SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menurun tetapi gunung api di Selat Sunda itu belum sepenuhnya tenang.
Letusan susulan masih terjadi, kegempaan tetap tinggi sementara abu vulkanik terus bergerak hingga mencapai wilayah Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengatakan, berdasarkan pemantauan hingga Senin (7/9), intensitas erupsi kini lebih rendah dibandingkan fase sebelumnya.
“Menurut kami, BNPB per hari ini untuk kondisi erupsinya ini sudah menurun. Kami membandingkan kondisi 2026 ini dengan erupsi 2018, di mana di 2018 itu terjadi sama, hampir sama, tetapi tingkat erupsinya lebih tinggi daripada 2026,” ujar Suharyanto dalam rapat perkembangan penanganan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto melalui konferensi video.
Menurut Suharyanto, kemungkinan terjadi erupsi yang lebih besar relatif kecil. Namun, aktivitas Anak Krakatau masih berfluktuasi dan tetap dipantau. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus yang dimulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB berakhir Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung sekitar 25 jam. Setelah fase tersebut, aktivitas Anak Krakatau kembali berupa erupsi Strombolian.
“Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria.
Baca Juga: Jurnalis Asal Tangsel Hilang di Kawasan GAK, Ketua RT Berharap Ditemukan Selamat
Pada Minggu pukul 20.23 WIB, Anak Krakatau kembali erupsi dengan amplitudo maksimum 58 milimeter selama 44 detik. Pemantauan juga mencatat tiga gempa erupsi, sembilan gempa hembusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hybrid atau fase banyak, empat tremor menerus, dan satu gempa vulkanik dangkal.
Pemantauan terbaru pada Senin pukul 06.00–12.00 WIB menunjukkan kegempaan masih tinggi. Badan Geologi mencatat 17 gempa frekuensi rendah, 23 gempa hybrid atau fase banyak, dan sembilan tremor. Gempa hybrid mengindikasikan adanya rekahan batuan dan pergerakan fluida, sedangkan tremor mencerminkan pergerakan fluida dalam sistem gunung api.
Badan Geologi menyatakan aktivitas vulkanik tersebut menunjukkan erupsi masih dapat kembali terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, status Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga.
Pemantauan intensif dilakukan melalui Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten, dan Kalianda, Lampung. Data dari kedua pos tersebut dianalisis dan dievaluasi oleh para ahli gunung api Badan Geologi.
Potensi bahaya dalam beberapa periode ke depan masih cukup tinggi, terutama lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Aliran lava juga berpotensi muncul jika erupsi menerus kembali terjadi.
Abu vulkanik menyebar mengikuti pola angin pada berbagai ketinggian atmosfer. BBMKG Wilayah II melaporkan, pada lapisan hingga sekitar 4,57 kilometer, abu bergerak dari tenggara ke barat laut dan berpotensi mencapai Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya.
Baca Juga: Liput Aktivitas Gunung Anak Krakatau, Rombongan Wartawan Hilang Kontak
Pada lapisan hingga sekitar 15,24 kilometer, pergerakannya mengarah ke barat daya hingga barat, menuju Samudra Hindia serta wilayah Bengkulu, Lampung, dan Banten. Perbedaan arah tersebut dipengaruhi pola angin pada masing-masing ketinggian.
Dampaknya terasa pada penerbangan. Delapan bandara sempat ditutup sementara akibat abu vulkanik. Hingga Senin, Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatra Selatan, telah dibuka kembali setelah hasil paper test menunjukkan kondisi aman.
Tujuh lainnya—Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, dan Taufik Kiemas—masih ditutup hingga pukul 18.00 WIB. Pembukaan kembali bergantung pada perkembangan sebaran abu dan hasil pemeriksaan keselamatan penerbangan.
Abu juga mengganggu aktivitas masyarakat di sedikitnya empat provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatra Selatan. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan fasilitas.
“Artinya di bawah ini kondisi kehidupan masyarakat terganggu oleh abu vulkanik, tapi tidak ada dampak lanjutan misalnya ada yang luka atau ada fasilitas yang rusak,” kata Suharyanto.
Erupsi magmatik Anak Krakatau juga melepaskan sulfur dioksida (SO₂) dalam jumlah besar. “Gunung api yang mengalami magmatik melepaskan gas SO₂ dalam jumlah besar. Gas SO₂ tersebar ke wilayah yang luas karena terbawa angin. Jika gas SO₂ mencapai atmosfer tinggi, penyebarannya mengikuti angin di ketinggian tersebut,” ujar Lana.
Di atmosfer, SO₂ dapat bereaksi dengan air dan membentuk aerosol sulfat. NASA menjelaskan, dalam erupsi vulkanik yang sangat besar, partikel ini dapat bertahan berbulan-bulan hingga beberapa tahun dan memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke angkasa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pendinginan sementara, bergantung pada jumlah SO₂ dan ketinggian material dilepaskan.
Profesor riset atmosfer dan iklim BRIN Erma Yulihastin memperkirakan kolom utama erupsi Anak Krakatau mencapai 13–14 kilometer, mendekati tropopause.
“Intinya, kalau kolom abunya tinggi, untuk luruh kembali bisa terdistribusi ke segala arah,” kata Erma.
Jika tidak turun hujan, material sulfur dari erupsi utama secara umum dapat bertahan di atmosfer sekitar lima hari. Lama bertahan dan wilayah yang terdampak bergantung pada angin serta kondisi hujan.
Belum ada kepastian kapan rangkaian aktivitas Anak Krakatau berakhir. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono mengatakan erupsi baru benar-benar berhenti ketika pasokan magma dari kedalaman terputus dan tekanan di dalam gunung mereda.
“Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar,” ujarnya. (rmg/xan)
























