SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Timnas Jerman menang tipis 2-1 atas Ghana di laga uji coba. Deniz Undav jadi penentu kemenangan Nationalelf berkat golnya di menit akhir laga. Jerman vs Ghana pada laga uji coba berlangsung di MHP Arena, Selasa (31/3/2026). Jerman tampil menekan sejak menit awal laga.
Florian Wirz hampir memecah kebuntuan di menit kelima. Tendangannya dari tembakan bebas masih menepa tiang gawang, Nico Schlotterback yang maju membantu serangan mendapatkan peluang. Ia bisa menanduk kiriman bola dari Joshua Kimmich, Sundulannya masih bisa diamankan kiper Ghana, Benjamin Asare.
Pada menit akhir babak pertama, Jerman mendapatkan hadiah penalti. Wasit menunjuk titik putih akibat Jonas Adjetey handball saat memblok tembakan Angelo Stiller. Kai Havertz yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan baik. Sepakannya ke arah kiri gawang mengecoh Asare di menit ke-45+3. Skor 1-0 untuk Jerman menutup babak pertama.
Ghana bisa menyamakan kedudukan selepas jeda. Derrick Kohn menusuk dari sisi kiri. Kohn bisa menembus kotak penalti lalu melepas umpan tarik. Bola langsung disambar Abdul Fatawu jadi gol di menit ke-70.
Dua menit sebelum laga tuntas Deniz Undav mengembalikkan keunggulan tuan rumah. Gol lahir dari kombinasi apik pemain Jerman. Leroy Sane menanduk bola memantulkannya ke Undav. Undav mampu menyontek bola untuk jadi gol di menit ke-88. Lenart Karl mengancam di menit akhir laga. Tembakannya dari luar kotak penalti tapi masih bisa diamankan Asare. Skor 2-1 untuk Jerman mengakhiri laga.
Kemenangan ini tidak sepenuhnya membuat Julian Nagelsmann tersenyum lebar. Pelatih Die Mannschaft tersebut melihat ada celah besar yang bisa mengancam ambisi mereka di panggung dunia.
Ia merasa anak asuhnya mulai bermain di luar skema yang telah disepakati. Hal ini dianggap sebagai risiko besar yang tidak perlu diambil oleh tim sekaliber Jerman. “Karena permainan berjalan sangat, sangat baik, kami menjadi agak tidak sabar dan berhenti mempertahankan posisi. Terjadi banyak freestyle lagi, persis seperti saat melawan Swiss. Dan terkadang kami tidak cukup aman saat memegang bola untuk melakukan freestyle semacam itu,” ungkap Julian Nagelsmann.
Nagelsmann memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai kritikannya terhadap gaya bebas para pemain. Ia menegaskan bahwa tidak semua pemain di skuadnya cocok dengan gaya bermain yang berpindah-pindah posisi secara liar.
Beberapa pemain justru tampil jauh lebih efektif saat mereka terpaku pada peran aslinya. Kedisiplinan struktur ini dianggap kunci untuk menjaga keseimbangan tim, terutama dalam fase transisi.
Pelatih berusia 38 tahun itu juga mengingatkan faktor eksternal yang akan mereka hadapi di Amerika Serikat nanti. Suhu udara yang tinggi menuntut efisiensi energi yang maksimal dari setiap pemain.
Struktur yang kacau memaksa pemain berlari lebih jauh untuk menutup lubang. Hal ini dianggap sebagai pemborosan tenaga yang bisa berakibat fatal di turnamen resmi. “Tim ini mempersulit diri mereka sendiri. Anda bisa mencegah tujuh atau delapan dari sepuluh serangan balik jika Anda tetap disiplin dalam struktur,” kritiknya.
Meskipun memuji gairah menyerang timnya, Nagelsmann meminta anak asuhnya untuk tidak terburu-buru mengunci kemenangan. Ia lebih memilih gol yang lahir di menit akhir daripada harus kebobolan banyak gol akibat kecerobohan taktik. (dm)