SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Bagi orang Banten, bulan Muharram atau dikenal sebagai Bulan Suro dalam penanggalan Sunda dan Jawa, sangatlah istimewa, karena di bulan ini ada salah satu tradisi unik yaitu memasak bubur suro. Bubur tersebut, dimasak oleh orang Sunda Banten saat memasuki tanggal 10 Muharram atau disebut juga dengan hari Asyuro.
Proses memasak bubur, biasanya dilakukan secara gotong royong oleh para ibu di setiap kampung. Setelah matang, bubur tersebut dimakan bersama-sama dan didahului dengan prosesi doa oleh tetua kampung, dengan tujuan memohon keselamatan bagi seluruh penghuni kampung.
“Tradisi ini, sudah lama ada di desa kami. Bahkan sejak saya masih kecil, sudah ada. Nah agar tetap lestari, maka kami himpun dalam bentuk Festival Bubur Suro yang diselenggarakan di Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupatén Pandéglang,” kata Kepala Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Wahyu Kusnadihardja, disela kegiatan Festival Bubur Suro di desanya, Minggu (6/7/2025).
Kata Kades, ada 8 Rukun Tetangga ( RT) yang mengikuti festival ini. Selain itu, ada pula dua Sekolah Dasar (SD) yang ikut berpartisipasi yaitu SDN Bandung 1 dan 2. Tak hanya itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta Forum Pelestari Terumbu Karang (FPTK) Banten, juga ikut memeriahkan festival rakyat tersebut.
Salah satu peserta festival bubur Suro yaitu, Mastoah dari RT 002 RW 004, bubur suro adalah makanan yang dimasak untuk meneladani kisah Nabi Nuh.
“Kata orang tua dan ustadz di kampung kami, bubur Suro ini untuk mengingatkan kami pada kisah Nabi Nuh saat banjir besar diturunkan Allah SWT, untuk mengadzab kaumnya. Karena sudah berhari-hari berlayar, stok makanannya habis, jadi beras yang tersisa disatukan dengan kacang-kacangan dan kemudian dimasak menjadi bubur supaya jadi banyak. Sehingga, bisa dimakan oleh seluruh orang dan hewan yang ada di kapal Nabi Nuh,” tuturnya.
Baca Juga: Korsleting Listrik, 1 Rumah di Cimanuk Pandeglang Ludes Terbakar
Ucapan perempuan setengah baya ini juga, dibenarkan oleh rekannya Arsamah, yang menambahkan bahwa Bubur Suro ada beberapa versi. Ada yang versi original, hanya dicampur kacang-kacangan, ada yang versi manis karena dicampur dengan gula merah, dan ada juga yang versi ditambahkan sayuran mentah serta terasi yang sudah disangrai,bsehingga mirip sekali dengan masakan khas Banten lainnya yaitu bubur sop.
Versi lainnya, bahkan agak mirip dengan bubur ayam pada umumnya karena dilengkapi dengan suwiran daging ayam, dadar telur, emping, serta sate dari telur puyuh.
Untuk diketahui, pernyataan para ibu warga Desa Bandung tersebut, senada dengan apa yang ditulis dalam kitab Nihayatuz Zain karya ulama besar asal Banten Syekh Nawawi Al Bantani.
Dalam kitab itu dijelaskan, Bubur Suro bahan utamanya adalah beras yang kemudian dicampur dengan biji gandum, dan aneka kacang kacangan, yang konon jumlahnya ada 7 jenis.
Untuk bumbunya, menurut Arsamah, ada beberapa yang wajib diantaranya bawang merah, bawang putih, jahe, dan serai. Seluruh bumbu diulek, ditumis kemudian dicampurkan ke air untuk memasak bubur. Di beberapa daerah di Pandeglang, selain bumbu itu ditambahkan lagi bumbu lainnya yaitu, kunyit hingga buburnya berwarna kekuningan mirip bubur ayam kuah kuning.
Oh ya, keunikan lainnya, tampak dalam proses memasak. Bubur yang dimasak di wajan ukuran besar tersebut, tidak diaduk dengan sendok sayur seperti biasa. Namun diaduk menggunakan tongkat, yang dibuat dari batang tanaman kecombrang atau honje.
Baca Juga: Andra Soni: Irigasi Cisata Pandeglang Tingkatkan Produktivitas Petani
Hal ini dipercaya, bisa menambah kelezatan bubur tersebut. Namun, dalam festival Bubur Suro di Kecamatan Banjar, untuk mengaduk buburnya menggunakan pelepah kelapa yang sudah dipipihkan bagian ujungnya, untuk meniru dayung dari perahu Nabi Nuh.
Tak sekedar dayung, pelepah kelapa juga dipercaya bisa menambah rasa nikmat bubur, karena memiliki sedikit sentuhan rasa manis.
Dekorasi atau hiasan dalam festival ini juga, terbilang unik karena stan-stan setiap RT dihiasi dengan janur atau daun kelapa yang masih muda. Tidak sekadar janur, masyarakat membentuk stan menjadi perahu untuk mengingat perahu Nabi Nuh.
Agar menambah kemeriahan, di sela-sela stan, masyarakat menampilkan aneka atraksi budaya. Mulai dari menumbuk lesung, yang biasanya dilakukan saat panen, hingga pertunjukan rebana serta angklung oleh ibu-ibu, anak anak, dan para pemuda setempat.
Namun atraksi yang paling unik, ada di stan RT 04. Ada seorang nenek tua sesepuh RT tersebut, yang biasa dipanggil dengan nama Ambu Kabay, mempertunjukkan atraksi memakan sirih yang saat ini sudah langka sekali di lakukan oleh perempuan-perempuan Sunda.
Padahal menurut Ambu Kabay, tradisi memakan sirih atau biasa disebut dengan nyeupah, dipercaya bisa menjaga kesehatan gigi dan mulut, serta menguatkan gigi agar tidak mudah ompong walaupun usianya sudah lanjut.
Di stand tersebut juga, ada seorang Ibu bernama Tatu, memajang janur yang dihiasi dengan buah – buahan lokal asal desa tersebut, mulai dari buah pala, buah mengkudu atau dalam Bahasa Sunda disebut Cangkudu. Ada pula buah yang berkhasiat obat yaitu, buah Mahkota Dewa.
Hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi. Dalam sambutannya mengatakan, Bubur Suro merupakan tradisi unik dan tradisional yang harus terus dilestarikan.
“Terlebih lagi, di dalamnya ada nuansa doa, serta rasa syukur masyarakat, atas apa yang sudah diberikan oleh sang pencipta. Pemerintah Daerah (Pemda), sangat support dan mengapresiasi kegiatan tersebut,” ungkapnya.
Menjelang waktu makan siang, acara tersebut berakhir dan ditutup dengan pembagian bubur kepada masyarakat yang hadir, yang kemudian memakannya bersama-sama.
Tampak seluruh masyarakat setempat, beserta para pejabat dan tamu undangan, dengan lahap dan nikmat menyantap Bubur Suro itu. (mardiana)























