berbagai daerah di luar Banten.
“Saya hadir karena undangan dari BEM. Saya senang karena mereka ini adalah calon pemimpin masa depan. Mereka mulai belajar politik secara sehat meskipun disiplin ilmunya berbeda-beda,” ujar Dimyati Natakusumah.
Dimyati menyebut bahwa kegiatan yang bertema revolusioner seperti ini sangat dibutuhkan di tengah tantangan besar yang dihadapi Provinsi Banten.
“Revolusioner itu artinya perubahan cepat, bukan pelan-pelan. Kita sudah tertinggal dari daerah lain, bahkan negara lain. Banten punya banyak uang, tapi belum sepenuhnya maju. Ini persoalan yang harus dikritisi secara progresif dan terukur oleh anak-anak muda seperti mahasiswa,” tegasnya.
Dalam orasinya, Dimyati mendorong mahasiswa untuk tetap menjadi agen perubahan dan agen kontrol. Ia menyambut baik jika mahasiswa bersikap kritis. Bahkan mengingatkan bahwa dirinya lebih suka diawasi ketimbang dipuji.
“Saya senang mereka mengawasi kita. Jangan kompromi! Kalau ada yang menyimpang, bilang ke saya. Kalau nggak bisa, ya demo! Bukan zamannya mahasiswa diam dan menyenangkan penguasa. Kritik saya, rekam setiap ucapan saya kalau perlu,” katanya.
Dimyati juga menolak pendekatan kolaboratif yang bersifat “kongkalikong”. Menurutnya, kolaborasi yang sehat harus tetap konstruktif, tanpa menghilangkan semangat kritis mahasiswa.
“Kalau mahasiswa kolaborasi tapi cuma untuk menyenangkan penguasa, itu bukan kolaborasi, itu cilaka 12. Indonesia bisa gagal kalau mahasiswa ikut-ikutan kompromi. Saya minta beri masukan yang kritis dan progresif untuk Banten,” tambahnya.
Presiden Mahasiswa UMT, Asrul, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata keinginan mahasiswa untuk tidak sekadar bersuara, tetapi memberikan kontribusi pemikiran nyata terhadap pembangunan, khususnya di wilayah Banten.
“Kita ingin menggabungkan perspektif negara dan aktivis. Kita sebagai mahasiswa berada di tengah, menjadi pengkritik yang objektif. Jangan sampai kita termakan hoaks atau tipuan media sosial. Kami ingin memberi solusi, bukan hanya menyalahkan,” jelas Asrul.
Menurutnya, 500 peserta yang hadir — termasuk dari luar Banten — adalah wujud bahwa gerakan intelektual mahasiswa masih relevan dan dibutuhkan. Ia juga berharap Sekolah Intelektual Revolusioner ini dapat menjadi tradisi intelektual tahunan.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMT, Dr Enawar menyampaikan bahwa pihak kampus sangat mendukung kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini lahir dari refleksi mendalam atas berbagai kegelisahan sosial dan politik yang dirasakan mahasiswa.
“Gerakan ini bukan artifisial. Ini lahir dari kegelisahan mahasiswa tentang pendidikan, kebudayaan, bahkan muatan lokal. Ketika mahasiswa berbicara soal berpikir kritis dan bergerak revolusioner, itu adalah kekuatan. Kalau bukan mahasiswa, siapa lagi?” kata Enawar.
Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan gerakan seperti ini, agar tidak berhenti pada forum diskusi belaka. Menurutnya, konsistensi adalah indikator utama gerakan yang berkualitas.
“Gerakan mahasiswa harus sistemik dan terukur, tidak hanya improvisasi. Harus ada kesinambungan dari forum ke forum. Inilah makna revolusioner yang sesungguhnya, bukan sekadar jargon, tetapi perencanaan dan pelaksanaan yang matang,” pungkasnya. (mg01)