SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Pilar Saga Ichsan menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menuntaskan persoalan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah. Bahkan, Pilar menjelaskan banjir yang terjadi beberapa hari terakhir di Tangsel relatif cepat surut. Rata-rata genangan berlangsung antara tiga hingga lima jam, dengan durasi terlama sekitar 10 jam dan ketinggian air berkisar 30 hingga 50 sentimeter.
Ia mengungkapkan, titik-titik banjir yang muncul merupakan lokasi yang memang sudah masuk dalam program penanganan tahun ini. Pilar menyebut, sebelumnya ketinggian banjir di beberapa lokasi bisa mencapai 1 hingga 1,5 meter, namun kini berangsur menurun.
“Tapi titik-titik banjir itu yang memang lagi ditangani di tahun ini juga untuk kita tuntaskan. Alhamdulillah yang tadinya banjir 1,5 meter, 1 meter dulu, sekarang kita mulai turun-turun,” ujarnya usai menghadiri rapat koordinasi di Kantor Gubernur, Ex BLKI, Jalan Kencana I Jelupang, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (26/1/2026).
Beberapa wilayah yang menjadi fokus penanganan antara lain Pondok Maharta, Ceger, serta sejumlah titik rawan lainnya. Jumlah titik banjir pun disebut jauh berkurang setelah adanya upaya yang dikerjakan.
“Sekarang kita mulai turun-turun dan titiknya juga dari 35 titik ya kita tadi yang terjadi banjir dan genangan itu di 13 titik ya. Nah ini yang sedang kita tangani, termasuk di Pondok Maharta, di Ceger, dan di beberapa titik lainnya,” klaimnya.
Untuk intervensi penanganan banjir tahun ini, Pilar menyampaikan Pemkot Tangsel masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur pengendalian air. Di antaranya penambahan pompa air, pembangunan long storage, turap, tandon air, serta penguatan saluran drainase.
Baca Juga: Pilar Saga Ichsan Beberkan Alasan Pencairan Hibah KONI Tangsel Ditunda
“Masih kita fokus terhadap penambahan pompa air, penambahan long storage, turap, dan juga tandon ya,” katanya.
Selain infrastruktur, Pilar juga menyoroti keberadaan bangunan liar di bantaran sungai yang dinilai turut memicu banjir karena menghambat aliran air. Menurutnya, penanganan bangunan liar harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan hukum.
“Sejauh bangunan liar itu menjadi prioritas karena mengganggu aliran sungai, ini yang kita tadi koordinasikan jangan sampai salah,” sebutnya.
Oleh karena itu, Pilar menekankan pentingnya koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian ATR/BPN, untuk menginventarisasi bangunan-bangunan yang berada di bantaran sungai.
“Mudah-mudahan itu tidak milik pribadi, jadi kita bisa lakukan penindakan, misalkan penataan. Tapi masalahnya ada juga beberapa bangunan yang pinggir sungai juga yang ada surat miliknya. Nah ini yang mungkin ke depan perlu ditindaklanjuti oleh kementerian terkait,” ungkapnya.
Ia menambahkan, menyempitnya daerah resapan air akibat pesatnya pembangunan perumahan turut memperparah risiko banjir. Karena itu, penataan dan penertiban bangunan di bantaran sungai dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang.
Baca Juga: Tinjau Proyek Turap di Tangsel, Pilar Saga Wanti-Wanti Soal Kualitas
“Karena kan sekarang semakin banyak perumahan-perumahan, artinya bahwa catchment area-nya semakin sempit. Nah ini penataan atau penertiban bangunan liar di bantaran sungai, ini menurut saya salah satu solusi. Tapi sejauh ini yang bisa dilakukan oleh pemerintah kota Tangerang Selatan tadi, pembangunan bronjong, peninggian turap, beton, lalu juga pompa air, long storage, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (eko)
























