SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Ribuan pelajar dari 13 kecamatan se-Kota Tangerang memenuhi Stadion Benteng Reborn, Senin, (8/12). Di bawah terik matahari sore, deretan barisan kontingen berdiri rapih, suara drum band dan barongsai menggetarkan tribun. Pekan Olahraga Pelajar Kota Tangerang (Popkot) resmi dibuka, menandai dimulainya kompetisi multi-event terbesar bagi pelajar tingkat daerah tersebut.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, yang membuka langsung kegiatan ini, menyebut Popkot bukan sekadar ajang mencari juara. “Mudah-mudahan Popkot tahun ini bisa berjalan dengan lancar, bisa melahirkan atlet-atlet unggul yang membawa nama baik Kota Tangerang,” ujarnya usai acara pembukaan.
Namun ia menekankan, nilai olahraga jauh lebih besar dari sekadar podium dan medali. “Popkot ini untuk menumbuhkan semangat pantang menyerah, sportivitas, dan disiplin bagi generasi penerus bangsa. Insyaallah mereka bisa menjadi atlet internasional,” kata Sachrudin.
Dalam doorstop, Sachrudin tampak bersemangat ketika ditanya harapannya untuk para peserta. Ia menyebut pemerintah kota terus mendorong pembinaan atlet dari berbagai cabang olahraga.
“Harapannya mereka menjadi atlet andalan Kota Tangerang. Bisa juara di level provinsi, nasional, bahkan internasional. Pembinaan terus kita lakukan lewat cabang-cabang olahraga. KONI dan KORMI juga mendorong cabor agar semangat dalam pelatihan setiap hari,” ucapnya.
Ia juga menitip pesan khusus bagi para pelajar yang akan bertanding. “Manfaatkan momentum baik ini. Jadi pelajar yang berprestasi, bukan hanya di ilmu pengetahuan tapi juga kuat secara fisik dan mental. Biasanya olahragawan itu sportivitasnya tinggi, mau mengakui kelebihan dan kekurangan, dan mau terus belajar.”
Menariknya, Popkot tahun ini digelar dengan pendekatan sederhana. Ketika ditanya tentang anggaran, Wali Kota hanya menjawab singkat bahwa pelaksanaan bukan hanya bergantung pada APBD. “Kita dorong semua lapisan untuk berpartisipasi. Termasuk para camat,” ujarnya.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang, Kaonang, menjelaskan lebih detail: anggaran Popkot 2025 hanya digunakan untuk pembelian medali serta fasilitasi wasit dan juri.
“Yang lain tidak ada. Tidak ada baju kontingen, baju pertandingan. Bahkan sound system dan kursi kita pinjam dari kelurahan. Kesederhanaan ini semoga membuahkan hasil maksimal,” jelasnya.
Saat ditanya soal angka pasti anggaran, Kaonang mengaku tidak hafal. “Angkanya saya lupa, tetapi khusus pembelian medali dan untuk tim juri serta wasit,” katanya.
Dispora mencatat ada 23 cabang olahraga yang dipertandingkan. Namun tidak semua kecamatan memiliki peserta penuh. Misalnya, cabang tinju hanya diikuti empat kecamatan, sementara sepak bola dan atletik diikuti hampir seluruh kecamatan.
“Kekuatan tiap kecamatan berbeda karena peserta harus sesuai domisili sekolah, bukan domisili KK. Kalau tinggal di Jatiuwung tapi sekolah di SMA 1, maka masuk kontingen Kecamatan Tangerang,” tutur Kaonang.
Total ada 13 venue yang digunakan. Beberapa lokasi dipusatkan untuk dua cabor sekaligus, seperti tinju dan tenis meja di Koang. Sementara atletik berlangsung di Stadion Benteng Reborn, dan sepak bola akan digelar di Lapangan Nambo.
Selain prestise, ada kepentingan lain yang membuat Popkot tahun ini krusial. Para peraih medali, khususnya emas, secara otomatis mendapat nilai kredit untuk akses masuk sekolah favorit. Mereka juga masuk nominasi kuat untuk memperkuat skuad Kota Tangerang pada perhelatan Popda 2026 di Tangerang Selatan.
“Siapa pun yang mendapat medali emas hari ini, itu nominasi paling besar untuk jadi skuad Kota Tangerang,” kata Kaonang.
Dispora juga menyiapkan antisipasi terhadap risiko cedera. Tahun ini, mereka menggandeng BPJS Ketenagakerjaan serta sejumlah rumah sakit swasta. “Kita di-support CSR dari Rumah Sakit Melati. Keselamatan peserta kita cover melalui BPJS Ketenagakerjaan. Tanpa APBD, dukungan rumah sakit ini sangat luar biasa,” tambah Kaonang. (ari)