SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Gubernur Banten Andra Soni mengklaim program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Provinsi Banten terus menunjukkan capaian signifikan. Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 6,4 juta warga Banten tercatat telah menjalani pemeriksaan kesehatan gratis.
Andra mengatakan, capaian tersebut merupakan akumulasi pemeriksaan yang dilakukan di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Banten. Ia menyebut Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi salah satu daerah dengan capaian tinggi.
“CKG sudah 6,4 juta lebih, ada satu fenomena baru masyarakat Banten mulai tidak takut memeriksakan kesehatannya, itu hal positif,” ujarnya saat meninjau program CKG di Kecamatan Pondok Aren, Senin (31/8).
Menurutnya, pelaksanaan CKG juga menunjukkan perubahan perilaku masyarakat. Warga dinilai mulai lebih terbuka untuk memeriksakan kondisi kesehatannya, termasuk mengetahui risiko penyakit yang mungkin dialami sebelum menimbulkan masalah lebih serius.
Andra menilai capaian tersebut tidak terlepas dari peran aktif pemerintah kabupaten dan kota. Sebab, pelaksanaan pemeriksaan kesehatan secara langsung lebih banyak dilakukan oleh pemerintah daerah melalui fasilitas kesehatan di wilayah masing-masing.
“Jadi agregat provinsi Banten hanya menerima saja, yang bekerja sebenarnya kan wali kota, bupati, makanya saya selalu ingin berkeliling dengan wali kota atau bupati. 6,4 juta itu akumulasi dari semua kabupaten kota,” sebutnya.
Baca Juga: Ribuan Pramuka Garuda Lebak Didorong Jadi Generasi Berkarakter
Khusus di Tangsel, capaian CKG telah mencapai sekitar 53 persen dari jumlah penduduk. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, angka tersebut setara dengan lebih dari 750 ribu warga. Andra mengatakan, dari pemeriksaan yang telah dilakukan, sejumlah risiko penyakit cukup banyak ditemukan, terutama hipertensi dan diabetes.
“Apa saja yang ditemukan, secara umum saya lihat hipertensi, dan diabetes. Jadi yang penting masyarakatnya tahu bahwa mereka punya potensi hipertensi, punya potensi diabetes dan silakan berkonsultasi di Puskesmas atau di fasilitas yang ada di wilayah masing-masing,” ungkapnya.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan bahwa hingga saat ini sekitar 53 persen penduduk Tangsel telah mengikuti program CKG. Benyamin menyebut selain hipertensi dan diabetes, pemeriksaan juga menemukan adanya warga yang menunjukkan gejala depresi.
“Itu ada beberapa penyakit yang menonjol, seperti tadi disampaikan hipertensi paling tinggi, kemudian juga diabetes, kemudian juga ada gejala depresi,” paparnya.
Menurut dia, pemerintah daerah telah menyiapkan tindak lanjut bagi warga yang ditemukan memiliki risiko gangguan kesehatan. Fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit akan menjadi bagian dari penanganan lanjutan.
Ia menambahkan, cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan di Tangsel telah mencapai lebih dari 99 persen sehingga masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan diharapkan dapat segera mengakses layanan kesehatan.
Baca Juga: Polda Banten Telusuri Informasi Viral Dugaan Penculikan Anak di Depan SDN 1 Bayongbong Pontang
“Depresi kebanyakan anak-anak, enggak terlalu banyak sih, tapi ditemukan gejala seperti itu, gitu,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar merinci capaian CKG berdasarkan data Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) hingga 29 Agustus 2026. Dari sekitar 1,4 juta penduduk Tangsel, sebanyak 753.537 orang atau sekitar 53 persen telah menjalani CKG.
Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan sejumlah warga yang masuk kategori berisiko terhadap berbagai gangguan kesehatan. Di antaranya 3.160 orang berisiko hipertensi, 364 orang berisiko penyakit jantung, serta 2.387 orang menunjukkan gejala depresi.
“Memang dari CKG tersebut ditemukan risiko. Artinya risiko untuk tekanan darah itu, ada hipertensi 3.160, kemudian risiko jantung 364, gejala depresi 2.387,” jelas Allin.
Ia menjelaskan, program CKG terdiri atas pemeriksaan kesehatan masyarakat umum dan pemeriksaan kesehatan di sekolah. Karena itu, temuan gangguan kesehatan tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa, tetapi juga ditemukan pada remaja. Untuk hipertensi, kata Allin, temuan tersebut cenderung tersebar di seluruh wilayah Tangsel dan tidak terkonsentrasi di satu kecamatan tertentu.
“Hampir rata. Hampir rata semua, dan itu pada usia produktif malah,” katanya.
Selain penyakit fisik, CKG juga melakukan skrining sederhana terhadap kondisi kesehatan mental, khususnya pada kelompok usia sekolah. Allin mengatakan, skrining tersebut dilakukan melalui sejumlah pertanyaan sederhana mengenai kondisi psikologis seseorang dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya berkaitan dengan rasa cemas, kekhawatiran terhadap masa depan, hingga gangguan tidur.
“Ini adalah skrining sederhana dengan menanyakan enam pertanyaan. Salah satunya apakah dua minggu terakhir merasa gelisah terhadap hal-hal yang belum terjadi atau merasa khawatir,” jelasnya.
Dari hasil skrining terhadap pelajar tingkat SMA, ditemukan 629 remaja yang masuk kategori depresi ringan. Namun, Allin menegaskan, hasil tersebut bukan berarti para remaja tersebut telah mengalami gangguan depresi yang membutuhkan pengobatan. Temuan itu merupakan indikasi risiko yang perlu ditindaklanjuti melalui edukasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut Allin, faktor yang muncul dari jawaban para remaja antara lain kekhawatiran terhadap masa depan dan tekanan akademik. Karena itu, Dinas Kesehatan akan membutuhkan kolaborasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui penyebab dan memberikan pendampingan yang sesuai.
“Jadi ini adalah sebenarnya sesuatu yang butuh kita lakukan edukasi ya gitu. Jadi bukan apakah itu sudah mulai minum obat? Enggak. Ini hanya risiko ya, risiko depresi. Artinya ya tadi risiko-risikonya itu tadi misalnya gangguannya oh gangguan tidur, kita mesti cari tahu kan kenapa dia tidurnya terganggu. Tentu ini adalah butuh kolaborasi antara kami dengan pihak sekolah juga gitu supaya nanti bisa mengatasi masalah tersebut,” pungkasnya. (eko)
























