SATELITNEWS.COM, LEBAK – Langkah demi langkah terdengar pelan menyusuri jalan menanjak di Kampung Narimbang Dalam, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Di kanan kiri, pepohonan rindang menaungi jalur kecil yang membawa para peziarah menuju sebuah tempat doa yang selama puluhan tahun menjadi ruang hening bagi umat Katolik, yakni Goa Maria Bukit Kanada.
Tak ada hingar bingar kendaraan ataupun keramaian kota di tempat itu. Yang terasa justru suasana teduh, udara sejuk perbukitan, dan bisikan doa yang mengalun perlahan dari para peziarah yang datang membawa harapan masing-masing.
Di kawasan tersebut, umat biasanya memulai perjalanan rohani dengan menapaki Jalan Salib yang membelah area perbukitan. Setiap perhentian menjadi ruang permenungan tentang pengorbanan Yesus Kristus. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju groto dan Goa Maria untuk memanjatkan doa Rosario.
Pengelola Goa Maria Bukit Kanada, Bernardus Agus Irwan Syah (34) mengatakan, tempat ziarah itu lahir dari semangat devosi umat Katolik kepada Bunda Maria pada akhir tahun 1980-an.
Menurutnya, keberadaan Goa Maria Bukit Kanada bermula dari seruan Paus Yohanes Paulus II yang saat itu menetapkan Tahun Maria bagi Gereja Katolik sedunia pada 1987. Seruan tersebut kemudian menggerakkan umat Paroki Santa Maria Tabernaculum Rangkasbitung untuk membangun tempat doa khusus bagi penghormatan kepada Bunda Maria.
“Umat waktu itu berinisiatif membangun Goa Maria sebagai bentuk kecintaan dan devosi kepada Bunda Maria,” kata Bernardus kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Dengan semangat gotong royong, umat mulai membuka kawasan perbukitan di Narimbang Dalam untuk dijadikan lokasi ziarah. Meski fasilitas masih sangat terbatas pada masa itu, pembangunan terus dilakukan hingga akhirnya Goa Maria Bukit Kanada diresmikan pada 13 Mei 1988.
Tanggal tersebut memiliki arti penting bagi umat Katolik karena berkaitan dengan devosi kepada Bunda Maria Fatima.
Seiring berjalannya waktu, Goa Maria Bukit Kanada tak lagi hanya dikenal umat Katolik di Rangkasbitung dan Lebak. Kini, peziarah datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi hingga Lampung.
Popularitas tempat ziarah itu pun semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir setelah banyak peziarah membagikan pengalaman spiritual mereka melalui media sosial.
“Sekarang pengunjung memang semakin ramai. Banyak yang tahu tempat ini dari media sosial,” ujarnya.
Bagi banyak umat, Goa Maria Bukit Kanada bukan sekadar tujuan wisata religi. Tempat itu menjadi ruang untuk mencari ketenangan di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tekanan.
Tak sedikit peziarah memilih duduk berlama-lama di sekitar Goa Maria. Ada yang memejamkan mata dalam doa, ada pula yang menuliskan harapan dan pergumulan hidup mereka secara pribadi.
Mika Eko Priharjono (53), peziarah asal Solo, Jawa Tengah mengaku datang bersama keluarga besarnya yang kini tinggal di Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Momentum libur Kenaikan Yesus Kristus dimanfaatkan keluarganya untuk berkumpul sekaligus berziarah.
“Awalnya kami diajak ke sini karena lokasinya paling dekat. Tapi setelah datang, suasananya memang sangat mendukung untuk berdoa dan menenangkan hati,” katanya.
Dalam kunjungannya itu, Eko membawa sejumlah intensi doa bagi keluarganya. Ia berharap keluarganya mendapat jalan keluar atas berbagai persoalan hidup yang sedang dihadapi.
Selain itu, ia dan istrinya juga memanjatkan doa khusus bagi anak-anak mereka yang telah menikah agar segera diberikan keturunan.
“Kami memohon lewat perantaraan Bunda Maria supaya doa-doa keluarga kami bisa dikabulkan Tuhan,” ucapnya lirih.
Usai berdoa, Eko mengaku merasakan ketenangan batin yang sulit digambarkan.
“Tempat ini membuat hati lebih tenang. Rasanya seperti bisa lebih dekat dengan Tuhan dalam suasana hening,” tuturnya.
Setiap Bulan Maria pada Mei dan Bulan Rosario di Oktober, kawasan Goa Maria Bukit Kanada biasanya dipadati ribuan peziarah. Mereka datang secara pribadi maupun rombongan untuk menjalani devosi dan doa bersama.
Di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat, Goa Maria Bukit Kanada seolah menjadi tempat bagi umat untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Dari bukit sunyi di Lebak itu, doa-doa terus dipanjatkan, tumbuh bersama harapan, lalu mengalir perlahan di antara rindangnya pepohonan. (mulyana)