SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Erupsi Gunung Anak Krakatau berjenis strombolian akibat magma cair dengan tekanan gas sedang. Episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, tetapi aktivitas vulkanik masih tinggi sehingga status Siaga tetap berlaku.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan karakter tersebut dalam konferensi pers, Minggu (6/9). Erupsi strombolian ditandai letusan-letusan kecil yang berulang secara teratur dan dapat melontarkan lava pijar, bom vulkanik, serta lapili ke udara.
“Untuk letusan Gunung Anak Krakatau ini jenisnya strombolian akibat magma cair dengan tekanan gas sedang. Jadi, terjadi letusan-letusan kecil yang berulang secara teratur,” kata Teuku.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat sejak awal Juli. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026.
Berdasarkan rekaman instrumental PVMBG, episode gempa erupsi menerus mulai tercatat pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berhenti pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Selama periode tersebut, erupsi disertai semburan lava atau lava fountain, suara gemuruh, dan dentuman.
Setelah episode tersebut berakhir, PVMBG mencatat satu erupsi susulan bertipe strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik. Erupsi tersebut untuk sementara diinterpretasikan sebagai penanda akhir episode sebelumnya.
Beberapa erupsi masih terpantau hingga Minggu pagi, meski frekuensinya mulai menurun dibandingkan aktivitas pada 4 September malam. Penurunan amplitudo seismik juga terlihat pada 6 September.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Belum Tenang Meski Aktivitas Erupsi Menurun
Namun, Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menegaskan kondisi tersebut belum dapat diartikan sebagai berhentinya aktivitas vulkanik. “Bahwa dinamikanya masih sangat tinggi sehingga penurunan ini belum tentu menunjukkan bahwa aktivitasnya terhenti seperti itu,” ujar Siti.
Pemantauan instrumental menunjukkan energi aktivitas vulkanik yang diukur melalui rerata amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat meningkat pada 5 September, sebelum menunjukkan tren penurunan pada 6 September. Data tiltmeter Stasiun Tanjung juga masih menunjukkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus, sedangkan Stasiun Lava93 mencatat pola yang relatif mendatar.
PVMBG menilai potensi letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi. Karena itu, pemantauan dilakukan secara terus-menerus dengan menggabungkan berbagai sumber data, antara lain MAGMA Indonesia, BMKG, citra satelit BMKG, serta sejumlah stasiun pengamatan.
Sementara itu, erupsi menghasilkan kolom dan sebaran abu vulkanik dalam jumlah besar. Berdasarkan pemantauan satelit Himawari dan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin yang dikutip Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), abu terpantau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut, dengan arah dominan ke barat hingga barat daya.
Analisis BMKG pada Minggu (6/9) menunjukkan sebaran abu pada dua lapisan atmosfer dengan arah berbeda. Pada lapisan dari permukaan hingga sekitar 20.000 kaki atau 6,1 kilometer, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Pada lapisan hingga sekitar 50.000 kaki atau 15,2 kilometer, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Secara keseluruhan, sebarannya mencakup lima provinsi, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Baca Juga: Imbas Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Pemkot Tangerang Terapkan PJJ Mulai Hari Ini
Enam bandar udara menangguhkan sementara operasional penerbangan pada Minggu, yang berdampak pada ratusan penerbangan, termasuk di sejumlah bandara utama yang melayani Jakarta. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, penghentian tersebut berdampak terhadap 301 penerbangan, termasuk 58 penerbangan internasional.
Dentuman dan getaran akibat aktivitas erupsi juga dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Lampung, Banten, hingga Bandung. Fenomena tersebut diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau pada waktu yang sama.
Pada Minggu pukul 10.30 WIB, Siti mengatakan masih teramati gumpalan abu pekat yang terlepas dari kawah aktif dan bergerak di lapisan atmosfer atas. “Pada lapisan atas dengan ketinggian kurang lebih 50.000 feet, kami mengamati bahwa gumpalan abu pekat telah terlepas dari kawah aktif dan melayang ke arah barat daya melalui Samudra Hindia,” kata Siti.
Pada lapisan sekitar 20.000 kaki, emisi abu dari kawah Anak Krakatau terbawa angin ke arah barat. Sementara itu, sisa debu halus dari fase erupsi sebelumnya bergerak ke arah timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan.
Berdasarkan evaluasi tersebut, PVMBG mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Siti mengatakan status tersebut akan terus dievaluasi secara berkala dan tetap berlaku bersama seluruh rekomendasinya hingga diterbitkan laporan evaluasi berikutnya.
Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Potensi bahaya yang masih perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi. Paparan abu juga dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan ibu hamil, sehingga masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan masker.
Gunung Anak Krakatau terbentuk setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Pada 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh saat erupsi dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung serta menewaskan lebih dari 400 orang. (rmg/xan)
























