SATELITNEWS.COM, LEBAK–Libur Lebaran yang seharusnya menjadi momen gembira, justru berubah menjadi petaka di pesisir selatan Kabupaten Lebak. Sepanjang Idulfitri 1447 Hijriah, tercatat hampir 40 kasus kecelakaan laut terjadi di kawasan wisata pantai, dengan dua wisatawan dilaporkan meninggal dunia.
Gelombang tinggi dan arus kuat memang menjadi ancaman. Namun faktor kelalaian pengunjung disebut menjadi penyebab utama tingginya insiden tersebut. Ketua Balawista Kabupaten Lebak, Erwin Komara Sukma, mengungkapkan sebagian besar korban merupakan wisatawan yang nekat berenang di zona berbahaya meski sudah diperingatkan. “Sudah ada bendera merah, sudah diimbau petugas, tapi masih banyak yang mengabaikan,” ujarnya melalui sambungan teleponnya, Minggu (29/3/2026).
Dari dua korban meninggal, satu di antaranya wisatawan asal Pandeglang yang terseret ombak di Pantai Sawarna. Korban sempat diselamatkan dan mendapatkan penanganan medis, namun nyawanya tak tertolong.
Sementara korban lainnya, wisatawan asal Depok, hilang setelah terseret ombak di Pantai Pulau Manuk. Hingga kini, tim SAR masih melakukan pencarian, meski peluang keselamatan dinilai semakin kecil seiring lamanya waktu. “Sudah hampir empat hari pencarian. Kita tetap berupaya maksimal,” kata Erwin.
Puluhan kejadian laka laut tersebut tersebar di sejumlah titik rawan, mulai dari kawasan Sawarna hingga Pulau Manuk. Meski banyak korban berhasil diselamatkan, tingginya angka kejadian menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Balawista menegaskan, pengawasan di lapangan telah dilakukan secara maksimal. Namun, kesadaran wisatawan dinilai masih rendah, terutama dalam mematuhi rambu keselamatan.
Baca Juga: Nelayan di Lebak Diduga Hilang di Laut Usai Nyalakan Genset
Pantai-pantai di Lebak selatan seperti Ciantir, Goa Langir, Pasir Putih Ciara, dan Karang Seke diketahui memiliki karakter ombak besar dan arus kuat yang berisiko tinggi. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Keselamatan juga tergantung kepatuhan wisatawan. Jangan abaikan peringatan,” tegasnya. Balawista pun mengimbau pengunjung agar tidak memaksakan diri berenang di area terlarang demi menghindari kejadian serupa terulang kembali. (mulyana)

















