KOTA TANGERANG–Langit siang itu tampak redup di kawasan Kali Angke. Sejumlah petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang tampak sibuk menurunkan alat berat ke tepi sungai. Lumpur dan sampah yang menumpuk di dasar saluran mulai diangkat satu per satu. “Kalau ini nggak dibersihin, air bisa meluap pas hujan besar nanti,” ujar seorang petugas sambil menyeka peluh di dahi.
Pemandangan semacam ini kini mudah dijumpai di berbagai sudut Kota Tangerang. Menjelang puncak musim penghujan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang tengah bergerak cepat menyiapkan infrastruktur pengendali banjir agar tetap berfungsi optimal.
Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang, Dr. Taufik Syahzaeni, S.T., M.Si., M.Sc, menjelaskan bahwa seluruh tim telah dikerahkan sejak awal November. “Kami sudah mulai menggencarkan persiapan menjelang puncak musim penghujan yang diprediksi November sampai Februari. Semua alat berat sudah turun untuk memastikan sungai, saluran, dan embung berfungsi normal,” ujarnya.
Dinas PUPR memastikan pemeliharaan sistem pengendali banjir berjalan di semua lini. Dari penataan turap, normalisasi drainase, hingga pemeliharaan pintu air dan pompa air. Semua perangkat ini menjadi garda terdepan pengendalian banjir di kota yang dilintasi banyak aliran sungai ini.
“Monitoring kami lakukan rutin. Begitu ada yang tidak berfungsi, langsung kami perbaiki. Kami ingin memastikan seluruh infrastruktur siap menghadapi hujan ekstrem,” tambah Taufik.
Selain pemeliharaan fisik, Dinas PUPR juga melakukan pemetaan ulang terhadap wilayah-wilayah rawan genangan. Langkah ini diambil berdasarkan data lapangan terbaru dan pengalaman genangan di awal tahun.
Baca Juga: Kerusakan Jalan Teuku Umar Karawaci Akhirnya Diperbaiki
“Kami sedang menyusun pemetaan kawasan rawan banjir. Ada beberapa penyesuaian dibandingkan tahun lalu,” jelas Taufik.

Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang, Dr. Taufik Syahzaeni, S.T., M.Si., M.Sc. (ISTIMEWA)
Fokus utama, kata dia, tetap diarahkan ke bantaran Kali Angke di wilayah timur dan Kali Sabi di wilayah barat, yang kerap terdampak luapan air ketika hujan turun deras. Selain itu, kawasan seperti Kali Wetan, Kali Serua, dan Bendung Sarakan di perbatasan Kabupaten Tangerang juga masuk dalam daftar prioritas pemantauan.
Satu langkah strategis lainnya adalah memperkuat kerja sama lintas wilayah. Pemkot Tangerang kini memiliki pos pantau debit air di luar wilayah kota, seperti di Batu Beulah dan Tajur (Bogor), serta Perumahan Mutiara (Tangerang Selatan).
“Pos pantau ini kami bangun untuk memantau potensi banjir kiriman dari hulu. Kalau debit air di sana naik, kami bisa cepat ambil tindakan di hilir,” terang Taufik.
Upaya lintas sektoral ini menjadi bagian dari sistem mitigasi terpadu agar Pemkot bisa bertindak cepat sebelum air kiriman tiba di wilayah Tangerang.
Dengan kesiapsiagaan yang menyeluruh, Kota Tangerang membuktikan diri sebagai kota yang tidak hanya siap menghadapi musim penghujan, tetapi juga bergerak lebih dulu demi keselamatan warganya.(adv)
Baca Juga: SIM Keliling Kota Tangerang Sabtu 5 September, Ada di Dua Lokasi
























