SATELITNEWS.COM, SERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, telah menelusuri Latiah, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi asal Carenang, yang tidak bisa pulang ke tanah air. Berdasarkan hasil penelusuran mereka, Latiah berangkat secara non prosedural oleh sponsor di Kota Serang.
“Setelah di cek, benar berangkat secara non prosedural, sponsor dari kota Serang,” kata Wakil Bupati (Wabup) Serang Najib Hamas, setelah berkomunikasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Serang, Rabu (21/1/2026).
Namun meskipun berangkat non prosedural, Najib mengaku, akan memberikan pendampingan terhadap pekerja migran Asal Desa Ragas Masigit tersebut. Selain itu, akan segera melakukan komunikasi dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran.
Soal sanksi untuk perusahaan atau sponsor, yang memberangkatkan Latiah, kata Najib, pihaknya akan melakukan konsultasi dengan pihak Kementerian sesuai kewenangannya.
“Nanti kita konsultasikan dengan pihak Kementerian sesuai kewenangannya. (Perusahaan yang memberangkatkan,red), masih di cek nama perusahaannya. Karena kalau non prosedur, sistem rekrutnya kaya sistem MLM,” tuturnya.
Selain itu, menurut Najib jika Pekerja Migran tersebut berangkat resmi, biasanya bertanggung jawab jika kondsi sakit seperti dirujuk perawatan di RS setempat.
Baca Juga: Wabup, Sekda Hingga Pejabat Eselon II dan Pokja Wartawan Kabupaten Serang Doa Bersama
Seperti diketahui, Latiah warga Desa Ragas Masigit, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, yang sedang mengadu nasib di Arab Saudi sebagai Pekerja Migran, tidak bisa pulang ke tanah air meski dalam kondisi sakit. Karena untuk bisa pulang, harus membayar biaya sebesar Rp40 juta kepada sponsor yang memberangkatkannya.
Dari video yang diterima oleh wartawan Satelitnews.com, saat ini Latiah mengaku berada di salah satu kantor Riyadh. Latiah diberangkat ke Arab Saudi oleh sponsor, bernama Harti dari PT Bahana. Namun Latiah sudah tidak kuat lagi bekerja, lantaran dalam kondisi sakit.
“Saya disini sakit, tidak kuat lagi bekerja, saya sakit pendarahan, dan sekarang saya sudah tiga bulan lebih di isolasi,” kata Latiah, dalam videonya.
Atas kondisi tersebut, Latiah pun memohon kepada Menteri Perlindungan Pekerja Migran untuk dapat membantu kepulangannya.
“Kepada Menteri Perlindungan Pekerja Migran, saya mohon bantuannya, saya pengen pulang ke Indonesia, mohon bantu saya untuk bisa pulang ke Indonesia,” ujar Latiah.
Sementara, Ayah dari Latiah, Apas mengatakan, anaknya tersebut pergi ke Arab tanpa seizin orang tua, melainkan izin terhadap suaminya. Namun katanya, sekarang suaminya tidak bertanggung jawab kabur entah kemana.
Baca Juga: Ingin Pulang, Pekerja Migran Asal Carenang Serang Ini Malah Diberi Syarat Memberatkan
“Anak saya sudah hampir satu tahun di Arab Saudi, dia di Arab Saudi pengen kerja pengen nafkahin suami dan orang tuanya, tapi dia pendarahan di kemaluannya di PT (perusahaan yang memberangkatkannya,red),” kata Apas.
Apas menuturkan, saat anaknya ingin pulang ke tanah air karena tidak bisa bekerja akibat pendarahan, pihak dari PT justru meminta uang sebesar Rp40 juta jika anaknya ingin pulang.
“Uang dari mana saya, uang buat makan sehari hari saja susah, jadi tolong ini mah bagaimana caranya usahakan supaya anak saya pulang. Anak saya sakit pengen pulang pengen, pulang saja,” ujarnya.
Sekretaris Desa Ragas Masigit, Dadi Andadi membenarkan adanya warga berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja sebegai pekerja migran tidak bisa kembali pulang ke tanah air. Dadi pun berharap, instansi terkait untuk dapat membantu proses pemulangan warganya.
“Semoga segera dibantu oleh lembaga terkait,” pungkasnya. (sidik)
























